LISA part 02

Pagi-pagi sekali Lisa menemuiku di teras mess.

“Minggu depan aku mau ke kota. Ada keperluan keluarga sedikit,” katanya. Minggu depan? Tiba-tiba saja aku tersadar bahwa minggu depan aku juga harus ke kantor cabang di kota untuk mengambil gaji dan keperluan camp lainnya. Aku tersenyum sendiri.
“Kalau begitu kita sama-sama saja. Aku juga harus ke kota. Biasa mengambil jatah,” kataku.
Ia merengut, “Jatah yang mana lagi maksudmu. Bukannya tadi malam kamu sudah ambil. Kamu masih mau main lagi dengan pelacur-pelacur di kota?”

Aku terkejut, mengapa ia jadi sensitif begini. Mungkin masih ada perasaan kecewa karena gairahnya tadi malam belum tersalurkan.

“Jangan marah-marah terus. Aku ke kota ambil gaji karyawan dan keperluan camp”. Sekejap kemudian ia langsung tersenyum dan raut mukanya menjadi cerah.
“Asyik dong. Kita bisa sama-sama di kota,” katanya sambil memonyongkan mulutnya.
“Tapi ketemunya di mana?” tanyanya lagi.
“Gampang saja. Nanti kamu telpon ke kantorku atau ke mess kalau malam dan kita bisa bikin janji”.
“Baiknya aku mengaku siapa nanti kalau telepon ke kantor?” tanyanya lagi. Gara-gara semalam nggak puas makanya perempuan ini jadi agak telmi, aku menggerutu dalam hati.
“Bilang saja kalau kamu tanteku. Tante girang.. Gitu,” jawabku asal-asalan.
“Jangan begitu,” tiba-tiba nada suaranya berubah menjadi tinggi.
“Sorry, sorry. Bukan itu maksudku. Bilang saja Lisa atau siapa saja nggak masalah”.

Akhirnya tiba harinya aku turun ke kota. Lisa sudah berangkat kemarin dengan kapal sungai. Dari lokasi kerjaku menuju ke kota memang hanya bisa ditempuh dengan menggunakan kapal sungai. Nantinya kalau proyek yang sekarang dikerjakan perusahaanku dengan beberapa perusahaan lain telah selesai barulah tembus jalan darat ke kota.

Sesampai di kota, aku segera menyelesaikan urusan-urusanku menyangkut laporan penggunaan dana dan pengajuannya, progress report pekerjaan dan detail lainnya yang diperlukan.

Malamnya Lisa menelponku dan ia sudah booking kamar sebuah hotel kelas menengah untuk kota ini. Ia bilang akan menunggu di sana jam delapan. Jam delapan kurang lima aku sudah berada di muka pintu kamarnya. Kuketuk tiga kali dan kudengar suara kunci diputar. Lisa sudah berada di depanku dan akupun segera masuk ke dalam kamar. Sebuah kamar yang cukup nyaman dengan pandangan ke arah bukit di kejauhan.

Ia mengenakan gaun tidur yang tipis sehingga pakaian dalam dan lekuk tubuhnya membayang jelas. Kakinya mengenakan stocking hitam. Aku duduk di tepi ranjang, sementara Lisa di belakangku berdiri di atas lututnya dan mulai menciumi tengkuk dan telingaku. Aku kegelian dan sekaligus terangsang. Aliran hangat mulai menjalar di sekujur tubuhku.

Tangannya kupegang, kuputar tubuhnya dan kutarik ke tubuhnya ke pangkuanku. Kucium bibirnya dengan ganas. Lisa meronta sebentar tapi kemudian ia membalas ciumanku dengan tidak kalah ganasnya.

“Anto.. Ah.. Ehh .. Ouhh”, Ia gelagapan membalas ciumanku.

Aku terkejut ketika tangannya meremas penisku yang mulai menggembung di balik celana panjangku. Aku tersenyum sambil mencolek payudaranya.

Tangannya membuat beberapa gerakan dan gaun tidur yang dikenakannya sudah merosot ke pinggangnya. Tangannya kemudian membuka BH-nya dan menyodorkan dadanya ke depan mukaku. Tanpa menunggu lagi aku langsung meremas payudaranya dengan penuh nafsu. Payudaranya berbentuk bulat dan terasa kencang seperti milik gadis dua puluh tahunan. Tangannya kemudian membuka kausku. Aku menciumi payudaranya dan menghisap putingnya yang berwarna coklat muda dan mulai mengeras. Tangan Lisa membelai rambutku sambil sesekali mendekap kepalaku ke payudaranya.

Aku menggunakan jariku untuk membelai daerah selangkangannya, dan jariku juga mulai menekan terutama di belahan vaginanya. Tangan Lisa menggesek penisku yang semakin mengeras.

“Aah.. To.. Sss.. Enak.. Teruss.. Anto.. Ahh”

Mendengar erangan Lisa nafsuku sudah tidak dapat ditahan lagi. Aku merebahkan diri sambil menciumi leher Lisa dan terus naik ke bibirnya. Kubuka celana panjang dan kemudian celana dalamku. Aku terus menciumnya dengan penuh nafsu, kutindih tubuhnya di atas ranjang yang empuk. Badanku yang besar seolah-olah menenggelamkan badannya yang kecil mungil. Sambil mendesah Lisa berkata.

“Ahh.. Awas kalau keluar duluan lagi..”

Kulepaskan gaun tidur dan sekaligus dengan celana dalamnya.

“Akhh..” ia meronta-ronta dengan pelan.

Kami saling mengulum bibir dengan penuh nafsu, nafas kami mulai tidak teratur. Kaki Lisa menjepit pinggangku Aku menciumi leher kemudian turun ke payudaranya, aku sedot putingnya sampai mengeluarkan bunyi. Kemudian bibirku turun dan menggelitik pusarnya. Lisa tidak tahan dengan perlakuanku, badannya bergerak-gerak tak teratur menahan gel.

“Anto.. Akh.. Geli akh.. Basah..”.

Aku terus menciumi perutnya, lalu turun dan saat sampai di depan selangkangannya aku menurunkan kepalaku, menjilati paha dan sesekali menggigitnya. Lisa mengganjal kepalanya dengan bantal dan mengamatiku. Ketika mulutku mulai menyapu vaginanya ia menekan kepalaku dan menjepit dengan pahanya.

Kuusap betisnya yang tertutup stocking hitam. Sudah lama aku memiliki fantasi bercinta dengan wanita yang memakai stocking. Kini obsesiku terpenuhi. Kugelitik klitorisnya dengan lidahku. Ia mengejang lembut dan dinding vaginanya ikut berdenyut bereaksi menyambut aksi lidahku. Jari tengah kananku kumasukkan ke dalam saluran vaginanya dan ujungnya kugerak-gerakkan menggelitik dinding rahimnya. Ia semakin keras mengerang. Tangannya meremas tepi spring bed di atas kepalanya.

“Anto.. Sudah To. Cukup.. Sudah, aku menyerah.. Ayo.. Cepat masukkan.. Lakukan sekarang.. Ouuhh,”

Kuhentikan rangsangan pada vaginanya dan aku bergerak menindihnya. Penisku kuarahkan ke vaginanya yang basah, kutekan perlahan dan ketika kepalanya sudah masuk seluruhnya maka aku menekan pantatku dengan keras.

“Sshh.. Akhh.. Terus To.. Akh..”, Lisa merintih

Bibir kami saling bertautan dengan kuat. Ketika kulepaskan ciumanku maka justru bibirnya mencari-cari bibirku. Mulutnya setengah terbuka sambil mendesis-desis. Aku menggerakkan penisku dengan perlahan dan sesekali dengan tempo cepat. Rasanya penisku dijepit dan diremas-remas oleh tangan yang kuat membuat penisku rasanya akan meledak.

Aku terus memompa penisku di vaginanya dengan tempo yang bertambah cepat. Nafasku mulai memburu. Payudaranya kuremas dan kupencet sehingga putingnya menonjol. Kujilati putingnya dan kugigit-gigit dengan bibirku. Aku menghentak tubuh Lisa ke ranjang dengan kasar saat pinggulnya membuat gerakan memutar.

“Lisaa.. Lis.. Akh.. Ouch.. Akh..”.

Kurasakan tubuh Lisa juga mulai bergetar dan bergerak-gerak dengan irama yang liar. Matanya setengah terbeliak, bola matanya memutih. Kakinya menjepit pinggangku tubuhnya beberapa kali mengejang lembut dan kutekan tubuh Lisa hingga tubuh kami semakin merapat.

“Akh.. Anto.. Nikmat sekali.. Sss”
“Yeah Lissaa.. Akh. Kalau saja aku tahu dari dulu di camp.. Pasti aku..”
“Akh.. Tekan yang cepat dan kuat.. Akh..”

Mata Lisa kini terpejam menikmati sodokan penisku. Aku kemudian mengangkat kedua kakinya dan memegangnya dengan tanganku. Aku dalam posisi setengah berlutut, tanganku memegang pinggangnya dan penisku menekan dengan irama yang semakin cepat. Vaginanya terasa basah dan becek, namun penisku bagaikan dijepit tangan perkasa.

“Akgh Anto.. Aku hampir.. Aakkhhu.. Hampir keluarhh.. Ouchhgg.. Akhh”.

Kurebahkan tubuhku di atas tubuhnya dan kupeluk dengan rapat. Aku menikmati ekspresinya menunggu saat Lisa mencapai orgasmenya. Kudiamkan sejenak gerakan penisku. Lisa meracau dan tangannya memegang pinggangku serta menggerakkannya naik turun. Aku masih ingin menikmati permainan dan kuharapkan dapat kucapai puncak bersama-sama.

Aku mengehentakkan pantatku naik turun dengan sedikit kasar. Keringat kami sudah mulai bercucuran. Tangan Lisa meremas-remas pantatku dan kadang menariknya seolah-oleh penisku kurang dalam masuk dalam vaginanya. Saat aku merasakan hampir meledak aku melambatkan gerakanku dan mengatur nafasku sambil menghisap putingnya, ketika perasaan itu sedikit hilang aku mulai bergerak lagi.

Tangannya meremas rambutku dan dengan liar bibirnya mencari bibirku. Dia mendesah dengan gerakan yang sangat liar. Kini saatnya kami mencapai puncak kenikmatan bersama-sama.

“Yeah.. Anto.. Akhh. Ayo.. Kamu belum mau keluar juga.. Akhh ouchh. Aku sudah..” Lisa mengejang. Ia mengangkat pantatnya dan kutekan penisku sehingga rasanya mentok sampai di dasar rahimnya. Penisku serasa disedot sebuah pusaran kuat. Tubuh Lisa melengkung dan tangannya mengusap pipiku dengan kuat. Kutekan pantatku perlahan namun penuh tenaga.

“Yeacchchh..”.

Tubuh kami menggelinjang bersama dengan hebat, kami berteriak dan tidak perduli jika orang lain di luar kamar mendengarnya

“Akhh.. To.. Anto.. Aakkhh..”.
“Lisa kamu hebathh.. Akh.. Ouchhakhh.. Akh.. Ouch..”

Kami mengelepar menikmati kenikmatan yang kami rasakan bersama. Kakinya membelit betisku dan mengencang. Kurasakan gesekan kakiku dengan stokingnya yang halus membuat kenikmatan yang ada menjadi lebih lagi. Kucium bibirnya lagi dengan ganas. Tangannya terangkat dan berada sejajar dengan kepalanya.

Aku mengangkat tubuhku dari atas tubuhnya saat penisku mulai mengecil dan terlepas dari vaginanya. Tubuhnya merinding bergetar saat aku mencabut penisku.

“Nikmat sekali To. Coba begini saat di camp dulu. Pasti aku tidak akan marah-marah”.
“Ya, kamu kan maklum dengan situasi dan kondisi waktu itu”.

Kulepas stokingnya perlahan dan kuletakkan begitu saja di dekat perutnya. Kuangkat tubuh mungilnya dan kugendong ke kamar mandi. Aku di belakangnya memeluk tubuhnya sambil menyabuni dada, perut dan selangkangannya.

“Aku ingin babak berikutnya dengan variasi lainnya,” katanya dengan nada genitnya yang khas. Doggie style jelas merupakan variasi yang menambah kenikmatan.

Selesai mandi kami kemudian saling mengeringkan tubuh. Ketika ia mengeringkan selangkanganku, kenakalannya mulai timbul. Dikocoknya penisku dan mulutnya lansung mengulum penisku yang masih kedinginan. Penisku baru setengah berdiri dan Lisa menghentikan aksinya.

“Sekedar pemanasan. Extra show untuk ronde kedua, tapi kita istirahat dulu sebentar khan? Aku masih lelah sekali. Kamu liar tanpa aturan”.
“Kalau lambat-lambat, nanti kamu marah lagi. Katanya kurang gelisah”.

Kami berbaring sambil mengobrol.

“Anto aku mau tanya serius sekarang,” katanya.
“Apaan?”
“Kalau misalnya aku cerai, kamu mau mengawiniku? Aku mau hidup tenang berkumpul dengan suami di rumah”.

Alamak, lemas aku mendengarnya. Kuusap-usap bahunya.

“Bagaimana?” desaknya.
“Apanya?” tanyaku pura-pura bloon.
“Itu tadi. Aku bercerai dan kita kawin,” katanya mantap.
“Tadi sudah dan sebentar lagi kita juga kawin,” isengku mulai timbul.
“Kamu diajak ngomong serius, malahan bercanda terus. Tapi aku merasa kalau kamu hanya ingin untuk sekedar senang-senang saja”.
“Kita lihat saja nanti,” jawabku. Hanya sekedar untuk menghentikan segala omong kosong ini.

Ia menatapku dan merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Bibirnya mengecup bibirku dengan lembut kemudian ke bawah sampai di leherku. Kuciumi telinganya dan kuhembuskan napasku dekat telinganya. Ia menggelinjang kegelian. Detak jantung mulai meningkat. Ia terus menciumi dadaku. Kurasakan buah dadanya menekan lenganku. Kenyal dan padat.

Kugerakkan kepalaku ke punggungnya kuciumi punggungnya yang mulus. Buah dadanya kuremas dengan tanganku. Kubalikkan tubuhnya dan ia segera menindih tubuhku. Payudaranya terlihat sangat putih, kencang dan padat dengan putingnya yang kecil berwarna coklat muda menggantung di atas dadaku. Putingnya yang coklat muda tidak sabar menunggu untuk dikulum. Payudara kiri kuisap dan kujilati, sementara sebelah kanannya kuremas dengan tangan kiriku. Kulakukan demikian berganti-ganti. Tangan kiriku mengusap-usap rambut dan tengkuknya dengan lembut.

Lisa mengerang dan merintih ketika putingnya kugigit.

“Upps.. Lagi Anto. Ououououhh.. Nghgghh, Anto ayo teruskan lagi.. Ouuhh.. Anto”

Payudaranya kukulum habis. Lisa menggoyangkan kepalanya dan mencium leherku sampai ke dekat tengkuk. Akupun sudah tidak tahan. Senjataku sudah siap untuk masuk dalam babak ke dua.

Mulutnya terus bergerak ke bawah dan kini Lisa mengisap-isap buah zakarku dan menjilati batang penisku. Kupalingkan mukaku ke samping dan kugigit ujung bantal.

Tiba-tiba penisku mengencang dengan sendirinya hingga condong mendekati permukaan perutku ketika lidah Lisa mulai menjilat kepalanya. Kukencangkan otot perutku sehingga penisku juga ikut bergerak dan berdenyut-denyut.

“Hmm.. Luar biasa nikmat,” komentar Lisa sambil terus melakukan aktivitasnya. Kuangkat kepalaku dan kuperhatikan Lisa sedang asyik menjilat, menghisap dan mengulum penisku. Kadang-kadang ia melihat ke arahku dan tersenyum genit.
Lisa melepaskan kepalanya dari selangkanganku dan bergerak naik ke tubuhku. Bibirnya menyambar bibirku. Kubalas dengan ganas dan kusapukan lidahku pada bibir dan masuk dalam rongga mulutnya. Lidah kami kemudian saling memilin dan mengisap. Tanganku mengembara ke selangkangannya dan kemudian jari tengahku masuk menerobos liang kenikmatannya sampai menemukan tonjolan kecil di dinding atas sebelah depan. Lisa meremas dan mengocok penisku. Penisku semakin menegang dan mengeras.

“Ouououhhkk.. Nikmatnya.. Puaskan aku lagi,” ia memohon dengan suara tertahan.

Kemudian tangannya mengurut dan menggenggam erat penisku. Kurasakan pantat dan pinggulnya bergoyang menggesek penisku. Dan tanpa kesulitan kemudian kepala penisku masuk ke dalam gua kenikmatannya. Terasa lembab dan licin. Kurasakan dinding guanya semakin berair membasahi penisku.

“Akhh Anto ayo kita sama-sama nikmati lagi.. Oukkhh”.

Kujilati lehernya dan bahunya. Ia terus menggoyangkan pantatnya sehingga sedikit demi sedikit makin masuk dan akhirnya semua batang penisku sudah terbenam dalam vaginanya.

Lisa bergerak naik turun untuk mendapatkan kenikmatan. Kadang gerakan pantatnya berubah menjadi maju mundur. Gerakannya mulai dari perlahan menjadi cepat dan semakin cepat. Ia mengubah gerakannya menjadi ke kanan ke kiri dan berputar-putar. Pantatnya naik agak tinggi sehingga hanya kepala penisku berada di bibir guanya dan kemudian berkontraksi mengurut kepala penisku. Kontraksi otot vaginanya membuat penisku seperti diremas dan diurut.

Ia menggesek-gesekkan bibir guanya pada kepala penisku sampai beberapa kali dan kemudian dengan cepat ia menurunkan pantatnya hingga seluruh batang penisku tenggelam seluruhnya. Ketika batang penisku terbenam seluruhnya badannya bergetar dan kepalanya bergoyang ke kanan dan kekiri. Napasnya berat dan terputus-putus.

Kuisap putingnya yang sudah keras. Gerakannya semakin liar dan cepat. Tanganku memeluk punggungnya dengan erat sehingga tuuh kami semakin merapat. Ia juga memeluk diriku rapat-rapat. Kini gerakannya pelan namun sangat terasa. Pantatnya naik ke atas sampai kemaluanku hampir terlepas, dan ia menurunkan lagi dengan cepat dan kusambut dengan gerakan pantatku ke atas. Kembali penisku menembus guanya. Ia merinding dan menggelepar. Tangannya meremas rambutku, memukul dan mencakar dadaku. Punggungnya melengkung ke atas menahan rasa nikmat. Mulutnya meracau, mendesah dan mengerang dengan kata-kata yang tidak jelas.

“Anto.. Ouhh Anto, aku mau dapat, aku tidak tahan mau kelu.. Ar,” desahnya.

Aku semakin keras menyodok vaginanya dari bawah. Aku belum ingin keluar, tetapi biarlah ia kuberikan babak tambahan

“Sshh.. Shh.. Anto sekarang ouhh.. Sekarang” ia memekik. Tubuhnya mengeras, merapat di atasku dan kakinya membelit betisku. Pantatnya ditekan ke bawah dengan keras dan vaginanya menjadi sangat basah hingga terasa licin.

Tubuh Lisa mulai melemas. Keringatnya menitik di sekujur pori-porinya. Kemaluanku yang masih menegang tetap dibiarkan di dalam vaginanya.

“Terima kasih. Ini yang kucari. Kau sungguh jantan sekali. Aku puas denganmu. Berikan aku istirahat sebentar, lalu..,” ia berbisik di telingaku.

Kusambar bibirnya dengan bibirku dan kugulingkan ke samping. Penisku yang belum menuntaskan tugasnya tentu saja masih keras dan siap masuk dalam babak tambahan.

“Sudahlah sayang, biarkan aku istirahat dulu sebentar saja..”

Aku tidak mendengarkan permintaanya, dan kini kugenjot vaginanya sampai berbunyi. Ia diam saja saja sambil memulihkan tenaga. Vaginanya terasa sangat basah dan licin. Kucabut penisku dan kuambil selimut untuk mengelap vaginanya supaya lebih kering. Aku naik lagi ke atas tubuhnya. Kembali kuarahkan moncong penisku ke sasaran. Kuangkat kedua kakinya dan kurenggangkan pahanya. Dengan tenaga penuh kudorong pantatku dan langsung kugenjot dengan tempo perlahan. Dalam keadaan dinding vagina kering kembali vaginanya memberikan kenikmatan yang maksimal.

Setelah beberapa menit Lisa kembali bangkit gairahnya. Iapun kemudian mengimbangi gerakanku dengan gerakan pinggulnya. Diganjalnya pantatnya dengan bantal sehingga kemaluannya menonjol agak naik. Kami berciuman dengan penuh gairah. Kaki kami saling menjepit dengan posisi silang, kakiku menjepit kaki kirinya dan kakinya juga menjepit kaki kiriku. Dalam posisi seperti ini dengan gerakan yang minimal dapat memberikan kenikmatan optimal, sehingga sangat menghemat tenaga.

Kami makin terbuai dalam kenikmatan akibat gerakan kami masing-masing. Kini kedua kakinya menjepit kakiku. Ia memutar-mutar pinggul dan membuat gerakan naik turun. Aku meremas, memilin serta mengisap payudaranya.

“Ouh.. Achch.. Mmmhh.. Ngngngnhhk,” Lisa mendesah tertahan.

Kugenjot pinggulku naik turun dengan irama tertentu. Kadang cepat kadang sangat lambat. Setiap gerakanku kubuat pinggulku naik agak tinggi sehingga penisku terlepas dari vaginanya, lalu kutekan lagi. Setiap penisku dalam posisi masuk, menggesek bibir vaginanya ia terpekik kecil.

Kakinya bergerak dan kedua kakinya kujepit dengan kedua kakiku. Dalam posisi begini aku hanya menarik penisku setengah batang saja. Aku tidak dapat menarik sampai keluar karena pasti sulit untuk memasukkannya lagi. Namun dalam posisi demikian jepitan dari dinding vaginanya jadi sangat terasa.

“Oohh.. Berubah To. Doggie.. Too” ia melenguh panjang.

Kucabut penisku dan ia berbalik. Aku turun dan berdiri di sisi ranjang. Aku akan menggenjotnya dalam posisi berdiri. Pantatnya naik menantangku, kepala dan dadanya merapat di atas ranjang. Kurenggangkan pahanya dan kubawa kemaluanku ke vaginanya. Tak lama kemudian penisku sudah menyusup dalam vaginanya. Iapun mendorongkan pantatnya ke arahku.

Kupegang kedua sisi pinggangnya dan kugerakkan seirama dengan gerakan pantatku. Kucabut penisku lagi dan kususupak kepalanya di bibir vaginanya, kemudian kukencangkan otot PC ku. Akibatnya ketika kukencangkan otot PC ku, maka penisku mendongak dan seolah mencongkel vaginanya.

“Ouuww.. Nikmat.. Ahh lagi Tokk.. Bawa aku ke bulan jantanku yang perkasa!”

Kuulangi beberapa kali sampai ia menjerit-jerit minta ampun. Pantatku kudorong kembali dalam gerakan maju mundur berirama. Kini tangannya menahan berat tubuhnya. Payudaranya yang menggantung bebas bergerak ke sana kemari setiap aku menyodoknya. Kujulurkan tanganku untuk meremas dan memilin putingnya.

“Gimana Lis, puas?”

“Ouhh.. Aku tak sangka kau begini hebat. Sewaktu di camp kupikir kamu hanyalah sebangsa ayam sayur”.

Kami mengubah posisi lagi, kembali dalam posisi konvensional. Kedua kakinya kuangkat ke atas bahuku. Dengan bertumpu pada tangan kuberikan gerakan seperti orang melakukan push-up.

“Antoo.. Ouhh nikmat sekali, hebat sekali permainanmu..”

Kuperkirakan sudah kurang lebih setengah jam kami memainkan babak tambahan ini. Tenagaku sudah mulai berkurang sehingga kuputuskan untuk segera mencapai puncak. Kupercepat gerakanku dan gerakannya juga semakin liar.

Aku menggeser tubuhku sedikit ke arah kepalanya. Penisku kini menggesek dinding atas vaginanya. Gesekan kulit penisku dengan klitorisnya terasa sangat nikmat. Terasa helm bajaku seperti tersangkut ketika kutarik ke belakang.

Deritan ranjang, erangan, bunyi paha beradu dan kata-kata yang tidak jelas seakan-akan berlomba memenuhi kamar. Tubuh kami sudah basah oleh keringat yang membanjir. Dinginnya AC kamar tak terasa lagi. Yang kami rasakan hanyalah panasnya gairah untuk menuju puncak kenikmatan. Kurasakan ada aliran yang menjalar dalam penisku. Inilah saatnya akan kuakhiri permainan ini. Lisa terengah-engah menikmati kenikmatan yang dirasakannya.

“Lisa.. Lis sebentar lagi aku mau keluar..”

Gerakanku semakin cepat hingga seakan-akan tubuhku melayang. Lututku mulai sakit.

“Ayolah Anto aku juga mmau kkel.. Uar. Kita sama-sama sampai”.

Ketika kurasakan aliran pada penisku tak tertahankan lagi maka kurapatkan tubuhku ke tubuhnya dan kulepaskan kakinya dari atas bahuku. Kakinya mengangkang lebar. Kuhunjamkan pinggulku dalam-dalam sambil memekik tertahan.

“Lisa.. Ouh .. Ayo.. Sekarang.. Sekarang”.
“Ouh Anto aku.. Juga.. Keluar.. Lakukan”.

Kakinya membelit kakiku, kepalanya mendongak dan pantatnya diangkat. Kurasakan denyutan dalam vaginanya sangat kuat. Kutembakkan lahar panasku sampai beberapa kali. Giginya dibenamkan dalam di bahuku sampai terasa pedih. Napas kami masih ngos-ngosan. Kucabut penisku dan aku menggelosor di sampingnya. Tangannya memeluk lenganku dan jarinya meremas jariku. Mulutnya mengucapkan kata-kata penuh kenikmatan. Kepalanya masih menggeleng-geleng. Mungkin masih ada sisa-sisa aliran kenikmatan yang dirasakannya.

Selama tiga malam di kota, aku benar-benar dipuaskan dengan permainannya. Ketika kembali ke camp rasa percaya diriku timbul kembali dan ketika keadaan rumahnya aman terkendali aku bisa berpacu dengannya. Ada memang bisik-bisik tentang hubungan kami yang beredar di camp. Dua bulan kemudian perusahaan telah mendapatkan orang yang menjabat posisi site manager secara tetap.

Akupun kembali ke Jakarta, mulai menikmati lagi kemacetan, panas, rasa persaingan yang sangat ketat dan segala dinamika lainnya

LISA part 01

Mulai bulan ini aku mendapat tugas ke lapangan di Pulau Kalimantan untuk menjadi care taker site manager untuk proyek pembuatan jalan propinsi. Site manager yang lama terkena kasus penggelapan uang perusahaan dan sudah diselesaikan secara intern perusahaan. Sebenarnya aku belum terlalu pas untuk posisi ini. Namun karena sudah tidak ada lagi person yang bisa dan siap dikirim, maka akhirnya pilihan itu jatuh kepadaku. Aku harus mengepalai dan mengatur segala sesuatu di lapangan sampai perusahaan mendapatkan orang yang cocok untuk menduduki posisi ini.

Sudah dua minggu aku di lapangan. Rasanya enjoy saja. Hitung-hitung refreshing melepaskan diri dari kesibukan dan rutinitas Jakarta. Lokasi camp tidak jauh dari kampung terdekat, hanya sekitar 500 m. Camp kami terdiri dari kurang lebih tigapuluh barak untuk keluarga dan bujangan. Sebenarnya aku mempunyai hak untuk menempati mess Direksi. Namun karena sepi tidak ada teman, maka aku lebih banyak tidur di mess bujangan. Dari delapan kamar hanya ada sekitar lima orang yang tidur secara tetap di mess bujangan. Aku mengambil kamar paling belakang.

Di belakang mess bujangan terdapat rumah seorang warga yang menjadi sub kontraktor untuk pekerjaan-pekerjaan yang dapat dikerjakan dengan tenaga manusia. Kami biasa memanggilnya dengan nama Pak Joko. Aliran listrik di rumah Pak Joko mengambil dari aliran listrik camp. Aku belum pernah melihat istrinya dari dekat, namun kulihat sekilas ia bertubuh kecil dan berkulit putih bersih.

Untuk mengisi waktu senggang dan membunuh rasa sepi maka hampir tiap malam aku ada di kantor ditemani dengan radio dua meteran. Mulanya agak canggung, namun kemudian asyik juga rasanya bisa berkomunikasi dengan breaker lokal di sana. Kalau sudah bosan nge-break paling-paling nonton televisi. Tidak ada hiburan lainnya. Ibukota propinsi jaraknya kurang lebih 300 km dari site.

Suatu malam ketika aku sedang cuap-cuap di depan radio, tiba-tiba ada suara wanita yang menyela masuk dan kemudian mengajakku berpindah jalur. Setelah berpamitan dengan warga yang masih aktif kamipun berpindah ke frekuensi yang ditentukannya.

“Malam, Ageng,” suara wanita tadi menyapaku. Aku menggunakan nama Ageng untuk nge-break di sini. Aku pilih nama itu asal saja, karena enak didengar dan mudah diingat. Tidak ada maksud tertentu.
“Malam, ini siapa ya?” tanyaku penasaran.
“Penasaran ya? Ini Lisa,” ia menjawab.
“Kalau boleh tahu Lisa posisi di mana?”
“Seputaran Camp..”. Ia menyebutkan camp tempatku berada.

Aku semakin penasaran, tetapi ia tetap tidak mau menyebutkan lokasi persisnya di deretan camp yang sebelah mana. Beberapa karyawan camp memang dibekali dengan HT untuk memudahkan komunikasi jika mereka sedang bekerja di lapangan. Aku berpikir jangan-jangan Lisa ini istri salah seorang karyawan camp. Aku tidak berani berbicara yang nyerempet-nyerempet, malu khan kalau ia benar-benar istri karyawan di sini.

“Kok namanya Ageng. Apanya yang ‘ageng’?” ia berbisik. Ageng artinya besar. Suaranya sengaja didesahkan. Busyet!! Justru ia yang mulai menggodaku. Aku tidak mau menanggapi sebelum tahu persis siapa Lisa ini.
“Udahan ya, udah malam. Aku mau nonton TV dulu. Cherio.. Dan 73-88,” kataku sambil memutar tombol power ke posisi off. Sekilas sebelum pesawat mati sepenuhnya kudengar Lisa berteriak”Ageng, tunggu du..”.

Dari kantor aku berjalan kurang lebih 200 m untuk sampai di mess bujangan. Sebelum masuk ke kamar sekilas kudengar dari rumah Pak Joko suara wanita sedang nge-break. Atau jangan-jangan..! Ah sudahlah. Aku sudah mengantuk dan esok pagi aku harus masuk ke lapangan untuk melihat konstruksi jembatan yang sedang dikerjakan.

Beberapa malam kemudian di udara Lisa masih juga menggodaku dengan nada suara yang dibuat-buat dan kata-kata yang konotatif. Aku tak tahan memendam penasaranku. Esoknya akhirnya aku bertanya pada Pak Dan seorang karyawan yang memegang HT.

“Pak, sebentar Pak,” kataku sambil melambaikan tangan. Pak Dan kemudian menuju ke tempatku berdiri.
“Ada apa Pak Anto?” tanyanya heran.
“Maaf Pak, beberapa malam saya nge-break dengan seorang perempuan bernama Lisa. Siapa dia Pak? Istri karyawan?” tanyaku.
“Bukan Pak. Itu kan istrinya Pak Joko. Kenapa? Bapak digodain ya. Ia memang biasa ngomong yang ngeres-ngeres kalau lagi di udara,” kata Pak Dan.
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku.
“Ya sudah Pak Dan. Silakan melanjutkan pekerjaan”.

Malamnya aku ketemu lagi dengan Lisa di udara. Kembali ia mengajakku mojok ke frekuensi yang tidak dipakai.

“Selamat malam Ageng.. Anunya”, ia langsung menggodaku. Pada saat mengucapkan kata terakhir sengaja ia menurunkan volume suaranya.
“Malam Lisa yang ge.. Lisa.. Aah. Geli dan basah,” akupun balas menggodanya. Kini aku tahu siapa dia.
“Yang dicari kan yang bikin geli dan kalau nggak basah nanti lecet dong..,” katanya lagi.

“Dan kalau nggak ageng nggak enak dong..,” kataku menimpali. Ia terkikik. Kami terus berbicara dengan kata-kata yang nyerempet-nyerempet. Setelah beberapa lama aku tak tahan lagi, bahaya kalau nanti aku jadi kepikiran terus dengan kata-katanya. Di ujung kampung ada juga tempat prostitusi liar dengan belasan PSK. Namun masakan aku harus antri di sana dan berebut dengan karyawan perusahaan kayu di sebelah dan dengan karyawanku sendiri. Bisa jatuh merk.

Paginya aku mandi agak kesiangan. Mess sudah sepi, semua penghuninya sudah berangkat kerja. Kamar mandi terletak di bagian belakang mess. Karena penghuni mess semuanya laki-laki, maka kamar mandi dibuat untuk mandi beramai-ramai. Dinding belakangnya tidak tertutup sampai ke atas, paling hanya setinggi dua meter. Rumah Pak Joko terlihat jelas dari kamar mandi karena memang letak rumahnya di bagian tanah yang agak tinggi.

Aku mandi dengan santai. Siang ini tidak ada rencana ke lapangan dan dalam briefing sore kemarin sudah kujelaskan pekerjaan masing-masing bagian untuk hari ini. Ketika melihat ke arah rumah Pak Joko aku tercekat ketika kulihat Lisa melihat ke arahku. Meskipun aku mandi dengan tetap mengenakan celana dalam namun tak urung aku merasa jengah juga ditelanjangi oleh tatapan matanya. Ia menatapku dengan tatapan sayu dan gigi atasnya menggigit bibir bawah. Aku segera menyelesaikan acara mandiku.

Malamnya aku duduk di teras mess dengan beberapa warga kampung yang ikut menumpang nonton tv. Tiba-tiba Lisa datang dengan membawa rantang dan memberikannya pada salah satu penghuni mess. Sambil menunggu rantangnya, Lisa duduk berseberangan denganku.

“Malam Pak Anto. Lagi santai nih?” tanyanya berbasa-basi.
“Eh.. Malam juga Bu Joko. Yahh lagi pengen nonton TV,” jawabku.
“Nggak on air malam ini?” tanyanya lagi.
“Sebentar lagi mungkin Bu. Nonton berita dulu sebentar”.

Kupandangi istri Pak Joko ini. Selama ini aku hanya melihatnya dari kejauhan. Tubuhnya kecil, kuperkirakan 150 cm dengan berat seimbang. Dadanya cukup besar untuk ukuran tubuhnya. Kulitnya putih bersih.

Dari dalam mess keluar anak yang tadi membawa rantang.

“Maaf Bu Joko, nggak ada tempat kosong di belakang. Jadi rantangnya biar di sini dulu, besok saya kembalikan ke rumah,” katanya.
“Ya sudah. Ini tadi bikin kolak kebanyakan. Bapaknya nggak pulang. Sayang kalau dibuang, makanya saya bawa saja ke sini,” kata Lisa sambil menatapku.
“Terima kasih kalau begitu. Kebetulan saya juga masih lapar,” kataku.

Akhirnya setelah bercakap-cakap sebentar ia minta diri untuk pulang. Kalau di darat nada bicara dan bahan obrolannya biasa saja, namun kalau sudah di udara. Hhhkkh bikin kita gemas dan BT. Bawah tegang.

Beberapa malam kemudian kulihat rantang yang dibawa Lisa masih tergeletak di meja belakang. Rupanya anak-anak ini lupa mengembalikannya. Kurapikan rantangnya dan aku berniat untuk mengembalikannya.

Ketika aku sampai di rumahnya kulihat Lisa sedang duduk di teras rumah, sedang bermain dengan anaknya. Ia terkejut, tidak menyangka kalau aku sendiri yang mengembalikan rantangnya. Ia berdiri dan menyongsongku.

“Aduhh Pak Anto. Mestinya biar anak-anak itu saja yang mengembalikan ke sini,” katanya sambil menerima rantang.
“Nggak apa-apa kok Bu. Sama saja. Toh juga bukan barang yang berat untuk ditenteng,” kataku.
“Masuk dulu Pak. Ini lagi main sama Ryan”
“Oom kok nggak pernah main ke sini sih. Om sombong deh,” kata Ryan menimpali pembicaraan ibunya. Ryan masih duduk di kelas dua SD.
“Ah nggak kok Ryan. Ini Om kan main juga ke sini. Bapak kemana?”.
“Bapak masih kerja di dalam hutan”.

Kami bertiga duduk di teras rumahnya dan ngobrol. Ternyata nama sebenarnya adalah Arlina, namun di lingkungan sekitar camp sampai ke kampung ia lebih tenar dengan nama udaranya, Lisa. Sesekali Ryan memotong pembicaraan kami. Setelah lima belas menit Lisa menyuruh Ryan masuk untuk belajar. Lisa kembali menggodaku dengan kata-kata yang menjurus dan desahannya yang khas.

“Sudah sebulan Pak Anto di sini. Sudah penuh dong.. Isi kantong celananya,”
“Ya, namanya juga jadi buruh. Kalau nggak begini nanti nggak makan,” jawabku tanpa menanggapi godaannya.

Entah bagaimana mulanya Lisa pun bercerita tentang keadaan rumah tangganya. Ia sering merasa kesepian karena Pak Joko lebih sering berada di lapangan dan di rumah istri mudanya. Bahkan belakangan ini ia mendengar kabar Pak Joko sudah punya simpanan lagi. Aku yang sudah lama tidak merasakan kenikmatan bercinta, tiba-tiba saja merasa bahwa Lisa memberikan satu peluang untukku.

Aku permisi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Ia mengantarku masuk ke dalam rumah dan terus ke bagian belakang. Setelah selesai buang air kulihat Lisa sedang sibuk di dapur. Kudekati ia dari belakang dan kupegang bahunya. Ia berbalik dan menatapku. Kukecup bibirnya. Ia diam saja. Kukecup sekali lagi. Kali ini ia membalas dengan lembut. Kupeluk, kepalanya kurebahkan ke dadaku dan kuusap-usap rambutnya.

“Sudah Pak Anto. Nanti Ryan melihat kita,” katanya pelan.

Kami kembali ke depan dan kini kulihat sorot matanya lebih bersinar. Memancarkan suatu gairah. Setengah jam kemudian aku berpamitan pulang.

“Kalau Pak Anto menginginkanku, kutunggu nanti malam”.
“Aku tak berani. Takut kalau nanti Pak Joko tiba-tiba datang”.
“Biasanya kalau sudah lewat jam satu malam Bapaknya tidak pulang. Nanti kalau lampu sudut rumah kumatikan artinya Bapaknya nggak ada”.

Akupun pulang dan mencoba tidur. Tapi sulit bagiku untuk memejamkan mata. Undangan dari Lisa sungguh mengusik pikiranku. Jam setengah dua aku terbangun dan kulihat ke belakang sudut rumahnya terlihat gelap. Sayup-sayup kudengar breaker di radio dari dalam rumahnya, rupanya Lisa belum tidur dan sengaja menungguku. Aku bimbang antara ya dan tidak untuk memenuhi ajakan Lisa. Kutimbang-timbang kalaupun Pak Joko tidak datang masih ada Ryan yang mungkin saja terbangun. Kupikir terlalu besar resikonya. Sampai pagipun aku sulit untuk memejamkan mata. Bayangan tubuh Lisa terus menggodaku. Tanpa kupaksa keluar dengan bantuan tanganpun esok paginya beberapa noda berwarna putih menempel di bagian depan celana dalamku. Paginya ia berdiri di depan rumahnya dan ketika aku mandi ia menatapku dengan pandangan kecewa.
Suasana camp mulai terasa ramai karena mendekati perayaan tujuh belasan. Biasanya jika tiba perayaan tujuh belasan maka warga kampung berbaur dengan karyawan campku dan perusahaan kayu di dekat sini untuk melaksanakan berbagai pertandingan.

Aku ikut bertanding dalam beberapa cabang olahraga. Hanya sekedar untuk memeriahkan dan bersenang-senang saja. Sore itu aku baru menyelesaikan satu partai tenis meja. Untuk pertandingan tenis meja dilakukan di dalam ruangan kantor agar tidak terganggu oleh tiupan angin. Meja-meja yang ada cukup ditumpuk di pinggir. Aku kalah straight set, 15-21 dan 10-21. Cukup lumayan setelah lima tahun lebih tidak pernah bermain. Kubuka bajuku dan dengan bertelanjang dada aku menyaksikan partai berikutnya.

Kulihat Lisa juga ada di antara para penonton. Dengan beringsut perlahan-lahan ia berpindah di dekatku. Ia mengenakan baju hitam tipis tanpa kancing dan lengan dipadu celana panjang strecth warna pastel. Bayangan BH-nya yang berwarna putih samar-samar kulihat di balik baju hitamnya yang tipis.

“Hebat juga Bapak kita ini. Mau ikut maju untuk pertandingan kelas kampung,” komentarnya.
“Ah, Cuma sekedar berpartisipasi saja kok,” kataku.
“Bapaknya mana, beberapa hari ini kok nggak kelihatan?”

Terakhir aku melihatnya seminggu yang lalu ketika mengambil uang muka pekerjaan borongan.

“Lagi ke kota. Beli beberapa peralatan untuk tenaga kerja. Ryan juga ikut. Ijin tidak masuk sekolah beberapa hari”.

Entah apa maksudnya mengatakan kalau ia sendirian di rumah. Apakah ini sebuah undangan lagi?

“Kapan pulangnya?” tanyaku meyakinkan.
“Mungkin nanti malam menjelang dinihari. Biasanya kapal dari hilir masuk ke sini antara jam dua belas sampai jam tiga dinihari”.

Lisa menatapku dengan sorot mata kagum. Badanku cukup besar meskipun tidak kekar. Mungkin ia kagum dengan bulu dadaku yang cukup lebat ini. Karena sudah sore dan keringatku sudah tuntas aku pulang ke mess dan berniat untuk mandi. Lisa mengikuti beberapa langkah di belakangku dan ketika aku sampai di depan mess Lisa memanggilku.

“Ssstt.. Pak, Pak Anto,” bisiknya. Aku menoleh. Ia memberikan kode dengan mulutnya agar aku ke rumahnya sekarang. Aku masuk ke dalam kamar, berganti dengan celana pendek dan kaus lalu ke kamar mandi. Kulihat Lisa sudah menunggu di depan rumahnya. Ia melambaikan tangan dan memberikan isyarat agar aku masuk ke rumahnya lewat pintu belakang.

Kutimbang-timbang dan kali ini kurasa keadaan di dalam rumahnya cukup aman. Tinggal berusaha agar tidak ketahuan karyawan camp. Kubuka pintu belakang mess dengan pelan. Dengan mengendap-endap aku berjalan ke arah belakang rumahnya. Ia sudah menunggu di pintu belakang rumahnya. Dengan cepat aku menyelinap masuk ke ruang tamunya.

“Duduk dulu To,” ia menyuruhku duduk di kursi tamu. Ia sudah mulai memanggilku tanpa sebuta.
“Pak”.

Aku duduk di atas sofa ruang tamunya. Debaran jantungku terasa kencang, perpaduan antara nafsu dan perasaan takut ketahuan. Lisa mengeluarkan kepalanya dari pintu depan, mengamat-amati sekitarnya.

“Aman,” gumamnya.
“Yuk kita ke kamar saja!” ajaknya sambil menarik tanganku. Bagai kerbau dicocok hidung akupun menurut saja. Kamarnya agak berantakan. Pakaian kotor terserak di lantai.
“Buka pakaianmu,” ia memerintahku dengan berbisik pelan. Tanpa disuruh untuk kedua kalinya dengan cepat kulepas semua kain di badanku. Penisku yang sudah setengah berdiri segera bergoyang-goyang.
“Hmmhh..,” gumamnya sambil mengamati penisku.

Ia menarikku ke arah ranjang, berbaring dan minta bantuan untuk melepaskan celananya. Dengan segera kulepas celana dan sekaligus celana dalamnya. Sejumput rambut hitam terlihat menghiasi selangkangannya. Ketika bajunya akan kubuka ia menggeleng,”Bajunya nggak usah”.

Aku mulai naik ke atas tubuhnya. Kucium dengan lembut. Kepalaku bergeser ke arah leher, dada dan menggigit payudaranya yang masih tertutup bajunya. Tangannya menyingkap bajunya ke atas dan tanganku membantu membuka kait BH-nya. Kusingkapkan cup BH-nya ke atas. Kini payudaranya yang putih mulus dihiasi urat kebiruan menyembul keluar. Segera kuterkam dan kuhujani dengan sedotan lembut dan jilatan pada ujung putingnya. Ia mendesah dan memejamkan mata menikmati jilatan lidahku pada putingnya.

Penisku dengan cepat mengeras dan kugesekkan di atas pahanya. Diambilnya bantal untuk mengganjal pantatnya. Tangannya dengan cepat menangkap penisku dan segera mengarahkannya ke bibir vaginanya. Kakinya mengangkang lebar. Dengan pelan namun pasti penisku segera saja masuk ke dalam vaginanya yang sudah licin dan basah.

“Ehmm. Untung sudah basah, kalau tidak bisa lecet punyaku,” kataku berbisik menggodanya, mengingatkan pada gurauan kami dulu. Ia terkekeh pelan sehingga bibir di selangkangannyapun ikut bergerak-gerak.
“Iya, ini yang bikin gelisah. Geli dan basah,” sahutnya sambil mulai menggerakkan pinggulnya.

Akupun mulai memacu hasratku berlomba dengan gairahnya. Kali ini gairahku cepat sekali naik dengan tajam. Mungkin karena sudah terlalu lama spermaku tidak diganti ditambah dengan adanya rasa takut ketahuan.

Tidak sampai lima menit tiba-tiba kurasakan aku akan sampai. Kuhentikan gerakanku.

Ia menatapku heran, “Kenapa To? Mau keluar?” tanyanya. Aku mengangguk.
“Keluarin saja di dalam. Nggak apa-apa,” katanya pelan. Ada sedikit nada kecewa di sana.

Tanpa ada gerakan lagi penisku segera memuntahkan cairan putih yang kental sekali. Tujuh kali aku menyemprotkan cairanku. Terasa banyak sekali sampai mengalir keluar dari vagina dan menetes di sprei. Lisa mendorongku dan segera melap penisku dengan handuk kecil di dekatnya. Spermaku yang menetes di sprei juga dilapnya setelah ia mengamati dan menyentuhkan jarinya pada cairan kental yang menempel di sprei tersebut.

“Hmmh. Pantas saja cepat tumpah, begitu banyak dan kental sekali. Selama di sini emangnya kamu tidak pernah main di ujung kampung sana?” katanya pelan.

Aku menggeleng lemah. Badanku terasa sakit namun sekaligus juga merasa ringan. Energi yang kukeluarkan kali ini rasanya seperti aku melakukannya dalam waktu satu jam.

Kupegang dan kuremas tangannya.

“Sorry Lis, aku tak mampu lagi menahannya,” kataku. Kujelaskan kalau memang selama di sini aku tidak pernah menyentuh perempuan dan kali ini ditambah rasa takut ketahuan sehingga dengan cepat aku sudah menyerah. Kukecup punggung tangannya. Ia masih memperlihatkan raut muka kecewa, namun ia mengerti dengan keadaanku.
“Ya sudah, nanti lain waktu kita akan lakukan lagi. Tapi kamu harus berjanji akan memuaskanku,” katanya lagi. Kukecup keningnya, dan akupun mengenakan pakaianku dan keluar dari pintu belakangnya kembali ke mess

Temen Makan Temen

Berawal dari temen sekolah, gw da temenan sama temen gw ini. Sampe gw dapat mantan gw yg ke4 ini juga karena dia. Temen gw ini sebelumnya sudah ada pacar dan gw dikenalin sama cewe yg menjadi pacar ke 4 gw ini sama cewenya temen gw ini.
Yah seperti biasa lah, gw pedekate dll sering bareng sama temen gw ini.
Pada saat itu gw ga tau klo temen gw ini suka sama ce ini juga yg jadi pacar gw, gw kira dia da punya cewe dan gw tau lah yg mereka perbuat juga.
Oya, btw saat itu gw ma dia da kerja ya (temenannya sejak saat sekolah, takut pada binggung).

Gw ma temen gw ini sering sharing tentang sex, apa yg dia lakuin sama cewe nya begitu pun gw, maklum da lama kenal. Dari awal temenen da sharing jd kita sama2 tau lah awal cerita, malah kadang saling kasih masukan masing2.

Gw sering pergi bareng alias double date, pergi dari mall to mall, tempat wisata sampai keluar kota.
Yah klo pegi bareng biar cewe2 dapat izin nya gampang karena pegi sesama cewe (padahal kita ikut dan kamar masing2).

Gw dari awal emang ga terlalu curiga lah sama temen gw ini, maklum da kenal deket sampe keluarganya gw tau. Bukan disitu aja, bejat2 nya dia gw jg tau. Jd awal ok lah, ga kepikiran sampe sana.
Jadi klo kadang ce gw chat sama temen gw, gw ga tll kwatir. soalnya cewe dia kadang chat gw jg bukan karena selingkuh ya, tp tanya planning mau jalan kmn gt dan tanya temen gw, itu aja.
Makanya gw ga tll curiga.
Sempat rada kepergok mereka rada intim saat becanda, gw pikir cuman sekedar bcanda, awalnya kan gw ga pikir sejauh itu.

Ternyata suatu saat kepergok temen gw ini bukan sekedar jalan, malah Exe ma cewe gw ini yg skrg da jadi mantan.

Klo ditanya gimana ceritanya :
Gw tinggal di jakarta. temen gw, cewe tmn gw sama cewe gw ini tinggal di tangerang. Jadi yah otomatis gw jauh ma cewe gw (Makanya gw pernah info klo gw exe ma cewe gw cuman seminggu 2-3x, seketemunya saja)

Waktu itu hari selasa, gw ingat banget. Gw sengaja keluar kantor utk ke tangerang (Ke rumah cewe gw), gw sengaja ga mau kasih tau dulu biar rada suprise (eh ternyata gw yg suprise – hahahahhaha – anjing)

Buat info tambahan saat itu cewe gw masih kuliah, makanya gw bisa samperin siang.

Awalnya gw kangen mau ajak makan bareng sekalian ketemu, eh ternyata waktu gw kerumah cewe gw kondisi sepi (biasa jg sepi, ortu nya gawe dan sodaranya kerja) tapi waktu itu gw rada aneh kok ada moge di depan rumah dia.
Awalnya gw ga tau klo temen gw punya moge baru.

Kebiasaan cewe gw ini sering lupa kunci pintu jd gw main masuk aja, alias tebak2an apa dikunci atau ga, eh ternyata gw bener ga dikunci, yah gw masuk aja.
Saat masuk gw keliling dibawah siapa tau lg ada dimana, ternyata ga ada, yah gw naik aja ke atas, ke kamar dia.
Waktu itu gw denger dia nyalain cd sih, gw tau cewe gw suka lagu jazz jadi ya uda gw anggap biasa aja. Eh ternyata oh ternyata pas gw buka tuh pintu kamar gw liat cewe gw lg exe ma temen gw ini dengan kondisi MOT dan cewe gw lg dicium2 sama temen gw. Saat itu jg anjing gw binggung antara ga percaya atau kesel.
Saat itu mereka tiba2 stop sih dan lgsg kyk salah tingkah gt.

Saat itu juga gw lgsg keluar kamar dia, dan emang sengaja tunggu dibawah.
Mau liat akan disusul atau ga, eh ternyata mereka susul gw.
Saat itu gw kesel jd saat temen gw ngom, gw langsung bogem muka dia dan temen gw ini ga berani balas gw.
Saat itu juga gw bilang kedia klo gw ga akan mau kenal dia lagi. Dia sempat say sory dll tp pikiran gw da ga mau denger dia lagi.
Pas dia reflek soalnya gw mau bogem dia lg tiba2 dia rada lari dan ga lama dia pulang naik moge baru dia.

Setelah itu selesai, gw masih marah. gw mau gampar cewe gw tp jjr gw ga tega.
Akhirnya ya uda gw mau denger penjelasan dia dulu.
Dia say sory ke gw, bilang alasan dia kenapa bisa seperti itu, dia bilang sebelumnya emang ada rasa sedikit sama temen gw ini tapi karena da ada pasangan akhrnya selesai dan sama gw. Dia bilang temen gw beberapa kali goda dia dan dia pun tergoda juga. awalnya dia ga mau tapi karena cwe gw ini rada hyper jd cepet nafsu akhirnya terjadi.
Gw tanya dia da berapa kali sebelum ketauan, ternyata da 4 bulan terakhir dia seperti itu sama temen gw.

Jadi secara ga langsung antara senin sampai kamis ma temen gw, jumat sampai minggu ma gw. Anjing beneer kan?

Gw tanya sudah ngapain aja sama temen gw ini, ternyata semua yg gw lakuin ke dia, dia jg pernah. Pernah main crot diluar juga tanpa kondom, pernah di cim juga dll sama seperti yg gw lakuin ke dia. Anjing lah pokonya.

Saat itu juga gw langsung bilang ya uda kita selesai aja, terserah dia mau bagaimana, mau lanjut ma dia ya udah. Cewe gw ini sempat bilang ga mau dan minta maaf ke gw, dia nangis dan say sory ke gw.
Jujur gw sayang dia, tapi yg gw lihat itu buat gw jd kesel.
Walo dipaksa bagaimana gw tetap bilang kita udahan saja.

Saat itu juga gw minta semua yg pernah gw kasih ke dia, awalnya gw ga mau minta tapi karena di exe ma temen gw dan khianati gw, yah gw minta aja. Uda rugi hati yah gw ga mau rugi materi juga.
Yah terserah loe orang mau bilang apa ya.
Akhirnya semua yg gw kasih (Yg bernilai aja yg gw ambil), yg ga bernilai kyk boneka, baju, dll gw ga ambil, gw bilang ke dia buang aja.
Cewe gw masih nangis terus saat itu dan masih ga mau gw putusin sambil berusaha beberapa kali peluk gw, tp gw ga bisa terima.

Setelah selesai gw jalan balik. saat itu sudah sore, akhirnya gw ga makan siang karena kejadian itu dan sempat sakit juga.

Yah begitulah cerita gw

kakak ipar

Saya termasuk yang mempunyai nafsu besar dan cepat terangsang melihat cewek-cewek cantik dan seksi serta terobsesi dengan perempuan yang sudah bersuami. Kejadian ini bermula dari abang istri saya atau ipar saya dapat tugas keluar negeri untuk waktu yang cukup lama yaitu 6 bulan. Ipar saya ini mempunyai istri yang bernama Milky dan seorang anak yang berumur satu tahun. Sejak dulu (waktu abang istri saya kawin) saya memang sudah tertarik sama Milky karena selain orangnya cantik, badannyapun seksi dan walaupun sudah punya anak badannya tetap terawat bagus serta mempunyai bulu yang banyak ditangan dan dikakinya (mungkin didalam juga ya..).

Waktu ipar saya ini kawin waktu itu saya dan istri saya serta anak saya masih tinggal dirumah mertua. Karena obsesi saya terhadap Milky besar sekali saya pernah mengintip dia waktu sedang pakaian sehabis mandi di kamarnya. Badan saya langsung bergetar begitu menyaksikan tubuhnya yang aduhai dan setelah itu saya selalu membayangkan dia dalam berhubungan dengan istri saya. Sejak kepaergiaan ipar saya ini saya berusaha mencari-cari kesempatan untuk dapat menikmati tubuh Milky karena saya pikir pasti dia akan kesepian ditinggal suaminya.

Hingga suatu saat dimana mereka harus pindah rumah ke rumah yang baru (bulan Maret), saya pikir inilah kesempatan saya bisa lebih dekat lagi sama Milky karena ipar saya sedang berada diluar negeri dan sudah pergi empat bulan maka tidak ada yang membantu mereka pindah. Saya selalu menawarkan diri saya untuk membantu mengangkat barang-barang yang akan dipindahkan dan untuk tidak mencolok saya bilang ke istri saya bahwa kasihan mereka kalau tidak dibantu. Waktu itu hari Sabtu saya akan mengangkat barang yang masih ada dari rumah lama ke rumah baru. Milky dan anaknya serta pembantunya memang sudah tinggal dirumah baru mereka. Setelah barang-barang saya masukin ke dalam mobil saya segera bergerak ke rumah ipar saya yang baru.

Waktu saya tiba Milky yang mengenakan daster sedang membenahi lemari pakaian mereka di kamar sementara anaknya sedang di temani pembantu di halaman belakang. Setelah barang saya turunkan, saya coba untuk berlama-lama di rumah itu dengan ikut membenahi barang-barang. Waktu itu saya membersihkan kipas angin yang sudah kotor dan tidak ada salahnya saya bersihkan. Setelah saya bersihkan debu-debu yang ada dikipas angin maka saya pikir lebih bersih lagi kalau dicuci. Saya memanggil Milky dari arah pantry (karena ada pintu yang langsung kekamar mandi yang terdapat dalam kamar ipar saya, kamar mereka cukup luas dan ada kamar mandi didalamnya serta dari kamar mandi bisa langsung ke pantry) untuk menanyakan kepada Milky dimana saya bisa menyiram tutup kipas angin dengan air keran yang ada selangnya. Milky menyuruh saya membersihkan di kamar mandi dengan menggunakan shower. Saya membersihkan kipas angin sambil terus berpikir bagaimana caranya saya bisa menikmati tubuh ipar saya yang seksi ini.

Akhirnya saya dapat ide, saya akan berpura-pura jatuh karena lantai kamar mandi yang licin karena kena cipratan dari shower. Setelah saya selesai, akhirnya saya pura-pura jatuh dan menghempaskan kaki saya ke lantai sehingga menimbulkan bunyi jatuh. Saya kemudian merintih kesakitan dan minta tolong, dengan harapan didengan Milky. Dengan tergopoh-gopoh Milky datang menghampiriku yang terduduk di kamar mandi.

“Kenapa Dri,” tanya Milky kepadaku dengan cemas.
“Aduh.. Mil, sakit nih, aku kepeleset,” kataku sambil memegang pantatku seolah-olah kesakitan karena jatuh.
“Mana yang sakit” kata Milky kemudian.
“Ayo coba berdiri, Dri” kata Milky sembari membantuku berdiri dengan setengah memelukku.

Akhirnya aku berdiri dengan dibantu oleh Milky dan sewaktu dia membopongku masuk ke kamarnya kurasakan payudaranya yang montok sesak di tangan kananku. Kemudiaan Milky membaringkan aku ditempat tidurnya untuk dapat mengobatiku. Akhirnya dengan susah payah Milky membaringkanku di tempat tidurnya. Namun karena dengan setengah memelukku akhirnya Milky ikut terjatuh juga ketempat tidurnya dengan posisi menindihku, sehingga kurasakan tubuh seksinya diatasku dan muka kami saling berhadapan dengan sangat dekat sekali bahkan hembusan napasnya terasa hangat dimukaku.

Milky langsung malu melihat posisi kami itu dan tanpa membuang waktu aku memeluk Milky sambil mengusap rambut panjangnya. Milky pun terbuai dengan perlakuanku itu dan segera kudekatkan bibirku ke bibitnya yang terbuka merekah. Aku melumat bibirnya dengan lembut dan ternyata Milky membalasnya pula. Sambil melumat bibirnya aku meremas pantatnya yang montok dan nafasnya kelihatan semakin memburu. Namun tiba-tiba Milky tersadar dan seolah menarik dirinya dariku tetapi agak kutahan tarikan tubuhnya.

“Adri, kita tidak boleh melakukan ini” Milky berkata kepadaku.
“Mil, sudah lama aku menantikan saat-saat begini” kataku kepadanya.
“Dari dulu aku sudah tertarik sama kau dan aku selalu memikirkan kau” sahutku kepadanya sambil terus memeluknya.
“Kau pasti kesepian ditinggal suamimu.., aku akan memuaskan kau.. Mil..” Kataku kemudian.

Milky hanya terdiam saja mendengar perkataanku, Ia kelihatan bimbang dan ragu. Sambil membelai lembut aku kemudian mencium bibirnya lagi dan kami kembali bergumul.

“Oh.. Adri.. Beri aku kepuasan..” kata Milky kepadaku.
“Tentu.. Sayang.. Aku akan memuaskan kau..” sahutku.

Kami berguling-guling saling pagut dan aku meremas payudaranya dengan bernafsu sekali.

“Tunggu dulu sayang..” Milky berkata kepadaku sambil melepaskan dirinya dan merapikan daster dan rambutnya yang sudah acak-acakan.
“Kenapa Mil..” sahutku kemudian
“Martin dan Ipah ada di belakang, ntar aku suruh dulu mereka pergi ke minimarket” imbuh Milky mengingatkan anak dan pembantunya yang bermain di halaman belakang.

Kemudian Milky pergi menyuruh mereka pergi membeli sesuatu di minimarket supaya kami bisa melanjutkan hasrat birahi kami yang sudah tidak tertahankan. Setelah mengunci pintu rumah Milky segera kembali ke kamar dan aku sudah siap menunggunya.

“Sudah pergi mereka sayang..?” kataku dan tanpa menjawab Milky segera menyumpal mulutku dengan mulutnya. Kami saling mencumbu dan saling meremas.

Segera aku menarik ke atas daster yang dikenakannya dan tampaklah tubuh seksi dan menggairahkan yang benar-benar sempurna. Kulepas pengait BH nya dan benar-benar takjub aku menyaksikan payudaranya dan munjung dan montok dengan puting yang coklat dan bulu-bulu halus disekelilingnya. Aaku tidurkan Ia ditempat tidur dan segera saja aku menerkamnya. Ku melumat puting kanannya dan tangan kananku meremas payudaranya yang kiri.

Sementara tangannya meremas rambutku dan mengusap-usap punggungku. Bergantian aku mengulum dan menjilat puting kiri dan kanannya, terus jilatanku turun keperutnya yang rata walaupun sudah punya anak satu. Kelihatan sekali Milky sudah sangat bernafsu karena celana dalamnya sudah basah dari luar. Aku turunkan celana dalamnya dengan bantuannya mengangkat pantatnya. Tampaklah pemandangan yang luar biasa yang belum pernah aku saksikan. vagina yang indah dengan bulu yang sangat lebat hampir sampai ke pusarnya dan menutup lubang memeknya. Memang Milky termasuk yang mempunyai bulu banyak, tangan dan kakinya mempunyai bulu yang banyak namun tetap seksi, inilah salah satu yang membuat aku sangat menginginkannya.

Aku segera menjilati dan melahap memeknya, klitorisnya aku gigit kecil dengan gemas.

“Oh.. Dri.. Enak banget sayang, kau tahu membuatku enak” Milky mulai merintih.
“Terus.. Sayang.. Akh.. Aku hampir tidak kuat..” erang Milky.

Aku menyibakkan bulu memeknya dan terus menjilati memeknya dan sesekali aku masukkan lidahku ke dalam memeknya dan kugoyang-goyangkan sehingga Milly semakin merintih keenakan. Namun aku ingin membuat Milky penasaran dan segera menghentikan aksiku. Kemudian aku berdiri dan segera melepaskan baju dan celanaku. Kulihat Milky begitu penasaran melihat aku membuka pakaianku. Begitu aku menurunkan celanaku, tampak matanya terbelalak melihat celana dalamku, karena kontolku yang sudah tegang sekali sehingga sampai keluar dari CD-ku. Kulepas celana dalamku dan tampaklah kontolku mengacung dengan tegang dan keras.

Aku kemudian menghampiri Milky dan menciumnya, Milky segera menangkap kontolku, rupanya Ia sudah tidak sabar lagi untuk memegang kontolku.

“Akh.. Adri.. Besar banget kontolmu sayang.., aku suka sekali..” imbuh Milky kepadaku.
“Ayo dong sayang.. Masukin kontolmu.. Ngentotin memekku.. Please.. Aku sudah nggak tahan..” Milky berkata kepadaku dengan tidak sabar lagi, rupanya kesepiannya selama ini membuat Dia tidak tahan lagi.

Akupun segera memasukkan kontolku ke memeknya dengan diarahkan oleh tangannya. Segera aku tekan kontolku dan masuk ke memeknya, terasa sempit juga memeknya……. Dan…. bless…….. Amblaslah kontolku ke dalam memeknya.

“Oh.. Oh.. Sayang..” desah Milky.
“Mil, memekmu enak sekali” imbuhku.
“Dri.. Goyang terus sayang.. entotin terus” erangnya.
“Akh.. Ohh.. Kamu hebat sayang..” hanya itu yang keluar dari mulut kami Milky sangat pintar memainkan pantatnya, diangkat.. diputar.. bergantian. Hampir 30 menit kami mengentot sampai akhirnya sudah hampir puncaknya.

“Dri.., aku mau keluar.. Mau puas..” teriak Milky.
“Genjot terus sayang.. Akh.. Akhh..” desah Milky.

Crop.. Crop.. Kecrop.. bunyi persetubuhan kontolku dan vagina Milky yang sudah becek.

“Aku juga sudah hampir keluar.. Mil..” imbuhku.

Kugenjot terus vagina Milky sementara kakinya menjepitkan pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia akan orgasme. Genjotan penisku kutingkatkan.

“Ooo.. Ahh.. Hmm.. Ssshh.. Aku keluarr..” erangnya dengan tubuh menggelinjang menahan puncak kenikmatan yang diperolehnya.

Kurasakan air maninya yang hangat membasahi kontolku didalam memeknya. Akupun sudah tidak tahan lagi untuk mencapai puncak kenikmatan.

“Mil.. Aku juga mau keluarr.. Keluarin dimana sayang..” kataku kepada Milky.
“Di dalam aja.. Yang paling dalam.. Ugh..” sahut Milky.

Crett.. Crooott.. Croooott.. Crooottttt..

akhirnya spermaku keluar dengan derasnya sampai-sampai memeknya tidak cukup menampung air kenikmatanku, tampak spermaku keluar dari memeknya. Akhirnya tubuhku roboh menindih tubuh Mlky sambil berpelukan sementara kontolku masih di dalam memeknya menumpahkan sisa spermaku.

“Mil.. Kau puas sayang..?” kataku kepada Milky sambil kukecup lembut bibirnya.
“Puas sekali sayang.. Belum pernah aku sepuas ini.. Apalagi sudah 4 bulan aku sudah tidak ngentot..” katanya.
“Aku akan selalu memuaskanmu dalam kesepianmu..” kataku
“Kenapa kita tidak dari dulu bisa merasakan kenikmatan ini” desahnya kepadaku.
“Iya.. sayang.. Tapi hari ini aku bahagia sekali..” sahutku sambil memeluk dan mencium bibirnya yang basah.
“Ayo.. cepat bangun, sebentar lagi Martin dan Ipah pulang..” sergah Milky sembari berdiri dan menarikku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Mulai hari itu aku dan Milky selalu membuat janji untuk dapat mengulangi kembali persetubuhan kami yang nikmat. Aku dan Milky selalu bersikap biasa diantara ipar maupun istriku. Kadang kami bertemu ditempat yang telah kami tentukan bahkan kadang Milky membawa anak dan pembantunya ke rumah kakaknya kemudian Ia kembali kerumah sambil menjemput aku terlebih dahulu untuk melewatkan nafsu kami yang sudah memuncak. Kejadian ini terus berulang…….berulang…….. berulang…………

Ami

Pagi itu wajah AMI, seorang aktivis LSM yang mendukung dan pro pada RUU APP terlihat tegang mendengar penuturan beberapa rekan rekannya mengenai maraknya website dan blog cabul di internet yang mengeksploitasi wanita, terutama anak sekolah, artis, bahkan foto foto di facebook pun bisa nyasar ke situs cabul. Sebagai aktivis yang cukup senior, Ami sudah lama mendengar mengenai hal ini namun saat itu dia diberitahu bahwa semua foto dalam website tersebut merupakan foto-foto rekayasa kasar, Ami tidak tertarik untuk melihatnya. Berbeda dengan berita yang disampaikan para rekannya ini yang mengatakan bahwa website-website cabul itu sekarang berisi foto-foto asli dan bukan rekayasa, bahkan yang membuat Ami sangat terkejut ketika mereka menyebutkan bahwa di antara foto-foto cabul dalam website itu terdapat beberapa foto cabul yang berwajah mirip dirinya.

Tentu saja gadis ini menyanggah keras foto-foto cabul tersebut sebagai foto-foto dirinya, hanya saja berita tersebut membuat Ami penasaran dengan website-website cabul tersebut. Terdorong ingin meng-cross check kebenaran berita tersebut, Ami kemudian meminta alamat website-website cabul yang dimaksud, ia pun mendapatkan sebuah site forum dan sebuah blog cabul yang isinya seks segala jenis. Jam di HP milik Ami menunjukkan pukul 13.00 lewat ketika ia berjalan keluar dari gerbang kampusnya. Sebagaimana niatnya tadi pagi, Ami yang masih tercatat sebagai mahasiswi di salah satu universitas di kota besar di Indonesia ini bermaksud singgah ke sebuah warnet. Gadis berwajah keras ini memang bermaksud membuktikan berita yang dibawa rekannya tadi pagi. Ami sengaja memilih warnet yang mempunyai box tertutup untuk menghindari prasangka buruk orang lain terhadapnya. Sebagai seorang yang dikenal menentang segala bentuk pornografi tentunya Ami berusaha menjaga citra dirinya saat dia membuka website dan blog cabul yang dikatakan temannya tersebut. Boleh jadi orang lain akan mencemooh jika seorang seperti dirinya terlihat membuka website cabul dan porno.

“Ada yang kosong mas?” tanya Ami kepada operator warnet.
“Mmm…Nomor 10..mbak” jawab operator warnet tersebut yang sedikit terkejut melihat seorang wanita muncul dihadapannya.

Keberadaan Ami di warnet tersebut memang cukup menarik perhatian. Ami memang menggunakan jilbab agak panjang, tetapi karena payudaranya juga besar (kira2 34B), lekuk payudaranya tetap mudah terlihat dari balik jilbabnya. Apalagi jika dilihat dari samping, lekukan payudaranya akan lebih jelas terlihat. Ditambah lagi rok yang Ami gunakan ternyata rok panjang yang sangat ketat sehingga lekuk pantat serta cetakan celana dalamnya juga mudah terlihat. Memang kontradiktif, mengingat Ami menentang segala bentuk ekspos lekuk tubuh wanita, tetapi dia senang memakai busana yang ketat dan jelas menunjukkan lekuk-lekuk tubuhnya.

Cowok operator warnet sempat terpesona melihat keseksian Ami namun mengingat klo gadis ini adalah pelanggan baru membuatnya segan untuk berbuat lebih jauh. Walaupun ada rasa segan pada diri cowok operator warnet kepada Ami, namun mata cowok itu nyaris tak berkedip melihat goyangan pantat Ami ketika berjalan menuju box warnet nomor 10. Cowok itu menelan ludah membayangkan tubuh di balik pakaian yang dipakai gadis cantik ini.

Dalam box warnet no 10 yang tertutup itu, Ami mulai membuka beberapa alamat wabsite cabul yang didapatnya tadi pagi. Tak sampai lima menit kemudian, mata Ami yang lebar membelalak melihat website-website cabul tersebut. Wajahnya berubah merah padam menahan kemarahan dan rasa jijik melihat website serta weblog yang melecehkan perempuan secara seksual terutama segala hal yang berbau rape (perkosaan). Beberapa cerita porno tentang gadis abg atau mahasiswi serta foto-foto yang mempertontonkan kemulusan tubuh perempuan seperti dirinya membuat Ami merasa terhina dan terlecehkan. Gadis ini juga merasa geram dan nyaris tidak percaya ketika kemudian dia mendapati beberapa foto cabul seorang wanita dengan wajah mirip dirinya sebagaimana laporan teman-teman dan juniornya. Tubuh gadis ini gemetar menahan kemarahan dan rasa tak percaya melihat pose-pose wanita yang berwajah mirip dirinya apalagi ditambah gambar dirinya yang jarang sekali ia posting di facebook bisa nyasar ke situs ini, sehingga seolah merupakan pembenaran bahwa dirinyalah yang ada di situs cabul tersebut. Tanpa sadar Ami yang dalam kesehariannya bertabiat lembut ini mengumpat karena kemarahannya melihat foto foto tersebut.

Melihat betapa gadis seperti dirinya dilecehkan dalam website tersebut, Ami terdorong untuk membuat laporan khusus mengenai hal ini. Ami berniat untuk melaporkan keberadaan website ini kepada pihak kepolisian agar pembuat situs ini ditangkap polisi. Dengan flashdisk miliknya, Ami kemudian menyimpan puluhan cerita porno mengenai perkosaan serta gambar-gambar cabul yang terpampang, terutama foto-foto wanita yang mirip dengan dirinya. Satu persatu beberapa foto cabul dan cerita-cerita erotis mengenai akhwat berpindah ke flashdisknya yang berkapasitas 1 GB tersebut.

Ami adalah seorang gadis berusia 23 tahun yang baik baik serta tumbuh dalam lingkungan keluarga yang alim pula sehingga selain memiliki tabiat yang lembut, Ami juga jauh dari hal-hal porno atau cabul sejak kecil bahkan bagi dirinya hal-hal tersebut merupakan hal-hal yang tabu.

Namun siang ini, gadis ini terpaksa melihat hal-hal tabu tersebut untuk pertama kalinya sepanjang hidupnya. Awal mula, Ami memang sempat shock, bukan saja karena kemarahan yang dirasakannya namun juga karena dia tidak pernah melihat gambar-gambar cabul dan porno sebelumnya. Pada mulanya memang Ami merasa jijik dan marah melihat website tersebut, namun semakin lama ia menjelajahi berbagai website dan blog cabul itu, rasa marah dan jijik yang dirasakan di menit-menit pertama berubah menjadi rasa malu. Wajah Ami yang lembut ini bersemu merah melihat foto-foto dalam website dan blog cabul tersebut, apalagi ketika dia melihat foto-foto wanita berjilbab yang berwajah mirip dirinya tengah mengulum batang penis laki-laki yang tegang.

Mata Ami yang lebar ini membelalak nyaris tak berkedip melihat foto-foto wanita yang tengah mengulum batang penis laki-laki itu. Mata Ami tak lagi memperhatikan wanita yang berwajah mirip dirinya namun matanya kini lekat melihat batang penis laki-laki yang tengah dikulum dan ada juga yang diremas oleh wanita itu. Ami menggigit bibirnya kuat-kuat menahan debaran jantungnya yang berdegup kian kencang melihat urat-urat penis laki-laki yang menonjol dalam foto tersebut. Tubuh gadis ini gemetar ketika tanpa disadarinya dia mengkhayalkan dirinya yang mengulum penis laki-laki yang menggiurkan itu. Seumur hidupnya, baru kali ini Ami melihat batang penis laki-laki walaupun hanya dalam foto, terlebih penis berukuran istimewa itu dalam keadaan tegang. Nafas Ami mulai memburu dan dia mulai merasakan denyutan-denyutan di bagian dalam kemaluannya yang terasa gatal sebagaimana layaknya wanita yang mulai terangsang birahi. Ami memang seorang gadis baik baik dan selama ini jauh dari berbagai hal yang porno, namun Ami tetap seorang wanita normal yang mempunyai gairah terhadap lawan jenisnya. Ami yang telah berusia 23 tahun seringkali timbul gairah birahinya kepada lawan jenisnya secara alamiah Ami sering terangsang terhadap lawan jenisnya, namun apabila birahinya mulai terangsang, gadis ini segera menekannya dengan berbagai aktivitas. Ami merasa dirinya mampu menjaga diri dan mengendalikan birahinya, tidak seperti beberapa rekan mahasiswa lainnya yang diketahuinya melampiaskan birahinya dengan bermasturbasi. Saat Ami menanyakan alasan mereka melakukan masturbasi, beberapa yang di antaranya adalah teman kostnya itu menjawab bahwa masturbasi lebih baik daripada ML sementara mereka masih belum berani menghadapi resikonya.

Kali ini birahi Ami juga merasa terangsang namun rangsangan itu bukan datang secara alamiah atau gangguan dari orang lain. Birahi gadis ini terusik karena perbuatan dirinya sendiri sehingga kali ini Ami merasa kesulitan untuk mengendalikannya seperti biasanya. Kian lama birahinya semakin kuat membuat Ami melupakan doktrin moral yang selama ini dipeganginya dan keberadaannya sebagai salah seorang aktivis penentang pornografi dan pornoaksi.

Box warnet yang tertutup itu membuat Ami leluasa menjelajahi berbagai website erotis dan porno yang didapatinya dengan search engine Google, terutama yang menampilkan foto-foto laki-laki telanjang bulat dan mempertontonkan penis mereka yang tegang. Nafsu birahi Ami yang mendorongnya tak lupa untuk menyimpan foto-foto tersebut ke dalam flash disk miliknya. Hampir satu jam kemudian wajah Ami yang tengah dilanda birahi sudah sangat memerah dan terlihat kontras dengan jilbab putih yang dipakainya. Bajunya tanpa disadari sudah kusut semua, karena sebelumnya ia tak mampu menahan tangannya untuk meremas remas bagian dadanya saat ia merasakan buah dada yang terbungkus BH berukuran 34B itu menjadi sangat kencang dan mengeras.

Satu jam lebih lamanya Ami dilanda birahi dalam box warnet bernomor 10 yang tertutup itu. Dalam keasyikan menjelajahi website-website porno tiba-tiba Ami dikejutkan bunyi pertanda SMS masuk di HP nya.

“Hmm..dari Fitri..” gumam Ami ketika melihat sms yang dikirim oleh salah seorang teman di tempat kostnya yang seluruh penghuninya adalah perempuan.

Isi sms itu mengabarkan bahwa salah seorang penghuni di tempat kost mereka terpergok menyimpan berbagai bacaan dan gambar porno di kamarnya dan juga kondom. Mendapat sms dari Fitri seperti itu, tubuh Ami gemetar. Gadis ini segera tersadar dari apa yang sedang dilakukannya di box warnet ini. Akhirnya dengan perasaan kalut, Ami menutup seluruh website porno yang telah dikunjunginya dalam waktu satu jam lebih ini dan bermaksud segera angkat kaki dari warnet ini. Ketika seluruh windows website-website porno itu telah tertutup hingga tinggal tampilan dekstop yang terlihat di layar monitor, mata Ami melihat sebuah icon yang berjudul Koleksi Movie di layar monitor. Tiba-tiba timbul keinginan Ami untuk mengkliknya sehingga dia menunda untuk segera keluar dari box warnet. Setelah ia mengklik dua kali icon tersebut, terpampanglah puluhan folder judul film yang tengah menjadi box office di layar monitor. Namun mata gadis berwajah cantik ini melihat salah satu folder berjudul IndoParadiso yang membuat dahinya berkerenyit heran. Dengan diliputi rasa heran, Ami mengklik folder berjudul IndoParadiso itu yang sekejap kemudian terpampang 2 file film berukuran besar yang membuatnya semakin penasaran. Niatnya untuk keluar dari box warnet tertunda ketika rasa penasaran itu mendorongnya mengklik file film berjudul IndoParadiso yang berukuran lumayan besar.

“Ahh!”

Ami terpekik kaget ketika file film itu terbuka ternyata merupakan file film porno. Tubuh Ami seketika menjadi gemetar dan dadanya berdegup kencang. Setelah satu jam yang lalu ia browsing menjelajahi website-website porno yang menampilkan gambar-gambar porno yang tak bergerak, ternyata kini dia menemukan film yang menyuguhkan gambar cabul yang bergerak. Kembali Ami terombang-ambing antara keinginan melihat dan rasa bersalah, akan tetapi nafsu birahi ternyata masih menguasainya membuat Ami kembali duduk dalam box warnet seperti semula. Matanya berbinar lebar menyaksikan film yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan akan dilihatnya. Film lokal amatir produksi dalam negeri.

Ami kian tenggelam mengikuti jalan cerita film tersebut. Birahi Ami kian menguat ketika adegan percintaan pasangan dalam film itu dieksploitasi dengan detail. Gadis yang tengah dilanda birahi ini hanya terengah-engah menyaksikan adegan-adegan persetubuhan yang dimulai hanya 10 menit setelah film dimulai. Puluhan menit berikutnya boleh dikatakan film itu dipenuhi adegan-adegan persetubuhan pria dan wanita degan detail dan close up, membuat Ami yang menonton film tersebut hanya terengah-engah dalam birahi yang kian menggelegak. Ia kembali tenggelam dalam libidonya di depan monitor yang menayangkan film porno. Kali ini Ami tidak hanya sekedar meremas buah dadanya sendiri, ia menyingkap roknya sampai pinggang sehingga terlihat sepasang pahanya yang padat dan mulus. Tak sekedar itu, namun ia juga menelusupkan tangannya ke balik celana dalam krem yang dipakainya, lantas dengan bernafsu jemari tangan Ami menggosok belahan kemaluannya yang kemerahan. Gadis menawan ini ternyata mempunyai kemaluan yang indah, membukit putih mulus tanpa sehelai rambut kemaluan yang menghiasinya karena rajin dibersihkan. Bibir kemaluan Ami yang kemerahan kian terlihat memerah ketika tangannya menggosok-gosokkannya penuh nafsu birahi.

Di saat tangan kiri Ami mngggosok-gosok belahan kemaluannya, tangan kanannya segera menyusup ke balik BH berukuran 34B yang dipakainya. Ami mempunyai sepasang payudara montok membukit indah yang kini terasa kian mengeras. Birahinya telah demikian menggelegak ketika tangannya meremas-remas payudaranya sendiri sambil memelintir putting susunya. Entah darimana Ami belajar bermasturbasi padahal sebelumnya tidak pernah satu detikpun dia melakukan perbuatan masturbasi sebagaimana teman-teman lainnya. Mata Ami melotot adegan-adegan mesum yang terpampang di layar monitor sementara kedua tangannya merangsang kemaluan dan payudaranya sendiri.

Puluhan menit berlalu ketika tiba-tiba HP Ami berbunyi nyaring membuat Ami yang tengah asyik dalam birahinya terlonjak kaget, kali ini nada HPnya adalah nada panggil bukan nada SMS. Ketika melihat nama Fitri yang terpampang di layar HP, Ami segera menghentikan meremas payudaranya lalu dengan wajah yang kesal ia mengangkat telepon.

“Ada apa Fitri?..” tanya Ami dengan sedikit kesal.
“Maaf Ami …gimana sms saya tadi…apa Tia perlu dikeluarkan juga dari tempat kost kita sebagaimana beberapa orang sebelumnya?” tanya Ima.

Ami terdiam. Tia adalah penghuni kost yang dimaksud dalam sms dari Fitri sebagai gadis yang mengkoleksi gambar dan cerita porno juga kondom di tempat kost mereka. Sebenarnya sudah lama Ami mencurigai Tia menyimpan koleksi yang disebutkan itu. Apalagi dalam kesehariannya, Tia lebih bebas dalam berpakaian dan bergaul.

“Tunggu dulu…biar saya datang dulu…Tianya kemana?”
“Sudah pergi ..mungkin malu dia..tapi barang-barangnya masih di kamarnya dan barang-barang cabul itu sudah saya amankan.”

Ami kembali terdiam.

“Ya nanti kita bicarakan.. tunggu aku datang aja.”

Ketika kembali pandangan Ami ke layar monitor, film tersebut sudah mendekati akhir, berarti satu jam lebih gadis cantik ini tenggelam dalam birahi ketika menonton film tersebut. Telepon tadi ternyata mampu membangkitkan kembali kesadarannya akan perbuatan yang sedang dilakukannya. Dengan gontai Ami membenahi pakaiannya yang awut-awutan dan membuatnya setengah telanjang. Untunglah box warnet itu tertutup rapat tak seorangpun melihat keadaan Ami dengan aurat yang tersingkap lebar.

Ami keluar dari box warnet nomor 10 setelah hampir 4 jam dia berada di dalamnya. Pakaian yang dipakainya terlihat kusut masai di bagian dada. Ami berjalan gontai dengan pikiran yang kalut berniat menuju kasir warnet, namun ia merasakan celana dalam dan BH yang dipakainya terasa basah membuatnya risih. Ami menghentikan langkahnya ke meja kasir dan berbelok ke toilet warnet. Dalam toilet yang cukup bersih itu, Ami melepas celana dalam krem yang dipakainya . Ami memperhatikan celana dalam yang terasa basah oleh lendir cukup banyak. Sekian jam Ami tenggelam dalam birahi membuatnya berulangkali menyemprotkan cairan kenikmatan yang membuat celana dalamnya basah. Ami juga melepas BHnya yang ternyata juga ikut basah. Entah kenapa, walaupun belum menyusui (bahkan belum menikah), kedua puting Ami mengeluarkan ASI, dalam jumlah banyak pula. Ami memandangi dua underwear yang dipakainya tadi. Merasakan begitu basahnya celana dalam dan BHnya, tiba-tiba Ami dikuasai nafsu kembali. Semua yang tadi dilihatnya di layar monitor tadi, muncul lagi di pikirannya yang biasanya bersih. Tidak dapat menahan birahi, kedua tangan Ami kembali merangsang kemaluan dan payudaranya. Bahkan Ami nekat melakukan sesuatu yang tidak akan pernah dia lakukan jika sedang dalam keadaan normal, yaitu menjilati celana dalam dan BHnya yang basah kuyup itu. Dirasakannya cairan kenikmatan yang membasahi celana dalamnya, yang membuatnya makin jauh tenggelam dalam nafsu birahi.

Menyadari dirinya berada di dalam ruang yang tertutup sama sekali, Ami pun nekat menelanjangi dirinya, membuka pakaian, rok, dan jilbab yang dia pakai. Dalam keadaan tanpa sehelai benang pun itulah Ami makin gila bermasturbasi. Ami membayangkan laki-laki yang bermain di film porno yang dia tonton sedang bermain cinta dengan dirinya, dan mereka melakukannya dikelilingi kamera syuting. Gadis itu membayangkan dirinya tengah berperan dalam sebuah film porno, menikmati berada dalam keadaan yang sangat kotor, yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Tangan kanannya meremas payudaranya, tangan kiri menggosok kemaluannya, dan lidah menjilati celana dalam dan BHnya, semua dilakukan telanjang bulat! Hilang sudah kepribadian Ami yang alim dan jauh dari hal-hal yang berbau porno. Ami yang sekarang adalah Ami yang dikuasai penuh oleh nafsu duniawi yang sangat nikmat dan semu. Desisan demi desisan dikeluarkannya, bahkan desahan dan erangan pun keluar. Dirinya sudah lupa sama sekali tentang status aktivisnya, bahkan hal-hal yang dia tentang hingga dia perjuangkan. Semuanya menguap begitu saja. Setelah 30 menit tenggelam dalam libido, dirinya kembali ke dirinya semula. Makin malu oleh keadaannya yang sekarang. Ami segera membungkus celana dalam dan BH yang semula membungkus bagian vital bawah dan atasnya dengan tisu kemudian disimpannya dalam tas miliknya. Sebelum keluar toilet, Ami sempat mencuci kemaluannya yang terlihat putih kemerah-merahan tanpa sehelai rambutpun yang terbiarkan tumbuh. Bukit montok kemaluan Ami yang mulus dengan bibir kemaluan yang merekah merah itu dicucinya berulangkali sebelum dilap dengan tissue. Ami juga mencuci payudaranya yang basah, hingga yakin bahwa payudaranya tidak akan basah lagi. Dengan bajunya yang tertutup jilbab, ia merasa yakin tak seorangpun mengetahui dirinya saat ini tidak memakai celana dalam dan BH saat ini.

Ami membuka pintu toilet lantas dengan sangat canggung, gadis ini berjalan menuju ke kasir warnet yang masih dijaga oleh sang cowok. Cowok itu memandang Ami dengan pandangan penuh arti sembari tersenyum.

“Sudah mbak?” tanyanya sembari tetap memandang keseksian gadis dihadapannya.
“Ya.” jawab Ami pendek sambil menyodorkan lembaran uang pecahan 20 ribu.

Ami menyadari pandangan cowok itu yang seakan ingin menelanjanginya sehingga membuatnya tidak menyukai pandangan cowok tersebut.

“Mbak jadi member aja…koleksi film kita nambah terus lho. Makin asyik lho.” ujar cowok itu sambil menghitung uang kembalian.

Ami terperanjat kaget mendengarnya, wajah gadis ini seketika menjadi merah padam. Ami tidak menyangka kalau operator warnet bisa mengetahui dia melihat film porno dalam box warnet.

“Mmm…makasih aja.” ujar Ami tergagap lantas tiba-tiba saja ia setengah berlari menuju pintu keluar warnet.

Wajahnya yang merah padam tertunduk dalam-dalam menahan rasa malu yang dirasakannya.

“Kembaliannya mbak!!..” teriak cowok operator warnet ini namun Ami tidak lagi mendengarnya.

Begitu keluar dari warnet Ami juga tidak menunggu angkot seperti biasanya namun tangannya segera melambai menghentikan taksi yang lewat.

Kembali ke warnet, si cowok operator membuka sebuah folder di layar monitornya, kemudian ia membuka dua file didalamnya. Begitu satu file dibuka, terlihatlah sang gadis yang tadi menyewa box no 10. Ya, gadis itu adalah Ami! Dari kamera CCTV yang rupanya terpasang tanpa disadari di box, menunjukkan Ami sedang berada dalam keadaan bergairah melakukan masturbasi. Cowok itu tersenyum menyeringai, karena mendapatkan video pribadi yang sangat bagus. Operator kemudian membuka file lainnya lagi, yang menunjukkan Ami sedang di toilet! Ternyata CCTV juga terpasang di toilet. Si cowok operator seketika tegang melihat Ami yang berjilbab berubah menjadi sangat binal dan memberikan tontonan yang sangat memainkan nafsu penontonnya tersebut. Setelah meledak di celana (si cowok juga gak tahan lagi), si cowok tersenyum lagi. Senyuman yang licik. Dengan rasa tidak bersalah, dia mengupload dua video itu di salah satu situs, dengan judul post “Cewek alim juga bisa binal”. Dua video pribadi Ami pun tersebar di dunia maya, siap untuk ditonton jutaan pengguna internet di Indonesia.

Sementara itu, di taksi Ami terdiam bisu. Dia merasa telah menghancurkan citranya sendiri, dengan melanggar batas-batas moral yang sangat kuat dia anut.

Ami pun tidak tahu, apa yang akan terjadi pada dirinya esok

AKU DAN PENGALAMAN SEKS PERTAMAKU

Namaku Tiffany Ananstasia Tan. Ini adalah nama yang aku pilih sendiri waktu aku kelas 1 SMP. Wah, kok bisa beda? Iya, aku terlahir dengan nama Tan Mei Xiu, lahir di Tainan 17 tahun yang lalu. Kok bisa terdampar di Indonesia? Yes. Pada saat lulus SD, papa diminta untuk menjadi technical support manager di sebuah perusahaan Taiwan di surabaya. Inilah yang membuat seluruh keluarga saya pindah ke Surabaya. Pada saat saya daftar di sebuah SMP swasta di Surabaya, saya melihat nama-nama siswa tidak ada yang menggunakan huruf hanzi, semua menggunakan bahasa latin karena itu saya mengganti nama saya dengan nama itu, tiffany Ananastasia Tan.

Susah payah saya belajar bahasa indonesia dalam waktu setahun. Inilah yang menyebabkan saya tertinggal pelajaran 2tahun di indonesia. 1 tahun penuh saya belajar bahasa indonesia, setahun setelahnya saya mengulang kelas 6SD karena perbedaan standarisasi pendidikan membuat saya harus mengulang SD 1 tahun. What a mess! Maybe ini yang harus dibenahi oleh government supaya standarisasinya bisa setara secara internasional.

Gara-gara itu hilang waktu 2 tahunku yang berharga. Namun, kalau suruh milih hidup di Tainan atau di Surabaya, saya akan jawab hidup di Surabaya. Di sini semua serba murah, mau sekolah tinggal naik mobil supir sudah siap jemput pada saat kita pulang sekolah. Makan ada pembantu yang masakin. Bener-bener hidup mewah. Jika di Tainan? Mana bisa, boro-boro pake supir. Kemana-mana naik kendaraan umum. Kalo ada film crazy rich asian? Yang paling crazy rich asian itu absolutely orang-orang Indonesia.

Tahun ini aku memasuki umur 17 tahun, namun berbeda dengan kebanyakan yang sudah menginjak kelas 3 SMA, aku umur 17 tahun baru masuk kelas 1 SMA and this is make me something weird. Karena hampir semua teman-temanku berumur dibawahku dan you know? Teman yang ga paham sejarah bakal bilang aku ga naik kelas and it’s absolutely annoying.

Aku sendiri termasuk orang yang super duper cuek. Penampilaku bisa dibilang acak-acakan. Berbeda dengan nonik-nonik seumuranku yang mulai beli makeup kelas tinggi, aku sendiri tidak terbiasa dengan itu semua. Paling-paling hanya bedak dan catokan. Jadi kalo dibilang cewek itu perisapan kalo mau pergi lama banget, lu yang salah pilih cewek, gan!

Kalo mau lebih detail tentang diriku, aku ini orangnya pendek. Tinggiku ga lebih dari 150cm. Namun, aku punya gumpalan payudara yang sekal kalo meneurut temen-temenku. Lagi-lagi aku ga begitu perhatian dengan hal itu. Aku hanya mendengar dari celotehan gila anak-anak cowok di sekolah. Emang sih ukuran bh-ku 34B, terasa besar untuk anak semungil aku. Cuma ada satu hal yang aku suka, beberapa anak cowo di sekolah bilang kalo aku ini cewek yang agak exhib. Tau kan ya apaan itu? Jangan bilang aku harus kasih penjelasan di sini. Aku suka pakai bh merk La Senza, describe yourself about that bra. Lucu dan warna-warni. You know, ada bh la senza army. Sexy abis dong ya.. dan aku pakai bra itu ke sekolah tanpa pakai baju dalem lagi. Of couse, bhku kadang ngecap di balik seragamku yang cukup tipis. I don’t know how thin it is but, for me it’s realy thin. Tapi aku suka banget kayak gitu. Liat mata cowok melotot atau sampe muter badan gara-gara liat betapa sexy nya aku ini adalah kebahagiaan tiada tara.

Karena sikapku yang seperti itu ditambah aku adalah orang yang sangat supel, gampang sekali bagiku untuk mencari teman cowok dan cewek and you know temen cowokku of course lebih banyak daripada temen cewekku. Banyak sekali temen-temen yang berusaha mendekatiku untuk menjadi pacar. But, I don’t think about it now. I’m really want to explore my world before I get stuck with one damn love.

Pagi itu aku memulai hari ini dengan kegiatan yang super duper boring, sekolah. Bagiku hal ini tidak begitu mengasyikkan untuk remaja seusiaku ini. Mungkin pembaca juga memiliki feel yg sama dgn aku? Hahaha. Tapi yang jelas, rutinitas ini tetap aku jalankan dengan semangat agar cepat lulus dan terhindar dari keboringan ini.

Seperti biasa begitu aku masuk kelas, beberapa temanku sudah siap menyerbu aku. Fans? Bukaann. Mereka adalah anak-anak pemalas yang ingin copy Pe-eR. Sesaat setelah aku duduk, mereka langsung duduk manis di kanan dan kiriku mengerjakan Pe-eR yang 30 menit lagi dikumpulkan. Lucu aja melihat temen-temen cowok di sekolah seolah nge-fans sama aku, ups.. Buku catatanku ding bukan sama aku. Ge-eR aja aku sih.

“Tif, thanks ya udah kasih pinjem Pe-eR mu,” celetuk Gilang yang langsung balik ke mejanya bahkan melihatku pun tidak.

“Makasih yaaa” kata kata ini satu persatu dilontarkan oleh teman-temanku yang 80% cowok itu. Ada juga sih beberapa cewek yang ikut ngopi kerjaanku. Bagiku ga masalah sih. Yang penting aku yg kerjain sendiri pinternya kan buat aku.

“好的, 不客气” kataku kepada mereka yang seperti biasa dibalas dengan muka datar. Lagi-lagi aku lupa ini di indonesia. Aku sepertinya harus lebih mengendalikan lidahku nih. Cuma lumayan kalo mau ngumpat, pake bahasa mandarin aja sebagian besar mereka pasti ga tau.

“Tif, 你好?” Jonathan yang duduk semeja denganku datang sambil meletakkan tas dikursinya. Brukk!! Buset berat kali ya tas nya macam bawa bata.

“我很好,” balasku sambil membuka buku pelajaran pertama yang paling melelahkan. Akuntansi bisnis. Jujur ini pelajaran yang melelahkan namun sangat menyenangkan. Mungkin karena aku terbiasa membantu papa dalam menganalisa saham yang akan dibelinya. Just for your information, my father not only work as a worker but also an investor. So, aku terbiasa baca laporan-laporan keuangan. Tapi hanya menganalisa bukan membuat. That’s why bagiku membuat laporan ini sangat melelahkan.

Pelajaran pertama telah dimulai. Pemandangan seperti biasanya terlihat. Anak anak cewek pada serius mencatat apa yg dijelaskan guru di projector, anak cowok pandangannya pada kosong, ada yang tidur, ada yang gambar-gambar, ada yang ngobrol dengan teman semejanya. Bahkan ada yang nonton video, baik film box office maupun film porno. Hahaha. Beginilah suasana kelas setiap harinya. Aku yang duduk di kursi pojok kanan belakang mampu mengamati semua anak-anak di kelas. Kenapa pilih bangku ini? Karena sebelah kursiku ini jendela, kalau bosan aku bisa lihat orang lalu lalang di jalan depan sekolahku. Saat asyik-asyiknya melihat tukang telur gulung mempersiapkan lapaknya, aku ditegur oleh Pak Handoyo, Guru Akuntansiku.

“Tiffany, tolong bapak ambilkan berkas ujian yang sudah bapak periksa di ruang guru,” katanya.

“Baik Pak, saya berangkat. Sekaliam izin ke toilet ya pak,” balasku.

15menit berlalu setelah aku ke toliet untuk buang air kecil dan mengambil berkas yang diminta. Aku kembali ke kelas.

“谢谢, pak” kataku sambil terbengong melihat semua anak sudah membentuk kelompok. Pak Handoyo memintaku untuk masuk ke salah satu kelompok yang masih ganjil. Memang kelasku berjumlah 24 orang sehingga jika dibagi 6 kelompok menjadi pas sekelompok ada 4 orang. Bagiku sih kelompok dengan siapapun tidak masalah asalkan bisa diajak kerjasama.

Terlihat kelompok sisa adalah Kelompok yang disudut dekat mejaku, Jonathan, Anthony, dan Felix. Hmm.. Begundal-begundal ini yang menjadi teman satu kelompokku? Okelah. No problemo. Aku langsung masuk dalam kelompok tersebut dan mulai mengerjakan tugas yang diberikan Pak Handoyo. Mereka? Ngobrol dong.. Mana mau bantuin kerja tugas, paling-paling bilang “ntar gw traktir dah, kerjain gih tugasnya”.

Dipenghujung pelajaran Akuntansi ini Pak Handoyo menjelaskan bahwa ada tugas yang harus dikerjakan di rumah untuk setiap kelompok yaitu mengerjakan laporan mulai dari Jurnal, buku besar, Jurnal Penyesuaian, sehingga akan keluar Laporan Laba Rugi dan Neraca serta laporan arus kas. Gila banyak banget. Memang sih tugas ini sebagai pengganti ujian tengah semester tapi tetap saya buanyak banget yang harus dikerjakan. Apalagi dapet kelompok yang kayak gini. Apes deh, sudah pasti aku yang kerjain semuanya.

“Tif, gimana kalo sabtu ini kita kerja di rumahku. Mumpung sabtu ini papa mamaku pergi keluar kota ada undangan pernikahan kolega. Kokoku juga ikut jadi kita bisa bebas kerja tugasnya,” kata Felix berapi-api.

“Iya Tif, di rumah Felix aja,” Sambung Jonathan.

“Aku sih ngikut aja lah, yang penting tugasnya selesai dan dapat nilai bagus,” balasku sekenanya.

Sabtu adalah hari yang paling menyenangkan bagi kami para pejuang ijazah. Why? Karena sekolah kami fullday school dimana jam belajar kami hanya dari hari senin hingga jumat mulai pukul 07.00 hingga 15.30. sehingga hari sabtu adalah hari yang paling menyenangkan selama sepekan.

Sesuai kesepakatan aku dan teman-temanku mulai mengerjakan tugas pukul 10.00 namun maafkan aku yang pemalas ini baru bangun 09.30 itupun bangun gegara 12 misscall dari teman-temanku bahkan ada 26 whatsapp yang tidak terbaca. Namanya juga hari libur boleh dong bangun siangan dikit.

Seusai mandi aku persiapkan semua buku-buku dan memakai baju yang menurutku nyaman, T-Shirt putih dan hotpants hitam. Aku sangat menyukai T-shirt putih karena pasti bhku samar-samar terlihat dibalik baju. As you know, my friend told me I’m a exhib. Setelah semua selesai aku pamitan dengan papa mamaku sembari mencaplok roti meses buatan mama. Tidak lupa aku memesan taxi untuk mengantarkan aku ke rumah Felix. Maklum waktu itu belum ada yang namanya grab and go-jek.

Rumah Felix ini berada di salah satu komplek perumahan mewah di barat surabaya. Berdiri megah dihadapanku, aku berusaha menekan bel pintu yang tingginya bak langit yang biru. Itu belnya ketinggan apa aku yang kependekan ya? hahaha.. Sampai-sampai bapak supir taxi nya turun bantu aku mencet bel itu.

Tak lama kemudian muncul lah seseorang yang cukup tinggi, aku hanya seketeknya doang. Tingginya aku taksir 185cm, berdiri tegap dengan tangan yang kekar dibalik T-Shirt lusuhnya. Kulitnya hitam legam membuat aku sedikit begidik.

“Maaf non, mau cari siapa ya?” Orang itu bertanya.
“Oh iya.. Um.. pak, saya m.. mau cari Felix,” Jawabku agak terbata-bata.
“Temannya ko Felix, ayo non saya antar,” balasnya ramah.

Aku masuk ke dalam rumahnya yang punya ruang keluarga besar serta taman samping dilengkap kolam renang yang menghadap ke lapangan golf. That’s very relaxing.

“Eh, Tif.. 你来了,” tiba-tiba aku dikagetkan suara seseorang dari atas.
“是,” balasku.

Ternyata itu adalah suara Jonathan dari void atas rumah ini. Aku langsung menuju lantai 2 menghampiri Jonathan.

“Yang lain kemana, Jo?” Tanyaku.
“Mereka ada di kamar tuh lagi asyik nonton,” balasnya. “Yuk ikutan”

Begitu masuk ke kamar Felix aku agak kaget karena ternyata yang mereka tonton adalah film bokep jepang dimana seorang cewek jepang yang mengenakan pakaian sailor khas pelajar jepang sedang di grepe-grepe oleh beberapa cowok. Sebenernya aku ga terlalu shock sih. Ga munafik lo, aku juga udah sering liat begituan. Bahkan dari kelas 1 SMP. Emang Indonesia ini bisa merubahku menjadi lebih baik. Hahaha.

Sebenernya awalnya kelas 1 SMP aku punya temen semeja namanya Lydia. Dia yang kasih tau aku kalo gesek-gesek meki pake guling itu bisa berasa nikmat banget. Aku coba malamnya eh, ternyata beneran enak gimana gitu. Besoknya aku ceritain sama temenku itu, enaknya gimana. Doi malah bilang, sambil gesek-gesek, sambil liat film ini, aku diberi sebuah flashdisk. Itulah pertama kali liat film bokep. Karena penasaran aku malah surfing di internet tentang video-video bokep jepang dan barat. Cuma kalo softcore boring juga ya, makanya aku juga surfing yang aneh-aneh kayak gangbang, rape, bahkan BDSM. Ngilu-ngilu gimana gitu ngerasainnya. Bayangin aja untuk film gangbang, meki lu disodok konti sampe setengah lusin. Edan ga?

Back to the Felix Room, aku melihat Felix dan Anthony sama-sama memengangi konti nya yang masih terbungkus celana boxer yang mereka pakai. Melihatku masuk ruangan ini, Anthony langsung menyuruhku duduk di tengah-tengah mereka. Aku yang easy-going ini ya langsung duduk di tengah-tengah mereka sambil lanjut nonton film bokep ini. Geli juga rasanya liat bokep ditemenin 3 cowok yang horny berat pastinya. Dalam hati, kalo ga bisa jaga hati, bisa lepas nih perawan.

Tapi sepertinya keperawananku ini bakal hilang hari ini. Aku udah berpikir keperawananku pasti jatuh ke salah satu dari mereka. Emang sih dalam hati kecil pingin nyoba ml itu seenak apa sih? Kok sampe banyak orang yang menjadikan ml seperti kebutuhan. Tapi disisi lain aku harus jaim dong. Makanya aku tetep diem sambil menunggu reaksi mereka.

Apa yang aku pikirkan mulai jadi kenyataan, tangan-tangan nakal mulai merabai pahaku. Setiap tangan itu menyentuh pahaku, aku buang tangan itu, tapi sesekali aku biarkan. Tangan-tangan itu lama-lama naik ke perut dan mulai meremas lembut payudaraku. Begitu tangan itu meremas payudaraku ini, aku spontan menghalau dan mencoba ganti topik.

“eh, yuk kita mulai kerja kelompoknya,” aku mencoba mengalihkan perhatian

“Udah ntar aja kerja kelompoknya, kita hepi-hepi dulu aja,” Felix berkata sambil memegang daguku

Setelah itu Felix langsung mencium bibirku. Anthony mulai pindah duduk diatas kasur dibelakangku dan mulai meremas payudaraku lebih intens. Jonathan mulai duduk didepanku dan membuka kakinya yang duduk bersila dan dia mulai menggesek-gesekkan tangannya di meki-ku yang tertutup celana hotpants.

Napasku mulai tersengal-sengal mengimbangi Felix yang sedang asyik mencumbuiku. Aku pejamkan mataku menikmati first kiss ku ini. Tanpa sadar kaosku ini telah terangkat diatas payudaraku dan Anthony mulai asyik meremasi payudaraku yang masih terbungkus bra. Tapi jujur sih aku cuma ngerasa geli-geli gitu belum sampe yang diceritakan orang kalo ml itu uenak banget.

Begitu aku membuka mata dan melihat celanaku sudah lepas dari tempatnya. Which is aku tinggal memakai celana dalam dan baju yang terangkat di atas payudaraku. Melihat aku sudah membuka mata, Anthony langsung melepas bajuku dan kaitan bra yang ada di punggungku.

Tada… pertama kalinya payudaraku yang indah ini dilihat orang lain. Aku sendiri masih memilih untuk cuek. Menanti langkah selanjutnya akan diapakan aku ini. Sama sekali tidak ada perlawanan. Apa mungkin karena kata-kata manis yang terus dilontarkan mereka ya? Cantik lah.. seksi lah.. ah.. sudahlah yang penting sekarang aku bisa ngerasain ml itu seperti apa. Tekatku sudah bulat untuk mengakhiri hubunganku dengan keperawanan. Biasanya cewek bakal nangis-nangis karena merasa akan diperkosa. Tapi ini beneran loh aku biasa aja. Kayak ya udah gitu kalo emang harus ilang perawan ya udah. So what?

“Enak kan Tiff,” Kata Anthony sambil mencium tengkuk-ku

Tangan tangan jahil mereka tidak pernah berhenti meraba setiap senti tubuhku. Aku hanya bergelinjing kecil dan dengan satu kentakan, lepaslah sudah celana dalamku. Jonathan takjub melihat daerah kewanitaanku yang masih tertutup bulu yang sangat lebat. Aku sendiri jarang mencukur buluku ini.

“Tif, bulu ini dicukur dong biar rapih,” Kata Jonathan.

“Kenapa? Jijik ya?” Balasku

“Nda sih, cuma mau cari lubangnya aja susah banget,” Jonathan yang sibuk cari lubang cintaku

“Ah, itu kamu doang yang ga pro,” Balasku memprovokasi

Eh, kena provokasiku, mukanya Jonathan merah banget. Malu dia kayaknya. Apalagi Anthony sama Felix ikutan ketawa gara-gara aku bilang ga pro. Hahaha. Jonathan bangkit berdiri lalu mengambil gunting dan dicukurlah buluku sedikit demi sedikit. Alesannya katanya biar plontos kayak bayi. Padahal dia cuma nutupin gengsinya aja. Malu Jo malu…

Aku melihat meki ku udah polos kayak aku dulu kecil. Tidak berbulu sama sekali. Jonathan sukses menggunduli hutan privatku. Jonathan kini bebas menjilat meki ku yang sudah tidak berbulu ini. Bener-bener geli saat lidahnya menjilati meki ku ini. Tidak berapa lama kemudian aku merasakan badanku panas dingin dan muali bergetar. Inilah orgasmeku yang pertama kali. Bener-bener rileks, ini toh yang dibilang orang lain ml itu enak. Kenyataannya emang enak banget waktu badan bergetar.

Aku dibiarkan beristirahat sesaat, mungkin mereka tau aku baru pemula. Namun itu tidak berlangsung lama mungkin hanya semenit dua menit, setelah itu mereka kembali berdiri disampingku sambil membuka celananya beserta celana dalamnya.

Ini pertama kali aku melihat penis cowok. Bentuknya lucu kayak sosis. Mereka bergantian memasukkan pensinya ke mulutku meminta oral sex. Aku mencoba memasukkan penis itu perlahan ke mulutku, rasanya asin-asin gimana gitu… awalnya sih geje banget ya.. aku suru ngisep, ga ngerasa apa-apa lo selain megap-megap. Apa mungkin itu sensisasinya. Namun lama kelamaan lucu juga penis itu maju mundur di mulutku, lidahku mulai mengerjai penis itu, aku putar-putar dengan lidahku dan sedikit aku gigit penisnya.

Melihat Felix merem melek keenakan gitu, aku malah gemes. Aku percepat seponganku ini dan kumasukkan penis itu sedalam mungkin hingga menyentuh dinding belakang mulutku. Tidak lama kemudian, Felix mencabut penis yang bener-bener basah karena ludahku ini. Setelah dia mencabut penisnya, aku direbahkan di kasur lalu Felix membuka kakiku.

“Lix, tolong pelan-pelan, aku belum pernah,” Balasku pelan karena lagi-lagi mulutku dimasuki oleh penis Jonathan.

“iya” balasnya sambil memasukkan penisnya secara perlahan. Baru kepalanya masuk aku udah ngerasa nyeri banget. Perlahan sekali Felix mengeluarkan lagi penisnya dan dimasukkan lagi. Rasa nyeri ini agak tertutup dengan geli yang aku terima saat Anthony mulai memainkan puting payudaraku. Dipilin-pilih lembut puting payudaraku membuat aku merasa nyaman dalam kegelian ini. Begitupun mulutku yang sedang menerima penis milik Jonathan yang dimaju mundurkan oleh pemiliknya.

“Arrgghhh.. sshhh.. aduhh, pelan-pelan Lix,” aku mulai kesakitan dengan perlakuan Felix.

“Kalo ga dihajar ga bisa masuk, seret banget punyamu,” Balasnya

Bener-bener sakit banget waktu Felix berusaha memasukkan penisnya ke dalam meki-ku. Gila, ini toh usaha cowok mecah perawan. Sakit banget. Tiba-tiba mataku terbeliak, penis yang ada dimulutku juga dikeluarkan, badanku semua kaku. Aku merasakan sakit yang teramat sangat. Air mataku juga menetes di samping mataku. Bukan karena perawanku yang akhirnya hilang tapi rasa sakit yang bener-bener menguasaiku ini membuat aku menangis.

Felix yang sudah berhasil menembus selaput daraku ini masih tidak menggerakkan penisnya. Mungkin dia memberikan ruang bagiku untuk bernapas. Jonathan dan Anthony juga membiarkan aku yang sedang mengumpulkan energi ini berdiam diri sejenak barang semenit atau dua menit.

Setelah meliahat aku cukup siap untuk melanjutkan, Felix mulai memaju mundurkan penisnya di lubang meki-ku yang sempit ini. Namun rasa sakit ini sudah tidak seperti yang pertama. Ada rasa aneh yang menyeliputi diriku. Hal ini mungkin dikarenakan gesekan penis Felix dengan dinding meki-ku. Aku mencoba untuk sesantai mungkin menikmati penetrasiku ini.

Lama kelamaan rasa sakit itu mulai hilang berganti rasa yang berbeda. Belum merasakan yang enak seperti yang dikatakan orang sih, cuma sudah mulai feel good. Anthony yang melihatku mulai rileks, mulai menjahili tubuhku lagi seperti menciumi dan memilin putingku. Hanya, Jonathan tidak terlihat disekitarku. Dia lebih asyik melihat kami beradegan panas sambil mengocok penisnya sendiri di sudut ruangan.

“Jo, ngapain disana.. uhh,” Kataku sambil mendesah kecil.

Pertanyaanku tidak dijawab oleh Jonathan, malah dia asyik sendiri memainkan joystick pribadinya itu. Aku sendiri harus bertarung melawan pompaan Felix yang makin lama makin tinggi temponya.

Mungkin bosan dengan posisi seperti ini, kali ini Felix menyuruhku posisi seperti anjing. Belakangan kutahu ini dinamakan doggy style, Felix menyodok aku dari belakang, batang Jonathan yang sedari tadi nganggur kini sudah di hadapanku berharap aku lumat. Seakan sudah tau tugasku, aku langsung melumat penis itu dan memaikannya dengan lidahku. Kini posisi Anthony ada di bawahku menjilati putingku sehingga aku merasa kegelian.

Tambah lama pompaan itu terasa main cepat sehingga aku merasakan sesuatu yang bergetar dalam tubuhku hingga akhirnya aku merasakan orgasme. Tubuhku bergetar, Felix mencabut penisnya dari meki-ku dan mulai memasukkan jarinya dan mengocok meki-ku. Tubuhku makin menggeliat tidak karuan. Ada cairan yang muncrat dari meki-ku seperti pipis, yang belakangan kutahu itu namanya squirting. Penderitaan orgasme itu tidak berhenti sampai disitu, Felix kembali memasukkan penisnya dan memompanya dengan tempo yang lumayan cepat hingga aku hanya bisa memohon ampun sambil menggeliat-geliat.

Genjotannya semakin cepat membuatku harus menelan penis Jonathan lebih dalam karena tekana dari belakang ini membuatku sedikit tersedak. Jonathan yang mengetahui aku sedang kewalahan mulai melepas penisnya dan menggantinya dengan bibirnya. Dia ciumi aku mulai dari bibir, pipi, hingga dagu dan mataku.

Sampai satu titik, Felix mencopot penisnya dan menumpahkan spermanya di pantatku. Terasa hangat sekali pantatku merasakan sperma itu mengalir hingga menuju lutut. Felix yang terengah-engah maju kedepanku dan menyuruhku membersihkan penisnya itu. Aku melihat penis itu sudah mengkilap karena sperma bercampur dengan cairanku. aku mulai memasukkan penis itu kedalam mulutku. Rasanya pingin muntah pada awalnya. Asin-asin aneh tapi aku teruskan membersikan penis itu.

Jonathan membuatku berdiri lalu kedua lenganku digenggam dari belakang, lalu dengan sigap penisnya ditusukkannya pada meki-ku dengan keras hingga mataku terbelalak.

“Jo, ampun.. sakit banget itu,” Erangku

“Tenang aja lah Tif, ntar juga enak kok,” Katanya sambil mulai memaju mundurkan penisnya itu

Berbeda dengan Felix yang memulai dengan tempo lambat, Jonathan dengan bersemangat memompa penisnya dan menghujamkan dalam-dalam. Ini lebih menyiksaku secara fisik maupun mental. Baru pertama kali mencoba namanya seks sudah harus melawan yang sodokannya keras seperti ini.

Namun tubuhku sepertinya terlalu jujur untuk mengungkapkan bahwa hal ini sangat menyenangkan. Buktinya belum ada sepuluh menit, aku sudah kembali orgasme disertai squirting. Kali ini lebih banyak jumlahnya dari yang pertama. Hal ini membuat lantai kamar Felix sangat basah dengan cairan dari meki-ku. Setelah melihat aku cukup kuat, Jonathan melanjutkan pompaannya.

Merasa bosan degan posisi itu, Jonathan membawaku ke kasur Felix, direbahkannya aku lalu dia melanjutkan permainannya dari samping. Anthony terlihat mendekat saat aku mulai menggelinjing tanda akan orgasme. Entah berapa kali aku merasakan orgasme. Tubuhku ini sudah lemas sekali, aku hanya mengikuti kemana Jonathan membawaku dan memompaku. Dia perkasa sekali, sudah setengah jam dan belum ada tanda-tanda dia akna orgasme. Aku sendiri sudah cukup kepayahan. Meki-ku sepertinya sudah mulai membengkak, ini karena rasa nikmat ini sudah mulai bercampur dengan sedikit perih di lubang meki-ku.

Baru setelah sekitar empat puluh lima menit, Jonathan meningkatkan temponya dan melepas penisnya itu, spermanya dia tumpahkan di atas perutku yang rata ini. Aku sendiri sudah bener-bener kepayahan melayani dua temanku ini, namun aku melihat masih harus melayani satu orang lagi. Namun, karena badanku sudah bener-bener remuk, aku minta waktu istirahat kepada Anthony.

“Ton, istirahat bentar ya, meki ku panas nih. Bengkak kayaknya,” kataku sambil merabai vaginaku.

“Santai aja,” balasnya sambil berdiri mengambil minuman diatas meja dekat TV.

“Hebat juga lo kamu, Tif,” Jonathan menimpali sambil merangkak duduk di tepian kamar

“Hebat apanya?” kataku masih dalam posisi terlentang tak berdaya

“Ya hebat aja, udah dua orang masuk masuk belum pingsan,” Balasnya

Emang bisa pingsan ya? Ngeri juga coy kalo sampe pingsan. Emang sih posisi sekarang ini aku udah lemes banget. Kayaknya udah ga punya tenaga untuk berdiri. Beberapa menit kemudian, Anthony mulai memeluk tubuhku, menciumi bibirku sambil memasukkan penisnya kedalam meki-ku. Mungkin karena meki-ku sudah bengkak dan licin, penis itu tidak bergitu terasa masuk ke dalam lubang meki-ku.

Pompaan yang dilakukan oleh Anthony juga tidak secepat Jonathan, dia bahkan melakukannya dengan tempo yang sangat lambat. Sambil memompaku, dia memelukku, menciumiku sesekali memainkan payudaraku. Gairahku yang sempat turun tadi karena istirahat mulai bangkit. Perlahan tapi pasti Antony memompa tubuhku. Aku merasa nyaman sekali dalam pelukan Anthony.

Tidak memerlukan waktu yang lama, Anthony mulai mengerang dan mencabut penisnya. Namun, kali ini dengan cepat dia masukkan penis itu ke dalam mulutku, dan memuncratkan spermanya itu. Rasanya asin-asin gimana gitu. Supaya tidak terlalu bau, aku langsung menelan sperma itu. Kini mereka bertiga sudah duduk di hadapanku yang masih tergeletak tidak berdaya, Jonathan dan Felix bahkan sudah mengenakan kaos dan celana, hanya aku dan Anthony yang masih bugil.

Beberapa menit kemudian aku mulai memiliki kekuatan untuk bangun dan mengenakan pakaianku. Namun setelah mengenakan bh dan celana dalam, pakaianku diambil oleh Jonathan katanya selama kerja tugas aku disuruh pakai bh dan celana dalam saja.

Akhirnya aku ikuti saja kemauan mereka mengerjakan tugas kelompok ini hanya mengenakan bh dan celana dalam. Namun karena aku sudah bener-bener kepayahan, aku beberapa kali ambruk dari dudukku, beruntung badanku ini ditahan oleh Jonathan.

“Jo, aku lemes banget, meki-ku bengkak kayaknya cenut-cenut terus,” Kataku

“Udah Tif, kamu tidur aja gih di kasur. Tugas ini biar kita-kita aja yang kerja,” Anthony menimpali

Karena bener-bener lemas, maka aku beranjak ke kasur dan terlelap…

Nikmatnya perawat

Berangkat ke kantor pagi2 tiba2 sampe daerah Pul**as pinggang gw sakit. Sebelumnya pernah juga sakit serupa & dirawat di rumah sakit ini juga, tapi cuma sehari & dikasih obat doang karena batu ginjalnya masih kecil. Sesampainya di Pul*mas ane langsung aja masuk rumah sakit ini. Betul kiranya kata dokter jaga UGD harus dirujuk ke dokter spesialis ginjal & dirawat. Masuk kamar rawat langsung diperiksa dokter spesialis & katanya gw harus tembak batu ginjal pake laser gitu deh. Tapi sebelumnya gw harus menjalani proses pengecekan lebih lanjut (kalo gak salah namanya URS). Dimasukkin selang berkamera mikro lewat saluran kencing untuk ngecek batunya.
Nah proses itu pake bius total & harus lewat saluran kencing alias konti gan. Ngilu2 sedap deh ngebayanginnya. Tapi yang lebih sedap sih pas pagi2 sebelum masuk kamar operasi.

Pagi itu suster masuk sambil minta ijin. Kirain ngapain, gak taunya minta ijin mau cukur jembi gw gan. Waduh?? Langsung cenat cenut neh tongkat ajaib gw. Masalahnya tuh suster cantik+seksi abis gan. Agak ke-panlok2-an gitu deh gan, mukanya mirip banget sama Sandra Dewi. Balutan baju susternya lumayan ketat lagi gan, toket yang menonjol kira2 ukuran 34B juga gan (seukuran pembokat yang gw ceritain kemaren deh. Pembokat dari Gar*t ).

Wah…bener2 ngaceng sempurna deh gw. Karuan aja dah tuh selimut rumah sakit ngacung kayak tenda pramuka…wkwkwkwk. Suster seksi ini cuma mesem2 doang, horny juga neh doi kayaknya. Prosesi cukur jembi pun dimulai. Pertama dia buka selimut gw, lanjut celana piyama gw. Non stop langsung kolor gw….tuinggggg munculah dengan gagah perkasa si konti bin kontol.

“Waduh mas, koq bangun sih itunya?”
“Apanya sus?” biasa dah pura2 bego. “Anunya itu…mmmmm…penisnya”. “Biasalah sus, cowok normal kan tiap pagi pasti hormat senjata…hehehehe”.
“Iya sih…bener juga, ya udah saya mulai yah mas nyukurnya?”
“Silahkan sus, tapi ati2 yah takut luka nanti”. Doi lanjut mulai membasahi kontol gw & sekitarnya dengan waslap basah & mengolesinya dengan sabun.

Dia mulai mencukurnya pelan2 & hati2. Elusan lembut tangannya bikin pentungan gw makin tegak perkasa+panas dingin. Doi kayaknya mulai grogi liat tumbuh kembangnya kontol gw gan (kayak anak bayi aja tumbuh kembang yak…hihihi).
Napas doi mulai gak karuan. Selesai nyukur jembut dia nanya, “Koq gak tidur2 sih mas?”
“Ya kalo gak ditidurin gak bakalan tidur lah sus”. “Yaahh…repot dong jadinya, nanti gmana kalo mau mulai dokternya?”
“Gimana lagi sus? Paling saya paksa tidur”. “Gimana caranya?”
“Ya saya kocokin aja sampe keluar”. “Ooo onani maksudnya? Emang enak yah kalo sendiri gitu?”
“Suster mau nolong ngocokin?”
“Gak ah…ntar malah jadi macem2. Hihihi…”
Kampret….bikin makin sange aja neh suster.

Gw mulai aja ngocok depan dia sambil mendesah…”Ahhh…ehhh….hmmmm”
Dia ngeliatin aja terus sambil mulai gelisah, tangannya mulai pelan2 megang toketnya sendiri.
“Mas…boleh saya ikut megang gak?”
“Boleh banget sus” (mantab neh ritual pagi ditolongin suster seksi).

Dia mulai ngocokin kontol gw perlahan, tangan gw pun mulai bergerilya ke toket & pantatnya yang semok. Doi mulai mendesah…mengerang… “Ahhh…enak mas, anunya makin gede aja” (padahal sih segitu2 aja gedenya dari tadi juga…wkwkwk).
“Koq anu lagi sih sus? Kan ada namanya…ohhh…terus sus, boleh diisep dong say (mulai deh pake say2 segala…hahaha).
“Iya mas…slebb (masuk deh tuh kontol dalem mulutnya). Uhhhh…kontol mas…ohhh…keras banget..hmmmmm”.
Jari gw mulai masuk ke dalam CD doi nyari2 daging sobeknya…wkwkwkwk
Wuihhh….dah banjir cuy. “Teruzz mas…kocokin memek saya…enak bangetz mazz…ohhhhh. Saya keluar mas…uhhh…hmmmmmm” (gila neh kamar rawat gw jadi mesum banget pagi2, malah susternya cantik2 ngomong jorok lagi…hahaha).

“Ayo mas, aku mau nyobain kontol mas dong. Masukin yaaa?”
“Iya lah say, aku juga dah pengen banget neh…”
“Pengen apa mas?” kata doi sambil ngelirik nakal ke gw.
“Pengen ngentot sama suster cantik…hihihi”
“Ih si mas nakal neh, iya deh aku juga pengen sih mas…”
“Pengen apa say…” (gantian deh)
“Iya pengen dientot sama kontol mas yang gede & panjang ini sayaaanngggg…ohhhhhh” (sambil gw kenyot aja tuh pentil toketnya yang dah mancung dari tadi)
Gw mulai tempelin kontol gw ke belahan daging sobeknya yang berwarna pinky mengkilat karena dah banjir lendirnya sendiri. “Ayooo dong mas…gak nahan neh. Masukin dong kontolnya…ohhhhhhh…(desahnya pas kepala kontol gw mulai masuk).

“Ohhhhh…nikmatnya sayang memek kamu. Legit banget. Kontolku kayak diemut sama memek kamu…uhhh…hmmm”
“Terusss mas….kocok yang kuat” (katanya sambil goyangin pantatnya)
Terus dan terussss…terus dan terusss (kayak di iklan apa gitu..hehehe)
Gak terasa 1 jam berselang, gw mulai gak tahan pengen ngecrott.
“Say, keluarin dimana nih pejunya?”
“Dalem aja mas, aku dah pake spiral koq…ohhhh enaknya…nikmat banget mas kontolmu. Hmmmmmmm….aku juga mau keluar”

Ohhhh yesss…uhhhhh….crot..crotttsss..peju gw banyak banget sampe netes keluar dari mekinya.
“Makasih banget yah mas…aku dah lama gak ngerasain orgasme & kontol kayak punya mas ini. Kontol pacarku soalnya gak perkasa kayak punyamu mas…ohhhh…pengen rasanya kontol mas aku bawa pulang…hihihi”
“Yah jangan dong…nanti istri ku tak sodok pake apa?” Wkwkwkwwk…kita ketawa ngakak deh berdua.
Tiba2 pintu kamar terbuka & masuklah suster lain yang kagak kalah cantik+seksi+montoknya gan…

Eitttts…ceritanya nanti lagi yah ane sambung. Mau bobo dulu dah malem

Aku Selingkuh Dengan Pembantuku Yang Cantik

Selama tiga tahun berumah tangga, boleh dibilang aku tidak pernah berselingkuh. Istriku cantik, dan kami telah dianugerahi seorang anak lelaki berusia dua tahun. Rumah tangga kami boleh dibilang rukun dan bahagia, semua orang mengakui bahwa kami pasangan yang serasi.
Terus terang, aku sudah punya perasaan dan pikiran negatif sejak pertama kali dia diperkenalkan kepada kami oleh Bik Iroh, pembantu tetangga sebelah rumah. Entah bagaimana, ada desir-desir aneh di dadaku, terlebih lagi ketika kami beradu pandang dan dia mengulum senyum sembari menunduk.
Saat itu sebenarnya istriku merasa kurang sreg untuk menerima Imah bekerja. Naluri kewanitaannya mengatakan bahwa gadis itu type penggoda. Dia takut jangan-jangan akan banyak terjadi skandal dengan sopir-sopir dan para bujang di lingkungan kami. Tetapi kondisinya saat itu agak memaksa sebab istriku tiba-tiba harus berangkat ke luar negeri untuk urusan dinas, sementara pembantu kami baru saja pulang kampung.
Ternyata, skandal yang dikhawatirkan istriku itu benar-benar terjadi, tetapi justru dengan aku sendiri. Celakanya sampai saat ini aku tidak bisa menghentikan itu. Aku seperti mabuk kepayang. Harus kuakui, bersetubuh dengan Imah memang lain. Kenikmatannya tiada banding. Semakin sering aku menidurinya, rasanya malah bertambah nikmat.
Agar tidak terbongkar, aku segera mengambil langkah pengamanan. Hanya beberapa hari setelah istriku kembali dari luar negeri, Imah minta berhenti. Alasannya pulang kampong karena orang tuanya sakit keras. Tentu saja itu bohong. Yang betul adalah dia kuamankan di sebuah kamar kos yang letaknya tidak jauh dari kantorku. Aku juga membiayai semua kebutuhan sandang pangannya. Hampir setiap siang aku mampir ke sana untuk mereguk kenikmatan bersamanya. Kadang-kadang aku juga menginap satu-dua malam dengan alasan dinas ke luar kota . Dan itu telah berjalan hamper dua tahun sampai saat ini.
Hari pertama Imah bekerja di rumah kami, tidak ada kejadian yang berarti untuk diceritakan. Yang jelas, semua petunjuk dan instruksi dari istriku dilaksanakannya dengan sangat baik. Nampaknya dia cukup rajin dan berpengalaman, serta pandai pula menjaga anak.
Hari kedua, pagi-pagi sekali, aku berpapasan dengan Imah di muka pintu kamarnya. Aku sedang menuju ke kamar mandi ketika dia keluar kamar. Dia pasti baru selesai mandi karena tubuhnya menebarkan bau harum. Saat itu dia mengenakan rok span dan t-shirt ketat seperti yang umum dikenakan ABG zaman sekarang. Sexy sekali. Otomatis kelelakianku bangkit. Aku jadi seperti orang tolol, mematung diam sembari memandangi Imah. Sejenak gadis itu membalas tatapanku, lalu menunduk dengan muka memerah dadu. Aku lekas-lekas berlalu menuju kamar mandi.
Sehabis mandi, kudapati Imah sudah berganti pakaian, kembali mengenakan baju longgar dan sopan seperti kemarin. Keherananku segera terjawab ketika istriku bercerita di dalam kamar sembari bersungut-sungut.
?Gawat nih si Imah itu! Papa nggak lihat sih, pakaiannya tadi? Sexy
banget! Jangan-jangan Papa juga bisa naksir kalau lihat.?
?Terus?? tukasku tak acuh.
?Yah Mama suruh ganti. Ingat-ingat ya Pa, selama Mama nggak ada, jangan kasih dia pakai baju yang sexy-sexy begitu!?
Hari ketiga, lewat tengah malam, aku bercumbu dengan istriku di ruang TV. Besok istriku berangkat untuk kurang lebih tiga minggu, jadi malam itu kami habiskan dengan bermesraan.Sebelumn ya kami menonton film biru terlebih dahulu untuk lebih memancing birahi. Seperti biasa, kami bermain cinta dengan panas dan lama. Pada akhir permainan, di saat-saat menjelang kami mencapai orgasme, tiba-tiba aku merasa ada seseorang mengawasi kami di kegelapan. Aku tidak bercerita kepada istriku, sementara aku tahu, orang itu adalah Imah. Yang aku tidak tahu, berapa lama gadis itu menyaksikan kami bermain cinta.
Keesokan harinya, sore-sore, istriku berangkat ke Thailand. Aku mengantarnya ke airport bersama anak kami. Hari itu kebetulan Sabtu, jadi aku libur.
Pulang dari airport, kudapati Imah mengenakan t-shirt ketat berwarna pink yang kemarin. Jantungku langsung dag-dig-dug melihat penampilannya yang tak kalah menarik dibanding ABG-ABG Jakarta. Selintas aku teringat pesan istriku, tapi kenyataannya aku membiarkan Imah berpakaian seperti itu terus. Bahkan diam-diam aku menikmati keindahan tubuh Imah sementara dia menyapu dan membersihkan halaman rumah.
Hari kelima, pagi-pagi sekali, aku hampir tidak tahan. Aku melihat Imah keluar dari kamar mandi dengan hanya berlilitkan handuk di tubuhnya. Dia tidak melihatku. Kemaluanku langsung mengeras. Bayangkan saja, ketika istri sedang tidak ada, seorang gadis manis memamerkan keindahan tubuhnya sedemikian rupa. Maka, diam-diam aku menghampiri begitu dia masuk kamar.
Aneh, pintu kamarnya tidak ditutup rapat. Aku dapat melihat ke dalam dengan jelas melalui celah pintu selebar kira-kira satu centi. Apa yang kusaksikan di kamar itu membuat jantungku memompa tiga kali lebih cepat, sehingga darahku menggelegak- gelegak dan nafasku memburu. Aku menelan ludah beberapa kali untuk menenangkan diri.
Nampak olehku Imah sedang duduk di tepian ranjang. Handuk yang tadi meliliti tubuhnya kini tengah digunakannya untuk mengeringkan rambut, sementara tubuhnya dibiarkannya telanjang bulat. Sepasang buah dadanya yang montok berguncang-guncang. Lalu ia mengangkat sebelah kakinya dengan agak mengangkang untuk memudahkannya melap selangkangannya dengan handuk. Dari tempatku mengintip, aku dapat melihat rerumputan hitam yang tidak begitu lebat di pangkal pahanya.
Saat itu setan-setan memberi petunjuk kepadaku. Mengapa dia membiarkan pintunya sedikit terbuka seperti ini? Setelah menyaksikan aku bermain cinta dengan istriku, tidak mustahil kalau dia sengaja melakukan ini untuk memancing birahiku. Dia pasti menginginkan aku masuk Dia pasti akan senang hati menyambut kalau aku menyergap tubuhnya di pagi yang dingin seperti ini?
Ketika kemudian dia meremas-remas sendiri kedua payudaranya yang montok, sementara mukanya menengadah dengan mata terpejam, aku benar-benar tidak tahan lagi. Batang kemaluanku seakan berontak saking keras dan panjang, menuntut dilampiaskan hasratnya. Tanganku langsung meraih handle karena aku sudah memutuskan untuk masuk?
Pada saat itu tiba-tiba terdengar anakku menangis. Aku jadi sadar, lekas-lekas aku masuk ke kamar anakku. Tak lama kemudian Imah menyusul, dia mengenakan daster batik yang terbuka pada bagian pundak. Kurang ajar, pikirku, anak ini tahu betul dia punya tubuh indah. Otomatis batang kemaluanku mengeras kembali, tapi kutahan nafsuku dengan susah payah.
Alhasil, pagi itu tidak terjadi apa-apa. Aku keluar rumah untuk menghindari Imah, atau lebih tepatnya, untuk menghindari nafsu birahiku sendiri. Hampir tengah malam, baru aku pulang. Aku membawa kunci sendiri, jadi kupikir, Imah tidak akan menyambutku untuk membukakan pintu. Aku berharap gadis itu sudah tidur agar malam itu tidak terjadi hal-hal yang negatif.
Tetapi ternyata aku keliru. Imah membukakan pintu untukku. Dia mengenakan daster yang tadi pagi.
Daster batik itu berpotongan leher sangat rendah, sehingga punggungnya yang putih terbuka, membuat darahku berdesir-desir. Lebih-lebih belahan buah dadanya sedikit mengintip, dan sebagian tonjolannya menyembul. Rambutnya yang ikal sebahu agak awut-awutan. Aku lekas-lekas berlalu meninggalkannya, padahal sejujurnya saat itu aku ingin sekali menyergap tubuh montoknya yang merangsang.
Sengaja aku mengurung diri di dalam kamar sesudah itu. Tapi aku benar-benar tidak dapat tidur, bahkan pikiranku terus menerus dibayangi wajah manis Imah dan seluruh keindahan tubuhnya yang mengundang. Entah berapa lama aku melamun, niatku untuk meniduri Imah timbul-tenggelam, silih berganti dengan rasa takut dan malu. Sampai tiba-tiba aku mendengar suara orang meminta-minta tolong dengan lirih?
Tanpa pikir panjang, aku langsung melompat dari ranjang dan segera berlari ke arah suara. Ternyata itu suara Imah. Sejenak aku berhenti di muka pintu kamarnya, tetapi entah mengapa, kini aku berani masuk.
Kudapati Imah tengah meringkuk di sudut ranjang sambil merintih-rintih lirih. Aku tercekat memandangi tubuhnya yang setengah telanjang. Daster yang dikenakannya tersingkap di sana-sini, memamerkan kemulusan pahanya dan sebagian buah dadanya yang montok. Sejenak aku mematung, menikmati keindahan tubuh Imah yang tergolek tanpa daya di hadapanku, di bawah siraman cahaya lampu kamar yang terang benderang. Otomatis kelelakianku bangkit. Hasratku kian bergelora, nafsu yang tertahan-tahan kini mendapat peluang untuk dilampiaskan. Dan setan-setan pun membujukku untuk langsung saja menyergap. ?Dia tidak akan melawan,? batinku. ?Jangan-jangan malah senang, karena memang itu yang dia harapkan…? Kuteguk liurku berulang-ulang sambil mengatur nafas. Untuk sesaat aku berhasil mengendalikan diri. Kuraih pundak Imah, kuguncang-guncang sedikit agar dia terbangun.
Gadis itu membuka mata dengan rupa terkejut. Posisinya menelentang kini, sementara aku duduk persis di sisinya. Jantungku bergemuruh. Dengan agak gemetar, kutepuk-tepuk pipi Imah sambil berupaya tersenyum kepadanya.
?Kamu ngigo? yaa?? godaku. Imah tersipu.
?Eh, Bapak?! Imah mimpi serem, Pak!?
Suaranya lirih. Gadis itu bangkit dari tidurnya dengan gerakan agak menggeliat, dan itu malah membuat buah dadanya semakin terbuka karena dasternya sangat tidak beraturan. Aku jadi semakin bernafsu.
?Mimpi apaan, Mah?? tanyaku lembut.
?Diperkosa?! ? jawab Imah sembari menunduk, menghindari tatapanku.
?Diperkosa siapa??
?Orang jahat! Rame-rame!?
?Oooh? kirain diperkosa saya!?
?Kalau sama Bapak mah nggak serem?!?
Aku jadi tambah berdebar-debar, birahiku semakin membuatku mata gelap. Kurapikan anak-anak rambut Imah yang kusut. Gadis itu menatapku penuh arti. Matanya yang bulat memandangku tanpa berkedip. Aku jadi semakin nekad.
?Kalau sama saya nggak serem?? tanyaku menegaskan dengan suara agak berbisik sambil mengusap pipi Imah. Babu manis itu tersenyum.
Entah siapa yang memulai, tahu-tahu kami sudah berciuman. Aku tidak peduli lagi. Kusalurkan gejolak birahi yang selama ini tertahan dengan melumat bibir Imah. Dia membalas dengan tak kalah panas dan bernafsu. Dia bahkan yang lebih dahulu menarik tubuhku sehingga kami rebah di atas ranjang sembari terus berciuman.
Tanganku lasak meremas-remas buah dada Imah. Kupuaskan hasratku pada kedua gundukan daging kenyal yang selama beberapa hari terakhir ini telah menggodaku. Imah pun tak tinggal diam. Sambil terus membalas lumatanku pada bibirnya, tangannya merayap ke balik celana pendek yang kukenakan. Pantatku diusap-usap dan diremasnya sesekali dengan lembut.
Ketika ciuman terlepas, kami berpandangan dengan nafas memburu. Imah membalas tatapanku dengan agak sayu. Bibirnya merekah, seakan minta kucium lagi. Kusapu saja bibirnya yang indah itu dengan lidah. Dia balas menjulurkan lidah sehingga lidah kami saling menyapu. Kemudian seluruh permukaan wajahnya kujilati. Imah diam, hanya tangannya yang terus merayap-rayat di balik celana dalamku.
Aku jadi tambah bernafsu. Lidahku merambat turun ke leher. Imah menggelinjang memberi jalan. Terus kujilati tubuhnya yang mulai berkeringat. . Imah menggelinjang- gelinjang hebat ketika buah dadanya kujilati. ?Geliii…? desisnya sambil mengikik-ngikik, dan itu malah membuatku tambah bernafsu.. Daging-daging bulat montok itu terus kujilati, kukulum putingnya, kusedot-sedot dengan rakus, tentunya sambil kuremas-remas dengan tangan.
Payudara Imah yang lembut kurasa semakin mengeras, pertanda birahinya kian meninggi. Lebih-lebih putingnya yang mungil berwarna merah jambu, telah amat keras seperti batu. Aku jadi semakin bersemangat. Sesekali mulutku merayap-rayap menciumi permukaan perut, pusar dan turun mendekati selangkangannya.
Imah mulai merintih dan meracau, sementara tangannya mulai berani meraba batang kemaluanku yang telah menegang sedari tadi. Kurasakan pijitannya amat lembut, menambah rangsangan yang luar biasa nikmat. Aku tidak tahan, tanganku balas merayap ke balik celana dalamnya. Imah mengangkang, pinggulnya mengangkat. Kugosok celah vaginanya dengan jari. Basah. Dia mengerang agak panjang ketika jari tengahku menyelusup ke dalam liang vaginanya, batang penisku digenggamnya erat dengan gemas. Aku semakin tidak tahan, maka kubuka celana pendek dan celana dalamku sekaligus.
Imah langsung menyerbu begitu batang kemaluanku mengacung bebas tanpa penutup apa pun lagi. Dengan posisi menungging, digenggamnya batang kemaluanku, lalu dijilat-jilatnya ujungnya seperti orang menjilat es krim. Tubuhku seperti dialiri listrik tegangan tinggi. Bergetar, nikmat tak terkatakan.
?Imah udah tebak, pasti punya Bapak gede?? desis Imah tanpa malu-malu.
?Isep, Mah?!? kataku memberi komando.
Tanpa menunggu diminta dua kali, Imah memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya.
?Enak, Mah? enak banget?,? aku mendesis lirih, sementara tubuhku
menggeliat menahan nikmat.
Imah semakin bersemangat mengetahui betapa aku menikmati hisapannya pada penisku. Batang kemaluanku dikocok-kocoknya dengan amat bernafsu sementara mulutnya mengulum dengan gerakan maju mundur. Sesekali lidahnya menjulur menjilat-jilat. Pintar sekali.
Belakangan baru kuketahui bahwa Imah itu seorang janda. Dia dipaksa kawin sejak usia 14 dengan lelaki berumur yang cukup kaya di desa. Ternyata suaminya seorang pemabuk, penjudi, dan mata keranjang. Satu-satunya yang disukai Imah dari lelaki itu adalah keperkasaannya di atas ranjang. Hanya itu yang membuatnya sanggup bertahan empat tahun berumah tangga tanpa anak. Baru setahun yang lalu suaminya meninggal, sehingga statusnya kini resmi menjadi janda.
Pantas saja nafsunya begitu besar. Dia mengaku bahwa hasrat seksualnya langsung bangkit kembali sejak pertama kali bertemu aku. Kenangan-kenanganny a tentang kenikmatan bermain cinta terus menggodanya, sehingga diakuinya bahwa sejak hari itu dia terus berusaha untuk menarik perhatianku.
Nafsu yang menggebu-gebu, serta hasrat yang terpendam berhari-hari, membuat gadis itu menjadi liar tak terkendali. Sambil terus mengulum dan menjilat-jilat batang kemaluanku, tubuhnya beringsut- ingsut hingga mencapai posisi membelakangi dan mengangkangi tubuhku. Pantatnya yang bulat, besar seperti tampah, tepat berada di depan wajahku. Kuusap-usap pantatnya, lalu kuminta lebih mendekat sambil kuturunkan celana dalamnya. Dia menurut, diturunkannya pinggulnya hingga aku dapat mencium selangkangannya.
Terdengar dia mendesis begitu kujulurkan lidahku menyapu permukaan liang vaginanya yang merekah basah. Kedua pahanya mengangkang lebih lebar, sehingga posisi pinggulnya menjadi lebih ke bawah mendekati mukaku. Kini aku lebih leluasa mencumbu kemaluannya, dan aku tahu, memang itu yang diharapkan Imah.
Kusibakkan bulu-bulu halus di seputar selangkangan babu cantik yang ternyata mempunyai libido besar itu. Kugerak-gerakkan ujung lidahku pada klitorisnya. Kuhirup baunya yang khas, lalu kukenyot bibir vaginanya dengan agak kuat saking bernafsu. Imah merintih. Tubuhnya sedikit mengejang, hisapannya pada kemaluanku agak terhenti.
?Jangan berhenti dong, Maaaahh,? desisku sambil terus menjilat-jilat vaginanya.
?Imah keenakan, Pak?? jawab Imah terus terang. Lalu kembali dia mengulum sambil mengocok-ngocok batang kemaluanku. Dengan bernafsu dia terus berusaha menjejal-jejalkan batang penisku sepenuhnya ke dalam mulutnya, tetapi tidak pernah berhasil karena ukuran tongkat wasiatku itu memang cukup luar biasa: gemuk, dan panjangnya hampir 20 cm!
Aku membalas dengan merekahkan mulut vaginanya dengan kedua tangan. Lubang surgawi itu menganga lebih lebar, maka kujulurkan lidahku lebih ke dalam. Imah membalas lagi dengan menghisap-hisap batang kemaluanku lebih cepat dan kuat. Aku tak mau kalah, kutekan pantatnya hingga kemaluannya menjadi lebih rapat pada mukaku, lalu kujilat dan kuhisap seluruh permukaan liang kemaluannya.
?Ooooohhh? Imah nggak kuattt?.? terdengar Imah mengerang tiba-tiba. Aku tak peduli. Aku justru jadi semakin bersemangat dan bernafsu mencumbu kemaluan Imah. Gadis itu juga kian liar. Tangan dan mulutnya semakin luar biasa cepat mengerjai batang kemaluanku, sementara tubuhnya menggeliat -geliat tak terkendali. Aku tahu birahinya telah teramat sangat tinggi, maka kukomandoi dia untuk rebah menelentang, lalu segera kutindihi tubuh montoknya.
?Enak, Mah?? tanyaku.
?Enak banget, Pak? Imah nggak tahan??
?Kamu mau yang lebih enak, kan??
?Ya mau, dong?? Imah nampak masih sedikit malu-malu, tapi jelas dia tidak dapat lagi mengontrol nafsunya. Wajahnya yang biasanya lugu, kini nampak sebagai perempuan berpengalaman yang sedang haus birahi.
?Kamu pernah ngent*t, Mah?? tanyaku lembut, takut dia tersinggung. Tapi dia malah tersenyum, cukup bagiku sebagai pengakuan bahwa dia memang sudah pernah melakukan itu.
?Kamu mau?? tanyaku lagi. Imah menutup matanya sekejap sebagai jawaban.
?Buka dulu dasternya, ya??
Dalam sekejap, Imah telah bertelanjang bulat. Aku juga membuka kaos, sehingga tubuh kami sama-sama bugil. Polos tanpa sehelai benang pun. Imah memintaku mematikan lampu kamar, tapi aku menolak. Aku justru senang menonton keindahan tubuh Imah di bawah cahaya lampu yang terang benderang begitu. ?Malu, ah, Pak?? kata Imah dengan nada manja, sementara aku memandangi sepasang payudaranya yang bulat, besar dan padat. ?Saya naksir ini sejak pertama kamu masuk,? kataku terus terang sambil mengecup puting susunya yang sebelah kanan, disusul dengan yang sebelah kiri.
?Imah tau,? jawab Imah tersipu. ?Tapi Imah pikir, Bapak mana mau sama Imah?!?
?Sejak hari pertama, saya udah ngebayangin beginian sama kamu.?
?Kok sama sih?! Imah juga??
?Bohong!?
?Sumpah! Apalagi abis liat Bapak gituan sama Ibu? Seru banget, Imah jadi ngiri??
?Kamu ngintip, ya??
?Bapak juga tau, kan??
Sambil berkata begitu, tangan kanan Imah menggenggam batang penisku. Kedua pahanya mengangkang memberi jalan dan pinggulnya mengangkat sedikit. Digosok-gosokkannya ujung batang kemaluanku pada mulut vaginanya yang semakin basah merekah.
Aku membalas dengan menurunkan pinggulku sedikit. Saat itu di benakku terlintas wajah istri dan anakku, tetapi nafsu untuk menikmati surga dunia bersama Imah membuang jauh-jauh segala keraguan. Bahkan birahiku semakin bergelora begitu aku memandang wajah Imah yang telah sedemikian sendu akibat birahi.
?Paaak?.? terdengar desis suara Imah memanggilku teramat lirih. Kedua tangannya mengusap-usap sambil sedikit menekan pantatku, sementara batang penisku telah penetrasi sebagian ke dalam vaginanya.
Kutekan lagi pinggulku lebih ke bawah. Batang penisku bergerak masuk inci demi inci. Kurasakan Imah menahan nafas. Kutahan sejenak, lalu perlahan justru kutarik sedikit pinggulku. Imah membuang nafas. Kedua tangannya mencengkeram pantatku. Aku mengerti, kutekan lagi pinggulku. Kembali Imah menahan nafas. Dua tiga kali kuulang seperti itu. Setiap kali, kemaluanku masuk lebih dalam dari sebelumnya. Dan itu membuat Imah keenakan. Dia mengakuinya terus terang tanpa malu-malu. ?Bapak pinter banget?? desisnya sambil mencubit pantatku, sesaat setelah aku menekan semakin dalam. Batang penisku telah hampir amblas seluruhnya. Imah cukup sabar menikmati permainanku, tetapi akhirnya dia tidak tahan.
?Imah rasanya kayak terbang?? dia meracau.
?Kenapa??
?Enakh? Masukin semua atuh, Paak? supaya lebih enak?? Berkata begitu, tiba-tiba kedua tangannya merangkul dan menarik leherku. Diciuminya mukaku dengan penuh nafsu.
?Imaaaahhh.? bisikku sambil membalas menjilat-jilat permukaan wajahnya.
?Paak??
Aku jadi ikut-ikutan tidak tahan, ingin segera menuntaskan permainan. Maka dengan agak kuat kutekan pantatku dalam-dalam, sehingga batang kemaluanku terbenam sepenuhnya di liang vagina Imah. Anak itu mengerang lirih, ?Ssshhh?.. aaaahhhh?, sssssssshhhh? .., aaaaaaaahhhh? .?
Dalam beberapa menit, kami bersanggama dalam posisi konvensional. Aku di atas, Imah di bawah. Itu pun sudah teramat sangat luar biasa nikmat. Ternyata Imah pintar sekali. Pinggulnya dapat berputar cepat seperti gasing, mengimbangi gerakan penetrasiku pada vaginanya. Setengah mati aku mengatur gerakan sembari terus mengendalikan kobaran birahiku. Kadang aku menekan dengan gerakan lembut satu-dua, sesekali kucepatkan dan kukuatkan seakan hendak menjebol dinding vagina Imah. Rupanya Imah termasuk type perempuan yang sangat panas dan liar dalam bermain cinta. Itulah justru yang kelak membuatku demikian tergila-gila kepadanya sampai-sampai tidak dapat lagi menghentikan perselingkuhan kami. Setiap kali aku berniat berhenti, bayangan erotisme Imah membuatku justru ingin mengulang-ulangnya kembali.
Tubuhnya tidak pernah berhenti bergoyang, seiring dengan erangan dan desahannya. Setiap kali aku menekan kuat-kuat, dia justru mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi sehingga kemaluan kami menyatu serapat-rapatnya. Bila aku menekan dengan gerakan lembut satu-dua, dia mengimbangi dengan menggoyangkan pinggulnya seperti penari jaipong. Nikmatnya tak dapat kulukiskan dengan kata-kata..
Aku merasa dinding pertahananku hampir jebol. Kenikmatan luar biasa yang kurasakan dari perlawanan Imah yang erotis sungguh tidak tertahankan lagi. Padahal baru beberapa menit. Aku segera mengendalikan diri, kutarik nafas panjang-panjang, lalu kutarik tubuhku dari tubuh Imah.
Aku menelentang, dan kuminta Imah menaiki tubuhku. Dia menurut. Dengan gerakan yang sangat cepat, dia segera nangkring di atas tubuhku. Diraihnya batang kemaluanku yang terus mengacung keras seperti tugu batu, dan diarahkannya kembali pada liang vaginanya.
Keringat menetes-netes dari wajahnya yang manis. Kuraih sepasang payudaranya yang bergelantung bebas, kuremas dan kuputar-putar dengan lembut. Imah mendesah sambil menekan pinggulnya agar batang kemaluanku melesak lebih dalam.
?Nggghhh?.. sshhhh?.aahhhh? .,? kembali dia merintih dan mendesah.
?Kenapa, Maah??
?Ennaakh?, enak, Paak?.?
?Kamu pinter.?
?Bapak yang pinter! Imah bisa ketagihan kalau enak begini? Imah pingin ngent*t terus sama Bapak??
?Kita ngent*t terus tiap hari, Mah??
?Bapak mau??
?Asal Imah mau.?
?Imah mau banget atuh, Pak. Enak banget ngent*t sama Bapak?.?
?Ayo, genjot, Mah.. Kita main sampai pagi!?
Imah segera bergoyang lagi. Tubuhnya bergerak erotis naik-turun,
maju-mundur, kiri-kanan, ditingkahi rintihan dan desahannya yang penuh nafsu. Aku diam saja, hanya sesekali kuangkat pantatku agar kemaluan kami bertaut lebih rapat. Akibatnya aku jadi lebih mampu bertahan. Dalam posisi seperti itu, aku tahu bahwa perempuan biasanya akan lebih cepat mencapai klimaks. Memang itu yang kuharapkan.
Perhitunganku tidak salah. Tidak terlalu lama, goyangan Imah semakin erotis dan menggila. Naik- turun, maju-mundur, dengan kecepatan yang fantastis. Erangan dan rintihannya pun semakin tidak terkendali. Aku jadi semakin bersemangat karena mengetahui dia akan segera mencapai orgasme.
?Paaak?., adduuh?, enak banget? enak banget? enak, Pak?, yah? yah?, Imah enak??
?Saya juga enak, Maah?, teruuusss?.?
?Oooohhh?. enak banget siihhh?., adduuuhhh?., adduuhh???
?Terus, Maah? enak banget? enak ngent*t ya, Maah???
?Enakh?, ngent*t enak?, Imah seneng ngent*t sama Bapak?, tongkol Bapak enak??
?memiaw kamu gurih??
?Ooohhhh?., yah?, yah?, yah?., Imah mau keluar, Paak?, Imah nggak kuatts??
Tubuh Imah mengejang pada saat dia mencapai orgasme. Kepalanya mendongak jauh ke belakang. Mulutnya mengeluarkan rintihan panjang sekali. Saat itu kurasakan liang vaginanya berdenyut-denyut, menambah kenikmatan yang fantastis pada batang kemaluanku.
Setelah itu dia menelungkup lunglai di atas tubuhku. Nafasnya memburu setelah menempuh perjalanan panjang yang membawa nikmat bersamaku. Kubiarkan sejenak dia menenangkan diri sementara kemaluan kami masih terus bertaut rapat. Sesaat kemudian, baru aku berbisik di telinganya, ?Saya belum lho, Mah??!?
Imah menengadah, mengangkat wajahnya menatapku.. Dikecupnya bibirku.
?Kan mau sampai pagi?!? katanya dengan nada menggemaskan.
?Kamu mau istirahat dulu??
?Nggak? terus aja, Pak… Imah masih keenakan, kok??
Sejenak kami berciuman. Dapat kurasakan jantung Imah masih bergemuruh, pertanda birahinya memang masih tinggi. Kuusap-usap pantatnya yang telanjang sementara kami berciuman rapat. Kemudian kugulingkan tubuhku, sehingga Imah kembali berada di bawah.
Kucabut batang kemaluanku dari vagina Imah. Dia menatapku dengan rupa tidak mengerti. Kuberikan dia senyuman, lalu kuminta dia menelungkup. Imah mengerti sekarang, maka lekas-lekas dia menelungkup sambil cekikikan.
?Nungging, Mah?? kataku memberi komando.
Imah mengangkat pinggulnya hingga menungging seperti permintaanku. Aku dapat melihat mulut vaginanya yang merekah dari belakang. Kudekatkan mukaku, kucium mulut vaginanya, dan kupermainkan klitorisnya sejenak dengan ujung lidah. Imah merintih lirih, pantatnya mengangkat lebih tinggi sehingga mulut vaginanya merekah lebih lebar di depan mukaku. Kumasukkan lidahku lebih dalam, kemudian kusedot mulut vaginanya sampai berbunyi.
?Bapak emang pinter banget?? desis Imah sembari menggelinjang menahan nikmat.
?Kita tancap lagi ya, Maah??!?
?Sampai pagi??..?!?
Aku berlutut di belakang tubuh Imah yang menungging. Pantatnya mencuat tinggi ke belakang guna memudahkanku menusuk kemaluannya. Kedua tangannya mencengkeram sprei yang kusut. Kepalanya terkulai. Kudengar dia mendesah lirih ketika batang kemaluanku perlahan menerobos masuk lewat belakang.
Kedua tanganku mencengkeram pantat Imah. Sejenak aku berhenti. Imah menoleh ke belakang karena tidak sabar. Kutekan lagi perlahan-lahan, sehingga dia kembali mengerang dengan kepala terkulai ke depan. Aku berhenti lagi. Kuusap-usap pantatnya, kucengkeram agak kuat, lalu kurekahkan dengan kedua tangan. Imah menoleh lagi ke belakang.
Tepat pada saat itu aku menekan kuat-kuat. Deg! Tubuh Imah sampai terdorong ke depan. Dia langsung membalas memundurkan pantatnya, diputar-putar, berusaha keras agar batang penisku masuk lebih dalam. Agak susah karena ukurannya super king.
Kembali dia menoleh ke belakang. Kutekan lagi kuat-kuat! Kini Imah sudah siap. Bersamaan dengan gerakanku, dia menyambut dengan mendorong pantatnya kuat-kuat ke belakang. Slep! Batang kemaluanku menyeruak masuk. Kutahan sejenak, lalu kudorong lagi sekuat-kuatnya. Imah kembali menyambut dengan gerakan seperti tadi. Kali ini dia mengerang lebih keras karena batang penisku masuk hingga menyentuh dinding rahimnya.
?Sakit, Mah?? tanyaku.
?Nggak? malah enak?, terusin, Paak?Imah belum pernah main kayak gini??
Sambil menikmati bertautnya kemaluan kami, kupeluk erat tubuh Imah dari belakang. Kuciumi tengkuknya. Imah berusaha menoleh-noleh ke belakang, berharap aku menciumi bibirnya. Sesekali kuturuti permintaannya sambil meremas-remas kedua buah dadanya yang memuai semakin montok.
Kugerak-gerakkan pinggulku dengan irama lembut dan teratur, kunikmati bertautnya kemaluan kami dalam posisi ?anjing kawin? itu sembari menciumi tengkuk dan leher Imah. Gadis itu menggeliat-geliatka n tubuhnya, pinggulnya bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan.
Beberapa menit kemudian, nafas Imah mulai memburu kembali. Itu pertanda birahinya mulai meninggi, mendaki puncak kenikmatannya kembali. Maka aku mulai mengambil posisi. Kedua tanganku berpegangan pada pinggang Imah, sementara dia pun mengatur posisi pinggulnya supaya lebih memudahkan aku. Setelah itu dia menoleh ke belakang memandangiku. Tatapannya amat sayu, dan aku tahu, itulah tatapan perempuan yang sedang tinggi birahinya.
Aku mulai bergerak maju mundur. Satu dua, dengan irama teratur. Nafas Imah semakin kencang terdengar, seiring dengan semakin kuatnya hunjaman batang kemaluanku pada liang vaginanya. Aku memompa terus. Semakin lama semakin cepat dan kuat. Imah semakin terengah-engah. Tubuhnya berguncang-guncang, sesekali sampai terdorong jauh ke depan, tapi tidak sampai terlepas karena kutahan pinggangnya dengan kedua tangan.
Tubuh kami yang telanjang bulat dibanjiri peluh. Lebih-lebih Imah, keringatnya menciprat ke mana- mana karena tubuhnya berguncang-guncang. Itulah bagian dari erotisme Imah yang sangat aku suka. Belum pernah aku merasakan sensasi bersetubuh yang senikmat ini. Kurasakan ejakulasiku telah dekat, tapi kutahan sebisaku karena aku belum ingin segera menyudahi kenikmatan yang tiada tara ini. Kugigit bibirku kuat-kuat, sementara hunjaman penisku terus menguat dengan irama yang super cepat.
Imah semakin erotis. Nafasnya liar seperti banteng marah, erangannya bercampur dengan rintihan- rintihan jorok tiada henti.
?Ooohh?, aaahhh?, ohhh?, aahhhh?, teruuss, Paak?, teruuusssss? , Imah
enak?, enak banget?, adduuuh, Maak?, Imah lagi keenakan nih, Maak?, oohhh? aaahhh?, terus, Paak? yah? yahhh? adduuuuh?.. sssshhh?. Maaak?.., Imah lagi ngent*t nih, Maak?, enaknyahhh?, adduuuhhh?., ooohh?, yaahhh? yaahhhhhhh?, terruuuusssss? ?
Suara Imah keras sekali, tapi aku tidak peduli. Justru mendatangkan sensasi yang menambah nikmat. Toh tidak ada siapa-siapa di rumah ini, kecuali anakku yang sedang tidur lelap. Maka terus kucepatkan dan kukuatkan sodokan-sodokanku. Imah semakin tidak terkendali. Orgasmenya pasti sudah dekat, seperti aku juga.
Ketika kurasakan ejakulasiku telah semakin dekat, kucabut tiba-tiba penisku dari dalam liang surgawi Imah. Dengan gerak cepat, kubalikkan posisinya hingga menelentang, lalu secepat kilat pula kutindih tubuhnya dan kumasukkan kembali batang penisku. Imah menyambut dengan mengangkat pinggul agak tinggi, kedua pahanya mengangkang selebar-lebarnya memberi jalan.
Vaginanya telah teramat sangat basah oleh lendir sehingga memudahkan batang penisku segera masuk. Tapi tetap saja aku harus menekan agak kuat karena mulut vaginanya kecil seperti perawan, sementara batang kemaluanku besar dan keras seperti pentungan kayu.
Kurasakan spermaku telah menggumpal di ujung batang kemaluanku, siap untuk dimuntahkan. Kulihat Imah pun sudah hampir mencapai klimaks. Maka, langsung saja kutancap lagi, cepat, kuat, dan kasar. Imah menjerit-jerit mengiringi pencapaian puncak kenikmatannya.
?Ssshhh?.. aaahhh?, oooooohhh?, tongkol Bapak enak banget siiihhh?,
adduuhhh?., terruuusss?. , yaaaaahhh??
?Enak, Maah??
?Enak bangeet?., Imah mau ngent*t terus kalau enak begini..?. tongkol Bapak lezat?, addduhhhh?, tuuhh? yahh?, tuuhh? adduhhh?, enak banget siiihhh?.?
?Puter terus, Maah? yah? yah??
?Ohhh? enak banget, Paak?, enak bangeettt?., Imah doyan tongkol Bapak?, enak ngent*t dengan Bapak?, Imah pingin ngent*t terussss?, addduuuhhhh? ., enaknyaahhhh? .?
?Saya hampir keluar, Mah??
?Imah juga, Pak?, bareng?, bareng?., yahh?, teruusss? sodok?, yahhhh?
terrrussss? yahhh? terusss? sedaaap? asyiiik?, yah? gituuhhh? yahhh?. yahhh? oooooohhh??
Imah mengejang lagi, dia mencapai orgasmenya yang kedua. Pinggulnya terangkat setinggi-tingginya, sementara kedua tangannya memeluk tubuhku luar biasa erat. Pada detik bersamaan, aku pun mencapai puncak kenikmatanku. Air maniku menyembur-nyembur banyak sekali di dalam rongga vagina Imah. Bibir kemaluannya serasa berkedut-kedut menghisap batang kemaluanku hingga spermaku muncrat berkali-kali dan keluar sampai tetes terakhir. Luar biasa, sungguh belum pernah kurasakan nikmatnya bersetubuh seperti ini.
Kami terdiam dengan tubuh menelentang sesudah itu. Hanya desah nafas kami yang tersisa di tengah- tengah keheningan. Mataku tertumbuk pada jam dinding. Hampir pukul empat. Entah berapa jam aku telah menghabiskan waktu, mereguk kenikmatan bersama pembantu bernama Imah ini.
Pikiran warasku mulai kembali. Apa yang telah kulakukan ini? Mendadak muncul penyesalan di dalam hati, tetapi jujur harus kuakui betapa aku teramat sangat luar biasa menikmati perilaku yang gila ini.
Rupanya Imah pun mengalami gejolak perasaan serupa. Mulanya dia sangat menyesali perbuatan kami barusan, dia menangis terisak-isak sambil memiringkan tubuh membelakangiku. Aku sempat ketakutan.
?Kamu kenapa, Mah?? bisikku sambil merangkulnya dari belakang.
?Imah malu?? jawab Imah di tengah isaknya yang semakin menjadi. Perlahan kubalikkan badannya. Lalu kupeluk dia erat-erat tanpa berkata apa pun, sampai tangisnya reda.
Berpelukan dalam keadaan bugil dengan gadis semanis Imah tentu saja membuat birahiku terangsang kembali. Batang kemaluanku mulai bangkit mengeras. Namun perkataan Imah membuatku tersadar. Seharusnya aku yang malu. Maka tanpa berkata berkata-kata lagi, kutinggalkan Imah seorang diri. Dalam hati aku bertekad untuk tidak akan pernah mengulang perbuatanku tadi.
Aku tidur nyenyak sekali sampai hampir pukul sebelas. Perjalanan panjang mendaki puncak kenikmatan membuat tidurku seperti orang mati. Tubuhku terasa segar sekali sesudah itu.
Kudapati Imah tengah bermain dengan anakku Gavin di ruang keluarga. Mengetahui aku sudah bangun, dia segera menyiapkan sarapan untukku: kopi susu hangat, roti isi kornet kesukaanku, serta dua butir telur ayam setengah matang. Walaupun dia tidak berkata apa pun, kurasakan kemesraan yang luar biasa dalam pelayanannya itu. Darahku kontan berdesir-desir. Apalagi saat itu dia mengenakan daster longgar yang amat pendek. Pahanya yang putih mulus serta tonjolan buah dadanya yang super montok membuatku hampir tidak tahan ingin memeluknya. Berani bertaruh, dia juga merasakan hasrat yang sama denganku.
Tapi aku sudah bertekad bulat untuk mengalahkan nafsuku sendiri. Kualihkan pikiran jorokku dengan berkonsentrasi membaca koran mingguan sembari menyantap sarapan yang disediakan Imah. Sesudah itu lekas-lekas aku pergi mandi. Aku harus menghindari kesempatan berduaan dengan Imah. Maka, siang itu aku pergi membawa Gavin ke rumah mertuaku.
?Nggak makan siang dulu?? tanya Imah perlahan sekali, suaranya seperti orang yang sangat merasa bersalah. Aku jadi kasihan. Seharusnya dia tidak perlu salah tingkah seperti itu, tetapi aku tidak mau membahasnya karena takut berdampak negatif.
Gavin bermain dengan riang gembira di rumah neneknya. Banyak yang menemani dia di sana. Aku jadi bebas beristirahat, tapi itu malah membuat banyak peluang untuk mengingat-ingat dan melamunkan Imah. Sambil rebahan menatap langit-langit kamar, aku terbayang pada keindahan tubuh babu itu. Aku ingat bagaimana sexy-nya dia ketika mengenakan t-shirt ketat.. Buah dadanya membusung, memamerkan ukurannya yang besar serta bentuknya yang bulat. Lalu terbayang ketika sepasang payudara itu telah kutelanjangi. Benar-benar montok dan bagus. Lingkar dadanya tidak besar, karena tubuh anak itu memang relatif mungil, tetapi bulatannya luar biasa montok dan kenyal..
Otomatis aku jadi membayangkan keseluruhan tubuh Imah yang telanjang. Anak itu mungil, tetapi dagingnya kenyal dan padat. Aku paling suka dadanya, tetapi yang lain-lain pun indah sekali. Kulitnya luar biasa halus mulus, putih seperti susu. Pinggul dan pantatnya besar, kontras dengan pinggangnya yang ramping. Terakhir, yang membuat darahku serasa bergolak dan mulai memanas adalah bayangan indah kemaluan Imah: bentuknya yang tebal menggunung, bulu-bulu hitam keritingnya yang tidak terlalu lebat, sampai belahannya yang merah merekah dibasahi cairan lendir pelumas, dihiasi klitoris yang menyembul-nyembul. Ahhh, aku tidak dapat lagi menghentikan lamunanku. Kucoba-coba membaca majalah untuk mengusir jauh-jauh bayangan Imah, tapi tidak berhasil. Batang kemaluanku yang sudah telanjur naik tidak mau turun-turun lagi. Aku jadi resah. Alih-alih bisa melupakan Imah, aku justru teringat betapa erotisnya dia ketika tengah kusetubuhi semalam.
Semua tergambar jelas di benakku, seakan-akan videonya diputar di langit-langit kamar. Birahiku naik semakin tinggi, teringat bagaimana tubuh telanjang Imah menggelepar- gelepar menikmati hunjaman batang penisku pada vaginanya. Juga erangan-erangannya yang jorok. Aku benar-benar tidak tahan.
Tiba-tiba otakku mengkalkulasi waktu. Saat ini baru pukul satu lewat sedikit. Kalau kutinggalkan Gavin di rumah ini, lalu kujemput lagi nanti malam, maka aku akan punya waktu bebas setidaknya delapan jam bersama Imah!
Dengan kesadaran penuh, kumatikan akal sehatku. Aku pulang sendirian. Tentu saja Imah yang membukakan pintu pagar karena memang tidak ada orang lain lagi di rumah. Mengetahui tidak ada Gavin, dia memandangku dengan mata berbinar-binar. Aku pura-pura tidak tahu. Belakangan Imah mengakui bahwa saat itu dia girang sekali karena memang dia tengah mengharapkan aku datang sendirian tanpa Gavin. Sepanjang pagi dia menyesali apa yang telah kami lakukan semalam, tetapi sama seperti aku, ujung-ujungnya dia mengharapkan itu terulang kembali.
Rasa gengsi membuatku berusaha mengendalikan diri agar perasaanku tidak nampak. Aku tidak ingin Imah tahu bahwa aku ketagihan menidurinya. Dengan diam, aku langsung berlalu masuk kamar. Aku berharap Imah masuk, tetapi ternyata tidak. Lalu aku duduk di ruang keluarga menonton TV dengan mengenakan celana pendek dan kaos singlet. Kudengar suara Imah di dapur, kesal sekali rasanya karena dia tidak datang menemuiku. Apakah dia benar-benar menyesal sehingga tidak ingin mengulangi kenikmatan itu lagi?
Karena tidak tahan, akhirnya kupanggil dia. Dalam hati aku bertekad, biar aku ?mengalah?, tapi nanti akan kubuat dia merengek-rengek.
Imah berjalan dengan mata menunduk menghampiriku. Batang penisku langsung bangun mengeras, tapi aku tetap tenang. Kupersilakan Imah duduk, setelah itu baru aku bicara.
?Mah, saya mau ngomong jujur sama kamu.?
?Ngomong apa, Pak??
?Soal tadi malem, saya terus terang nyesel, Mah. Saya malu. Saya pikir, seharusnya kita nggak ngelakuin itu??
?Iya, apalagi Imah, malu banget sama Bapak??
?Saya kepingin ngelupain itu, Mah. Sejak tadi pagi, saya niat untuk nggak ngelakuin itu lagi. Dengan kamu, atau dengan siapapun selain istri saya. Tapi?,?
Imah mengangkat wajah menunggu aku menyelesaikan kalimat.
?Tapi apa, Pak?? Dia penasaran. Aku tersenyum, lalu perlahan kuturunkan celana pendek beserta celana dalamku sekaligus. Batang kemaluanku langsung berdiri tegak tanpa penghalang.
?Adik saya ini nggak mau disuruh ngelupain kamu?!? kataku. Kontan muka Imah memerah, kemudian dia tersenyum malu-malu. Tanpa kusuruh, dia bangkit lalu berlutut di hadapanku. Cepat dia melucuti celana pendek beserta celana dalamku. Kemudian batang penisku digenggamnya dengan dua tangan. Seperti orang melepas kangen, sekujur tongkat wasiatku itu diciuminya bertubi-tubi. , sementara kedua tangannya mengurut-urut dengan lembut. Aku membalas dengan mengusap-usap rambutnya.
Sejenak Imah mengangkat wajah memandangku. Matanya mulai sayu, pertanda dia telah terserang birahi. Kemudian lidahnya menjulur panjang. Topi bajaku dijilatnya dengan satu sapuan lidah. Aku menggelinjang. Otomatis batang penisku mengedut, dan gerakan itu rupanya menambah gemas Imah. Lidahnya jadi semakin lincah menjilat-jilat. Buah zakarku pun kebagian. Aku semakin tidak kuat menahan nikmatnya. Kedua pahaku mengangkang lebih lebar, pinggulku mengangkat sedikit, dan itu dimanfaatkan Imah untuk terus menjilat-jilat sampai ke belahan pantatku. Gila, ternyata rasanya luar biasa nikmat! Belum pernah aku merasakan lubang pantatku dijilat seperti ini.
?Enak banget, Mah? Kamu pinter banget,? aku mengaku terus terang. Kembali Imah mengangkat wajah memandangku. Matanya semakin sayu. Sejenak dia mencoba tersenyum, ada rasa bangga di wajahnya bisa membuatku keenakan seperti itu. Lalu mulutnya menganga lebar, batang kemaluanku dikulumnya dengan lembut, masuk perlahan-lahan sampai tiga perempatnya.
?Gede banget, siiih???!? dia mendesis sambil menarik mulutnya dari batang penisku. ?Imah kepingin masukin semua, nggak bisa! Nggak muat!?
Aku tersenyum saja. Kutekan sedikit kepalanya, dia mengerti, kembali batang penisku dimasukkannya ke dalam mulut. Kali ini dijejal-jejalkannya terus, tapi tetap tidak berhasil karena ukurannya yang super besar memang tidak memungkinkan. Matanya memandangku lagi sementara mulutnya terus mengulum sembari mengocok-ngocok batang penisku dengan tangan. Aku memberinya senyuman membuat dia senang.
?Pak, Imah juga pingin ngomong jujur,? tiba-tiba Imah berkata. Kedua tangannya kembali mengurut-urut batang penisku dengan mesra, sementara matanya sayu menatapku.
?Ngomong apa??
?Imah sempet malu karena tadi malem Imah kayak orang kesurupan. Imah emang gitu kalo? bener-bener
keenakan, Pak.?
?Tapi kamu nggak nyesel, kan ??
?Ya nggak. Imah cuma malu sama Bapak??
?Emangnya enak ya, Mah??
Imah tidak menjawab. Dia berdiri sembari menurunkan sendiri dasternya. Batang penisku kembali mengedut kuat, menyaksikan tubuh Imah menjadi telanjang, tinggal bercelana dalam. Sedari tadi dia memang tidak mengenakan BH. Kuraih tubuhnya agar lebih mendekat dengan melingkarkan kedua tanganku pada pantatnya yang bulat.
Imah menggeliat kecil sementara pantatnya kuusap-usap. ?Buka, ya?? kataku seraya menurunkan celana dalamnya, tanpa menunggu persetujuan. Seketika kemaluannya terpampang telanjang di depan mukaku. Aku menengadah menatap matanya, dan dia tersipu. Mungkin malu, tangannya bergerak hendak menutupi selangkangannya, tapi kucegah. ?memiaw kamu bagus,? kataku sambil membelai bulu-bulu hitam kemaluannya. Otomatis pinggulnya meliuk, mungkin dia kegelian. Aku malah tambah senang, gentian lidahku yang mengusap pangkal pahanya. Tentu saja dia semakin kegelian.
Beberapa saat lidahku menari-nari di seputar perut dan pangkal pahanya. Imah menikmati perlakuanku dengan meliuk-liukkan pinggulnya. Kadang berputar perlahan, sesekali didorongnya maju mendesak mukaku. Aku jadi gemas, maka jemariku mulai beraksi. Imah mengangkang sambil menekuk lututnya sedikit ketika dirasakannya jari tengahku menyusup ke belahan vaginanya yang mulai basah.
Dari satu jari, dua jariku masuk, disusul jari ketiga. Imah mulai merintih. Pinggulnya bergerak menjauh, tetapi ketika tusukan jemariku mengendur, dia justru memajukan lagi pinggulnya. Aku jadi semakin ?hot? menggosok-gosok mulut vaginanya dengan jari. Erangan dan desahan Imah mulai menjadi- jadi. Lututnya gemetar, mungkin tidak kuat menahan gelora birahi..
?Imah lemess?? desisnya.
Tiba-tiba dia duduk mengangkang di pangkuanku. Tanpa ada rasa sungkan dan malu-malu lagi, leherku dipeluknya erat-erat sembari menyodorkan buah dadanya ke mukaku. Aku jadi gelagapan. Buah dadanya yang montok menutupi hampir seluruh wajahku. Imah mengikik. Dengan gemas, kugigit puting susunya sedikit, sehingga dia mengendurkan pelukannya. Baru aku lebih leluasa. Kuciumi buah dadanya yang sebelah kiri, kujilat dan kukenyot-kenyot putingnya, sementara yang kanan kuremas-remas dengan tangan. Kurasakan payudaranya mulai memuai semakin montok, dan putingnya mulai mengeras.
Sesekali aku juga menciumi sekitar ketiak Imah yang berkeringat. Aku suka bau badannya, harum seperti bayi. Keringatnya kuhisap dan kujilat-jilat. Imah menggelinjang semakin ?hot?.
Beberapa saat kemudian, Imah menggerak-gerakkan pinggul dan meraih batang penisku. Sambil terus menikmati cumbuanku pada buah dadanya, dia berusaha menjejal-jejalkan batang penisku pada mulut vaginanya. Tapi aku pura-pura tidak tahu. Dia mulai kesal, desahannya semakin kuat dengan erangan- erangan tertahan. Batang penisku terus digosok-gosokkannya di belahan vaginanya yang basah, tetapi dia belum berhasil memaksanya masuk.
Kami lalu bertukar posisi. Aku bangkit, Imah duduk. Lalu kurebahkan tubuhnya. Dia melonjorkan sebelah kakinya di lantai, sementara yang sebelah lagi disangkutkannya di sandaran sofa. Posisinya itu membuat kemaluannya merekah, mempertontonkan belahannya yang merah basah. Kelentitnya menyembul. Aku tidak membuang waktu, langsung kucumbu kemaluannya dengan mulut dan lidah. Dia mengerang, ?Uddaah, Paak?.?
Aku tidak peduli karena aku memang masih ingin bermain-main. Imah sendiri mulai tidak terkendali. Tubuhnya mulai menggeliat-geliat dengan irama liar tak beraturan. Nafasnya memburu, mulutnya mengeluarkan desah dan erangan tak henti-henti. ?Uddahh, Paak?, uddaaaahhh?, Imah nggak kuaattt???
Mengetahui dia mulai dikuasai birahi, aku justru tambah senang. Pantatnya kuangkat. Imah mengangkang lebih lebar, sehingga kemaluannya semakin merekah. Mulut vaginanya menganga. Kusodokkan lidahku lebih dalam, kugoyang-goyang ujungnya dengan cepat, lalu kukenyot klitorisnya. Dia menjerit. Kembali kugosok-gosok seluruh dinding vaginanya dengan lidah, sementara kelentitnya kutekan dan kuusap-usap dengan ibu jari. Lendirnya jadi semakin banyak, pertanda birahinya semakin tinggi.
Tiba-tiba Imah mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi sambil menekan kepalaku kuat-kuat pada selangkangannya. Tubuhnya mengejang. Kutekan mulutku pada vaginanya, lidahku menjulur lebih dalam, lalu kukenyot dengan suatu hisapan panjang. Terdengar erangan Imah. Tubuhnya menggelepar- gelepar menyongsong detik-detik pencapaian orgasmenya, kutambah nikmatnya dengan terus mengenyot mulut vaginanya yang asin berlendir.
Setelah itu tubuh Imah agak sedikit lunglai. Nafasnya memburu. Kutindihi tubuh bugilnya. Kuciumi mukanya yang berkeringat. Dia tersenyum

Parmin

Dimalam jumat itu berjalanlah seorang pemuda ganteng dan gagah perkasa…. Fak ini bukan cerita murahan karya penulis forum ngecrot yg selalu mengambarkan kesempurnaan laki2. Padahal sudah jelas para pembaca adalah para mahluk kekurangan kurang duit dan tampang kurang tampan ( kasarnya muka jones ). Oke cukup curhatnya…
Parmin pemuda kampung yg lagi sekolah dikota kls 3 sma dan ngekos tp lebih tepatnya bekas gudang yg dijadikan tempat tidur parmin (murah 150k sebulan). Malam itu parmin baru pulang dari tempat temannya buat nebeng wifi gratis dan lg bruntung parmin karna bisa donlod bokef sepuasny, karena bila ada teman2nya Parmin bakal diusir bila ketauan donlod bokep dan bikin game mereka lag. Karna itulah parmin sampe pulang malam, Parmin pun gak tau klo hari ini malam jumat keliwon karena penisnya ud tegang pengen coli. Tiba2 parmin kebelet pipis, celingak celinguk akhirnya parmin langsung menuju semak2 dipingir jln. Dibalik semak2 parmin langsung membuka celananya dan keluarlah batang penis yg item dan kurang gede ( kira2 sendiri). Setelah pipisnya selesai entah kenapa penis parmin ngaceng berat. Sambil lirik kiri kanan dikocoklah penis parmin dan gak sampe 5menit muncratlah peju yg ditahan dari siang td. Setelah puas akhirnya parmin sadar bahwa tempatnya sepi dan seram maka buru2lah parmin kabur meningalkan tkp mesumnya td. Sesaat kemudian parmin pergi ada sesuatu yg muncul dari tanah bekas parmin pipis dan coli td, sosok wanita berbaju putih dengan rambut panjang. Tiba2 wanita itu berucap “Tuan”.
Sampe dikos langsung parmin telanjang dan menuju kekasur, hepon langsung menyetel jav full jos gandos. Setelah puas coli parmin pun tertidur.
Entah jam brapa parmin terbangun karna mendengar suara ” tuan tuan tuan….”
Saat parmin membuka mata alangkah kagetnya dia melihat wanita cantik tp cuma kepala saja sontak parmin kaget dan kencingnya muncrat tanpa bisa berkata apa2.
“Tuan jangan takut aku adalah pelayanmu” kepala itu berucap
Parmin ingin teriak tp tak ada suara yg keluar dari mulutnya. Setelah 5 menitan akhirnya parmin mulai memberanikan diri berkata2.
“Siapa kamu? Apakah kamu hantu?”
“Saya adalah pelayanmu tuany dan saya bukanlah hantu tp roh yg telah terikat kontrak dengan tuan”
Parmin bingung “kontrak? Kok iso? Eh kok bisa?”
Wanita itupun tersenyum dan menjawab ” saat tuan meneteskan sperma dibatu naga geni saat itulah tuan telat membuka segel roh saya yg telah dikunci oleh guru saya dulu.”
Entah kenapa parmin lega mendengarnya “kenapa tubuhnmu cuma kepala?” Walo sudah tidak takut lg tetap aja melihat kepala melayang bikin parmin begidik.
“karena sperma yg tuan muncratkan kurang banyak untuk menciptkan seluruh badan” .
Parmin dengan gaya sok kalem mangut2.
“Berarti bila batu itu dimuncratin sperma lg maka tubuh kamu bisa utuh?.
“Benar tuan, tp tuan tidak perlu muncratin sperma tuan dibatu naga geni lg. Cukup saya minum maka tubuh saya bisa utuh lg”.
Hmm… diperhatikannya wajah roh wanita itu ternyata cantik sekali, serta merta penis parmin bangun.
“Apakah kamu bisa kusentuh?
“Bisa tuan hanya tuan yg bisa menyentuh saya”
Pelan parmin menyentuh wajah wanita itu… Oh.. lembutnya wajahnya.
Dengan otak mesum dan tak punya malu parmin menyuruh wanita itu tuk mengoralnya.
P: oh enak banget… ( kaget juga parmin ama emutan cewe ini)
P: kamu pinter ngemut belajar dari mana?
W: saat tuan menjalin kontrak saat itu juga hamba bisa melihat seluruh kenangan tuan termasuk saat tuan nonton film jav.
Parmin ngebatin “pantes bisa bahasa indo”
P: lanjut ampe muncrat ( ditekan kepala wanita itu naik turun)
parmin benar2 merasa melayang untuk pertama kalinya adek kecilnya diemut wanita itupun kepala doang.
P: arhhhh.. metuuuuuu……
Crit keluarlah peju parmin dimulut roh itu… beberapa saat kemudian mulai sedikit tumbuh leher.
Parmin pun heran kok cuma sedikit???
W: maaf tuan peju tuan kurang banyak.
Jederrrrr…. baru ingat parmin malam td dia ud ngecrot 3x.
Dilihatnya jam sudah jam 5 pagi.
Setelah sekian lama baru parmin kepikiran tanya.
“Nama kamu siapa?
“Nama saya…. Xio liang
“Wat the fak..

“Susah amat namanya…. ”
“Maaf tuan..” dengan muka sedih roh itu berkata.
“Okeh mulai sekarang namamu Maria Ozawa biar lebih gaul” dengan muka mesum parmin berucap. Muka roh rada getir karena tau dari ingatan parmin Maria ozawa adalah bintang top jav yg sekarang sudah tobat.
“Hamba nurut tuan”
“Huehehehe… good slave”
“Oh apakah orang lain bisa melihat dan mendengarmu?
“Tidak tuan hanya tuan yg bisa melihat dan mendengar bahkan menyentuh hamba”
“Wokeh…. kalo gitu.” “Kamu punya ilmu gak?” Parmin yakin setiap roh punya ilmu seperti cerita2 yg sering dibacanya.
“Punya tuan tp kekuatan saya belum pulih untuk mengeluarkan ilmu2 pamungkas”
Dengan muka kusut parmin mendengarnya sekusur selimut plus lap peju parmin.
“Klo sekarang bisa ilmu apa aja?”
“Maaf tuan hamba tidak mengerti ilmu yg tuan inginkan?”
Sambil memejamkan mata parmin berfikir.
“Menciptakan uang?”
“Maaf tuan tidak bisa”
“Ah sial padahal tuanmu ini lg kere”
“Maaf tuan” dengan muka bersalah maria lirih berucap.
“Kalo membuat orang nurut sama aku bisa?”
“Bisa tuan tp tidak bisa lama karena kekuatan saya masih lemah”
“Berapa lama?” Dengan tidak sabar parmin bertanya lg.
“Kurang lebih 3jam”
“Whattt…. gile 3jam. Bisa ngentot dengan puas gw klo gitu..”
“Eh setelah 3jam apakah dia akan ingat?
“Hamba bisa membuat target ingat atau pun tidak ingat tuan.”
“Anjay hebat kowe maria sini tuan cium kamu”
Ditarik kepala mari diciumi Parmin dengan rakus digigitnya bibir maria setelah puas menciumi maria langsung kepala itu diarahkan kepenis parmin. Ditarik naik turun dengan semangat buruh kasar parmin membuat maria memblowjob penis item dan bau parmin. Hampir setengah jam parmin diblowjob maria dan akhirnya muncrat juga sedikit peju parmin.
“Anjay uenak tenan diemut apa lagi nanti klo ud bisa kentu…”
“Maria apakah gak ada ilmu nambah peju?”
“Maaf tuan tidak ada tp kalo jamunya ada”
“Oh cool… ayo bilang apa bahan jamunya biar nanti tuan kepasar beli”
Maria menjelaskan bahan2 pembuatan jamu tp saat itu juga parmin mukanya mengkerut karena nama bahan2nya aneh2.
“Maria aku lom pernah dengar nama tumbuhhan itu dan proses pembuatannya kok sepertinya lebih susah dari pada kenthu.”
sebelum maria sempat menjawab parmin sudah berdiri dan mengambil anduk untuk mandi. Karna kos murah ya kamar mandi n wc diluar. Setelah mck selesai parmin langsung ganti baju sekolah. Jam 6an parmin jalan kaki kesekolah. Andai orang lain bisa liat pasti bakal kejang liat parmin jalan dan dibelakangnya ada kepala melayang. Dalam perjalanan keskul parmin selalu bertanya2 kemaria dan tentu saja biar tidak keliatan kaya orang gila parmin pake hansfree (bener ga ni tulisannya?).
Mungkin kalian mikir kenapa parmin gak malak orang buat dapat duit? Walaupun parmin mesum abis tp dia masih takut dosa, bapak parmin walo buruh kasar tp tetap ibadah, ibunya julaan kecil2an dekat sd. O iya parmin punya adik yg ud kls 3 mts, Cantik?montok? Tentu tidak… tp parmin sayang adeknya. Walo dikelas parmin bukan yg pintar tp dia ringan tangan apa lg klo diupah. Pulang sekolah wajib bagi parmin mampir kerumah temannya sirendi untuk nebeng wifi, hp parmin bo kuota no sim. Hpnya pun pemberian rendi hp cina layar rada retak tp masih lancar buat nonton bokef ato main coc tp buat main moba pasti ngehang. Parmin cari2 tentang nama tumbuhan jamu tp nihil. Lg asik gogling parmin dikejutkan oleh suara rendi.
“Min ngapin? Bokep lg pasti ni”
“Sori ya muka alim gini anti bokep”
“Cuk alim tai… buruan klo donlod bokep bentar lg pada mo moba nih.”
“Yooo… ni gw juga mo balik”
“Gak makan dulu min?” Ortu rendi baik orangnya ngasih makan parmin kadang parmin dikasih duit ama ibunya rendi. Dengan muka tembok parmin menjawab.
“Jelas gw makan dulu baru pulang ren, gimana mo punya tenaga gw tanpa masakan ibu loe hehehe….”
“Dancuk tenaga buat ngocok wae gaya min min..”
Setelah makan gak lupa parmin bantu ibu rendi mencuci piring, parmin pun jalan pulang. Setelah tak lama parmin jalan Maria berkata kepada parmin.
“Tuan boleh saya ngomong?”
“Tentu maria.. arep ngomong opo kowe?”
“Tadi maria merasa ibu rendi napsu melihat tuan”
“Waat!

“Yakin kamu mar?”
“Yakin tuan, saat hamba membaca ingatan ibu rendi dia selalu masturbasi sambil ngebayangin tuan. Dia ngebayangin penis tuan sebesar penis pemain tarzan X”
Saat mendengar parmin pun menghela napas perasaan bangga tp juga kecewa karena harapan tak sesuai kenyataan.
“Kita harus kerja keras maria, kata orang diforum ngecrot dengan id @Vegilover toge dan telor setengah mateng bisa bikin banyak peju hmm…”
Dengan tangan mengepal keatas parmin mantap menatap masa depan. Tapi saat ingat saldo duit, parmin pun kembali menghela napas.
“Tuan berhenti!” Tiba2 maria teriak kepada parmin.
“Ha? Apa maria ada apa?” Dengan wajah penuh horor parmin clingak celinguk tp dia gak ada melihat apa2.
“Didekat sini ada terasa aura spirite stone ( bakal gw singkat SS )”
Parmin sadar disekitar situ adalah tempat parmin coli td malam.
“Coba kamu cek seberapa banyak”
“Siap tuan” kepala maria pun melayang dan menembus tanah. Setelah beberapa saat mari kembali lg. “Ada 10 Ss dan beberapa emas perhiasan”
“Good… apakah semuanya bakal muat ditas ini? Sambil menunjuk tas butut parmin.
“Sepertinya kurang dan tidak bakal kuat tuan, sedikitnya harus sekoper jamaah haji”
“Duh ribet amat… ya udah hipno semua pekerja dan suruh gali harta itu”
“Siap tuan”
Oh iya Spirite Stone adalah batu yg bisa diserap kekuatannya. Jono tau saat tanya2 ama maria gimana nambah kekuatannya.
Gak sampe 1jam peti harta itu terlihat. Parim suruh para pekerja ngebuka, dengan muka sange abis parmin langsung otw ke kotak harta tersebut.
“Mar gimana akutnya semua ini?””
Tanpa menjawab maria melihat lihat isi dalam kotak harta, tiba2 mari tersenyum kepada parmin dan bilang.
“Tuan hokinya yahut”
“Coba tuan pake cincin itu”
Parmin bingung tp tetep nurut maria. Diambilnya cincin yg rada gede (bentuknya kek cincin giok asal tp polos tanpa ukiran)
“Trus piye? Kegedean ini” parmin komplain.
“maaf tuan coba teteskan darah tuan ke cincin tersebut”
Seperti pelem2 parmin pun mengigit carinya dan diteteskanya darah ke cincin. Dan ajaib cincin itu tiba2 ngepas dijari telunjuk parmin. Dengan petunjuk maria parmin pun paham cara makenya. Kotak harta yg besar itu bisa masuk kedalam cincin benar2 jos gandos. Setelah beres semua parmin langsung kekos. Setelah 2jaman maria menyerap tenaga ss langsung parmin mengarahkan kepala itu kepenisnya lg. Setelah napsunya tersalurkan parmin dan maria diskusi gimana cara jual batangan emas. Akhirnya parmin langsung ke rumah pak jojon pegawai pajak senior. Parmin yakin duit pak jojon banyak karna rumahnya gede mobilnya banyak. Setelah seluruh rumah dihipno semua sama maria, parmin pun bukan seperti bertamu tp seperti raja dirumah sendiri. Karna parmin jujur dan baik hati (ehem) maka parmin jual 1 batang emas ke pak jojon. Pengen parmin jual semua tp pak jojon gak punya banyak uang cash. Karna ud magrib parmin tanpa malu nebeng mandi, karna power maria udah upgrade sekarang hipnonya bisa ampe 2hari. Langsung ditarik anak pak jojon si niken kekamarnya, seperti pembantu niken disuruh parmin tuk mandiin dia. Dikamar mandi parmin tangannya sibuk bukan buat sabunan tp ngeremasi badan niken. Walaupun tetek niken gak besar tp tetap aja asik parmin meremas mengisapnya.
“Aduh bang sakit bang, jangan keras2 gigit susu niken” keluhan rasa sakit aja yg dirasakan nikan. Parmin ingin sekali ngentot niken tapi sayang maria belum bisa bikin mantra kb yg harus pake tangan bikinnya. Otomatis blowjob lagi oleh maria sedang mulut parmin sibuk mencium bibir menghisap tetek niken.
Pasti kalian mikir kenapa ngak kentu ibunya niken??? Uh… badan tertimbun lemak gitu, harusnya ibu niken sujut sukur kagak dicerein pak jojon. Urusan mandi selesai parmin pun langsung kemeja makan yg udah ditunggu keluarga pak jojon. Setelah kenyang parmin nyuruh sopir pak jojon buat ngantar ke mall terdekat, parmin mo beli hp baju dll dan tak lupa supelmen penambah sperma. Sebelah mal ada hotel alexjos otak kotor parmin pun mulai berhayal bakal pesta sex dengan cewe impor yg selalu heboh ditv. Sebenarnya dengan muka parmin orang pasti bakal mikir bahwa parmin umurnya 30an… Tapi tetap aja parmin nyuruh sopiir pak jojon tuk cek in, parmin takut klo wajah mudanya dilarang nginap disitu ( hoek ). Tanpa ragu parmin ngambil VIP dengan tarif 10jt semalan.
Parmin ngebatin “fu fu fu… sex party amoy?rusia?panlok?jepang! In cuming…”
Saat parmin udah mulai gila dengan fantasinya tiba2 maria berucap.
“Tuan ada bahaya disini”
“Haaa? Wtf” dengan muka asem parmin mengeluh.
“Emang bahaya apa?”
“Ada teroris yg berencana ngeledakin hotel ini tuan”
“Wat the fakkkkkk….. !!!!” Parmin nyunpah dalam hati.
“Maria bisa kamu hipno tu grombolan amrozi?”
“Biasa tuan”
“Fiuh… lega.. sana buruan hipno semua tu grombolan baper, trus suruh tidur biar besok aja mereka nyerahin diri.”
“Siap tuan”
Parmin pun lanjut jalan menuju kamar ditemani sopir dan cewe pengantar konci. Setelah sampe kamar parmin pun langsung tanya2 tarif psk impor ( orang miskin tu wajib tanya harga )
Setelah tanya2 dengan cewe pembawa kunci parmin pun nyuruh sopir pak jojon tuk pulang. Pada saat tanya2 parmin nyuruh cewe pembawa kunci telanjang tapi si cewe yg bernama Nur bilang klo dia lg datang bulan.
“….” parmin
“Ya udah buka bajumu aja aku pengen nyusu” Sambil nungu maria beresin teroris parmin pun Nur tuk netekin dia. Susu nur lumayan besar dan saat parmin remas eh keluar air, dijilatnya air susu itu.
“Hmmm… enak juga susumu”
“Udah berapa bulan umur anakmu kok susunya masih deres gini?”
“Baru 2 bulan pak”

Menikmati Tubuh Mbak Reni

Namaku Doni umur 30 aku seorang yang telah beranak serta beristri, tinggiku 165cm berat badanku 62 kg, mukaku lumayan cakep lah tu kata istri ku. Singkat cerita aku punya sodara di Mgl tepatnya di desa g*nd*l, kl*p* Mgl. Sodaraku itu adalah anak pakdhe Jiman mas Agus namanya dia juga sudah beristri namanya Reni tingginya ku tafsir 158 dengan berat badan mungkin 40 kg mereka memiliki seorang anak yang berusia kurang dari 1 tahun, dan disini lah awal kisah ku dengan Mbak Reni yang tak kan kulupakan.
Di setiap kali aku pulang kampung untuk menemui sodara maupun ibu angkat ku di Mgl aku selalu mampir kerumah pakdhe Jiman untuk bersilaturahmi. Seperti biasa aku memilih waktu mampir ke tempat pakdhe pasti setiap habis maghrib sekitar pukul 18:30 dimana dirumah pakdhe hanya ada Mbak Reni dan budhe saja, karena suami Mbak Reni masih beraktifitas maklum kerja mas Agus sebagai pembuat jalan raya dan pulangnya larut malam sedangkan pakdhe masih berada di mushola hingga jam 21:00.
((Thok..thok…)) “Assalamualaikum” kataku di depan pintu pakdhe
“Wa’alaikumsalam” jawab seseorang di balik pintu itu, aku yakin yang menjawab salam itu adalah Mbak Reni, sedetik kemudian pintu pun terbuka
“eh, Dek Doni…sini masuk” kata Mbak Reni yang hanya terlihat kepalanya di balik pintu rumah
“oh iya, kulonuwun yo mbak” sahutku, lalu aku pun masuk ke ruang tamu. Saat ku masuk aku sempat mencuri pandang kepada Mbak Reni yang saat itu menggunakan bebidoll (pakaian tidur) yang sangat tertutup maksudku dengan atasan kaos dan celana panjang, warnanya pink cukup sopan
“duduk dek, nah gitu maen kesini “ katanya
“hehhe,,,iya mbak, loh mas agus kemana ?” tanyaku
“biasa dek masuk kerja kan lagi ada proyek bikin jalan di secang” tambahnya
“hla pakdhe ?’ tanyaku lagi
“biasa lagi di mushola” jawabnya
“wah ditinggal terus ya mbak?” sahutku
“ya begitulah” katanya lagi
Kemudian tak lama budhe datang dari arah ruang tengah sambil membetulkan ikatan rambut yang dipakainya, aku mengira budhe habis shalat.
“eh Dek Doni, sama siapa kesini?” tanya budhe sambil menghempaskan pantatnya ke sofa hijau
“sendiri budhe” jawabku singkat
Kami bertiga akhirnya larut dalam suasana hangat karena ngobrol dan saling berbagi cerita, tapi mataku tak henti-hentinya menatap Mbak Reni yang memang malam itu terlihat cantik.
“eh lupa bikin teh ni Dek Doni, bentar budhe tak bikin teh dulu. Keasyikan ngobrol jadi lupa” katanya
“wah gak usah repot2 budhe cman bentar kok” kataku
Tanpa basa basi budhe pun pergi ke dapur untuk membuatkan aku segelas teh panas, saat budhe telah beranjak pergi perasaan hatiku jadi gak karuan, tatkala melihat Mbak Reni mulai merubah posisi duduknya yang tadinya sopan dengan kaki rapat kini kakinya diangkat ke sofa hingga mirip orang ngangkang tapi dengan posisi duduk, alasannya menghindari nyamuk. Aku hanya menelan ludahku melihat pemandangan seperti itu.
Dalam posisi duduk seperti itu dia melipat celana ke bagian atas hingga sampai di dengkulnya dan menggaruk karena gigitan serangga, aku mengagumi kemulusan kulitnya meski jarak kami hanya 1,5 meter saja. Mataku menatap tajam di bagian area wanitanya dan membayangkan bagaimana nikmatnya area itu tapi segera lamunan ku buyar karena budhe datang sambil membawakan aku segelas teh panas dan meletakannya di meja tapi setelah itu budhe tak melanjutkan duduk lagi tapi dia minta ijin untuk menunaikan shalat isya
Entah dari mana awal mulanya Mbak Reni kini membuat kaos yang dipakainya menjadi sangat seksi dimana belahan dada Mbak Reni kini terlihat oleh ku. Mataku tak mau tinggal diam segera saja aku menatap belahan dada Mbak Reni yang aku kira masih padat dan kenyal. Pembicaraan kami pun mulai kearah yang erotis dari posisi bercinta hingga durasi bercinta, sialnya adik kecilku bangun dan ingin mencari sarang yang ditinggal penghuninya
“aduh perihhhh” kata Mbak Reni
“kenapa mbak” kataku panik
“kulitku, tercakar kukuku sendiri nih dek” rintihnya manja
“mungkin mbak garuknya kekerasan” sahutku…“sini ku lihat mbak” lanjutku
“aduhhhh” rintihnya lagi
Akupun melangkahkan kaki untuk berpindah duduk di dekat Mbak Reni, tapi karena tergesa-gesa aku tersandung karpet di ruang tamu dan terhuyung-huyung jatuh tepat di depan Mbak Reni yang posisi duduknya seperti yang aku ceritakan tadi. Adik kecilku yang sedari tegang oleh pembicaraan dan seringnya mataku melihat belahan dada Mbak Reni kini menempel tepat di area milik Mbak Reni, bibirku pun tak sengaja mencium kening Mbak Reni
Saat itu jantung dan nafasku tak karuan, mungkin yang dirasakan Mbak Reni pun sama tapi entah dorongan nafsu atau bisikan setan yang jelas aku memberanikan diri untuk mencium pipinya dengan posisi seperti itu dimana tanganku ku jadikan tumpuan untuk menahan berat badanku. Mbak Reni kulihat memejamkan mata seolah menikmati ciumanku, aku melanjutkan mencium pipi yang sebelah kiri hingga akhirnya aku pun mencium bibir Mbak Reni
(mmmmhhccppz) begitulah kira kira bunyi bibirku dan bibirnya saling beradu. Aku mencoba mengajaknya french kiss dan dia pun membalasnya, bibir kami saling mengulum satu sama lain dan tak pikir lama aku juga mengesek-gesekan adik kecilku yang masih menempel di daerah miss v nya. Mungkin hal itu berlangsung 3 menit
Aku merubah posisi ku agar nyaman, kini aku bersimpuh sambil terus melakukan kuluman di bibirnya. Tanganku yang tadinya menjadi tumpuan kini sudah leluasa untuk meraba tubuh Mbak Reni, tanganku aktif meremas bagian dada yang kenyal itu dengan masih terus saling mengulum bibir. Karena nafasku yang terasa habis aku menyudahi ciuman itu
“maaf mbak kalo aku jatuh trus mencium mbak” kataku sambil terengah engah
“ah sengaja ya Dek Doni” sahutnya genit
Tanpa di komando kami melanjutkan aksi panas kami, kembali aku mencium bibirnya tapi tak ku kulum kerana aku ingin mencium bagian tubuh Mbak Reni yang lain. Dia sengaja passrah dan tetap tak mengubah posisi duduknya. Ciuman ku menyusuri lehernya sekarang di sana aku mulai menjulurkan lidah ku di leher Mbak Reni yang jenjang
“mmmhhh,,,ahhh” desah Mbak Reni
Tanganku juga masih meremas remass mesra ke dada Mbak Reni yang kemudian menyusup masuk mencari buah dadanya melalui bagian bawah kausnya, tanganku pun telah sampe ke bagian buah dadanya yang masi terbalut bh. Mbak Reni pun tak tinggal diam dia melakukan rabaan pada punggungkku kadang juga menjambak rambutku. Sejurus kemudian Mbak Reni agak mengankat kaos bebidoll nya keatas dan terlihatlah sepasang buah dada yang tertutup bh
“Dek Doni mo nenen?” katanya
“mana mbak ren, aku pngen ngrasain” jawabku cepat
Dengan tangan kanannya dia menyelipkan ke buah dada sebelah kiri dan diangkatnya sehingga terlihat oleh ku sebuah puting coklat yang mengkilap, aku langsung melahap puting itu ku jilat, kukulum , bahkah aku giggit dan akhirnya aku kenyot, ada rasa manis asam yang kukecap di lidah ku dan ternyata rasa itu timbul karena asi dari buah dada Mbak Reni karena Mbak Reni memang masi menyusui anaknya. Aku terus melakukan itu mbak Reni menarik bh yang sebelahnya kini kedua buah dada itu terlihat aku menafsir ukuran ya 34 b
“dek don, sebelahnya juga dong biar adil” katanya sambil mencium ubun-ubunku
“emhhhh,,,slllrrpp,,,iiyya,,,ssllrppzz,,,mbakkk” kataku dengan masih menyedot puting susunya
Secara bergantian aku menikmati buah dada Mbak Reni, dia mendesah lirih dan selalu menengadah keatas mungkin karena terangsang hebat. Adik ku berontak di dalam sempak tanganku memeluk pinggang Mbak Reni dan mencoba masuk di celananya di bagian pantat nya dan berhasil karena bahan celana yang tidak terlalu ketat alias kolor, di sana kedua tanganku merasakan kehangatan dari pantat Mbak Reni dan meraskan ada celana dalam, aku melanjutkan aksi tangan ku aku mencoba masuk di celan dalamnya dan sukses lalu kuremas ke dua pantat Mbak Reni
Tubuh Mbak Reni terhentak dan dia menurunkan kedua kakinya kelantai yang kemudian menjepit pinggangku dengan tangannya menjambak rambutku. Ingin aku menanggalkan pakaian Mbak Reni bagian atas tapi kerena situasi dan kondisi yang tak layak akupun tak melanjutkan niat ku itu, setelah puas mengulum puting aku kembali mencium bibir Mbak Reni
“mmmccchhhppz” “mbak aku boleh nggak jilat memek mbak” kataku yang sudah terangsang berat
“eh Dek Doni, jangan ah, bahaya ada ibu(budhe) blum lagi abis ini bapak (pakdhe) pulang” katanya
“oh iya deh, tapi kapan? Jujur mbak aku sudah terangsang” sahutku
“sama Dek Doni. Mbak juga sabar ya” katanya genit sambil mencubit pipiku
Aku yang merasa kecewa lalu mencabut kedua tangan ku yang beradda di pantat Mbak Reni dan menurunkan kaos Mbak Reni tanpa membetulkan bhnya lalu kembali duduk dengan wajah bete aku menatap Mbak Reni yang membetulkan posisi bh nya sambil menjulurkan lidah padaku dan mengedipkan mata sebelah kirinya. Kemudian budhe datang. Entah beliau tau atau tidak yang jelas aku gugup
“ loh kok ndak diminum tehnya” kata budhe
“oh iya lupa, keenakan liat tv budhe” kataku beralibi, memang saat itu tv dirumah budhe sedang menyala jadi aku bisa beralasan dan Mbak Reni pun menambahi agar meyakinkan budhe
“iya buk film nya bagus” tambahnya
“Dek Doni nggak sholat isya dulu” kata budhe
“ oh iya budhe” jawab ku singkat, aku menghela nafas dan meminum teh yang telah dingin tadi kemudian berdiri dan menuju kamar mandi
“permisi budhe mo kemar mandi” kataku sambil membungku karena melewati budhe yang sedang duduk
“oh ya, sudah tau kamar mandinya kan?” gurau budhe
“hehehe” aku hanya terkekeh, dan melanjtkan ke kamar mandi
Sesampainya di kamar mandi aku membuka resleting celana dan kaitan celanaku lalu aku tanggalkan lalu ku kaitkan ke gantungan baju di kamar mandi yang remang-remang itu maklum kamar mandi desa jadi penerangannya di hemat, lalu aku bediri dan mengeluarkan adik kecilku untuk kencing. Aku masih merasa terangsang saat itu dan adik ku pun setengah berdiri alias setengah tegang, diasaat ak menyudahi kencingku dan berniat cebok tiba tiba aku di peluk dari belakang.
Aku memalingkan wajah ku untuk mengetahui siaapa orang yang memelukku itu dan ternyata Mbak Reni, tanganku pun meraih tubuh Mbak Reni ke belakang, mataku terpejam untuk menikmati hangatnya tubuh Mbak Reni. Kemudian aku membalikan tubuhku, ku kecup kening Mbak Reni yang ada di depanku itu, Mbak Reni semaikin erat memelukku
“loh mbak kok masuk sini to?” tanyaku
“ssstttt,,,jangan keras keras ntar ibu denger, lagian pintu gak di tutup ya aku masuk” jawabnya
“hihihii,,,aku lupa kebiasaan di rumah sih mbak” sahutku
Mbak Reni melepaskan pelukannya dan berjongkok di bawah lutut ku, aku terkejut dan bertanya mau apa Mbak Reni ini, aku tambah terperanjat ketika Mbak Reni tanpa iji sudah memegang kontol ku dengan tangan tangan kanannya dan mulai mengocok kontol ku secara perlahan aku melihat daun pintu kamar mandi ternyata sudah ditutp dan di kunci
“mbak budhe gimana?” tanyaku disela menikmati kocokan Mbak Reni
“budhe ngelonin gea (anak Mbak Reni)” katanya
“oh gitu,,, ahhhhh,,,ooohhhh” jawabku dan desahku
“dek ngemut kontol tu rasanya gimana sih” tanyanya
“ahhhhh,,,hmmmhhh, emang Mbak Reni blum pernah?” jawabku
“belum, mas agus gak mau ku emut kok dek?”
“ ya emut punyaku saja kalo begitu” pintaku
Tanpa di paksa Mbak Reni membuka mulutnya dan memasukkan kontolku di mulutnya, aku hanya bisa memejamkan mata seraya menikmati kuluman nya aku merasa terbang melayang di langit magelang saat itu dan merasakan perbedaan antara kuluman Mbak Reni dan istriku. Tak kusangka Mbak Reni pandai mengulum kontol
“ahhhh,,,mbak ren, enak banget mbak ren terus mbak ren” kataku
“mmmhhh,,,crrrlluuppss,,,crrulllpzss,,enyak ko (enak to)” katanya
Karena tak kuat dengan kuluman Mbak Reni aku mengangkat tubuhnya dan segera kupeluk da kukulum bibir mungilnya itu dengan ganas, tanganku mencoba mengangkat kaos Mbak Reni tapi dia menggelengkan kepalanya aku mengakhiri ciumanku
“gak usah di lepas dek” katanya “kita lakukan ini secara cepat aja” imbuhnya
Aku cuman bengong saja lalu mb reni menyerbu bibirku lagi, kami berpagutan lama sejurus kemudian Mbak Reni kulihat melorotkan celananya hingga lutut dan melepas pagutan kami kemu dian berbalik badan dan sedikit membungkuk dengan kedua tangan bertumpu pada bibir sumur di dalam lamar mandi itu
“ayo Dek Doni, masukin kontolmu sekarang” katanya lirih
Aku tak terburu buru aku ingin merasakan aroma tempek mbak rina dulu maka dari itu bukanya langsung menancapkan kontolku tapi malah aku berjongkok dan segela mencium pantat serta menjilat kedua bongkahan nan indah itu, tak berhenti di situ lidahku juga menyeka seluruh bagiannya dari anusnya hingga tempeknya
“aaaahhhhh,,,dek kenapa di gituin,,,oowwwwhhhh” desahnya
Aku tak menggubrisnya aku tetap melakukan hal itu, lidahku tak hentinya keluar masuk tempek dan naik turun menyapu anus hingga tempeknya lagi,rasa asin dan gurih mulai ku kecap tanda bahwa Mbak Reni telah terangsang hebat setelah ku rasa cukup aku berdiri dan mengarahkan kontol ku ke tempek Mbak Reni yang sangat basah itu dan BLESHHHHZZZ kontolku masuk dengan mudahnya
Dengan irama lambat aku mulai melakukan efek maju mundur kontolku mulai seperti dipijit oleh tempek Mbak Reni akupun segera menambah tempo efek tadi dia mendesah sesekali menutup desahanya dengan tangan kirinya, tanganku tak diam begitusaja kedua tanganku itu aktif mencari buah dada Mbak Reni dan berhasil ternyata Mbak Reni tak memakai bh aku meremas kedua susunya sambil terus menyodoknya dari belakang
“aawhhhh,,,owhhhh,,, terus Dek Doni enak sekali kontolmu beda banget dengan mas agus” katanya
Aku malah mngerutkan dahi ku dengan tetap menggoyang Mbak Reni, aku mempercepat irama sodokan Mbak Reni tak tahan sambil terus menutup bibirnya dengan tangan kirinya itu lebih rapat, suara kecipak tempeknya kian terdengar indah di telingaku entah sudah berapa lama aku menyodoknya dengan kontolku, aku mulai ingin memuntahkan pejuhku
“oouwwwhhh,,,mbak aku mau keluar” bisikku
“mmmmmmhhhh,,,,sama, ya sudah keluarin saja bareng dek” desahnya
“ohh,,,ohhh,,,ohhhh dimana mbak ren” tambahku
“eemmmmhhh,,,aaahhhh,,,di dalam dong Dek Doni sayang” imbuhnya
Aku yang sudah berada di level ini sudah tak bisa berpikir untuk menimbang bagaimana kalo Mbak Reni hamil yang jelas aku semakin mempercepat sodokan di tempeknya, tempek Mbak Reni kian memijit da n seperti berkedut-kedut dan akhirnya akupun menumpahkan pejuhku did alam tempek Mbak Reni yang memang lebih nikmat dari istriku
“uuuaaahhhh,,,ooohhhh,,,oohhhh, aku keluaaaarrrr mbak rennnn” lenguhku panjang
“eeemmmmmhhhh,,,,anget bangeetttt Dek Doniiiii” desahnya
Aku tak segera mancabut kontolku dari dalam tempek Mbak Reni. Kurasakan kontolku berkedut dan tempek Mbak Reni pun juga demikian, 7 kali crot pejuhku di dalam tempeknya lalu Mbak Reni melapas ttempeknya dengan memajukan badan dan kembali berdiri seperti semula, kulihat Mbak Reni menyeka tempeknya dengan jari nya
“banyak sekali pejuhmu dek, hangat lagi, wah sedang subur pasti” kaytanya
“hihihi,,,” kekehku “hla mbak kalo hamil gimana tuh?” tambahku
“tenang mabak KB kok” jawabnya
Dia pun berjongkok untuk cebok aku masih berdiri sambil memeras sisa pejuhku dengan kontol yang masih tegang, memang kontolku tak langsung kempes karena seringnya minum jamu dan rajin olahraga dan lagi setiap ML bersama istri aku selalu nambah hingga 3 kali dalam sekali ML. Setelah dia selesai cebok diapin bangkit dan langsung memakai celananya deperti sediiakala lago dan membalikkan badanya
“loh masih ngaceng dek” katanya sambil melotot melihat kontolku
“ masih dong mbak, yuk lagi” kataku
“hebat ya,,,kok beda sih dengan mas agus” sambil memegang kontolku
“ayo Mbak Reni lagi, biasanya 3 kali kok” tambahku
“hahhh???,,,waduh di tahan ya bentar lagi pakdhe pulang kok” katanya
Diapun melepas pegangan kontol dan mencium bibirku lalu segera keluar dari kamar mandi dengan perlahan, aku masih tegang tapi aku segera membasuh kontolku denagn setelah itu aku memakai celanaku dan keluar dari kamar mandi dan kembali ke ruang tamu, aku sanagt terkejut karean pakdhe sudah pulang dari mushola
“weeehh ada kamu toh, dari mana?” tanya pakdhe
“dari shalat pakdhe” jawabku dengan gugup rapi pasti
Kulihat pakdhe jiman menyulut batang rokoknya dan akupun duduk ditempat ku lagi, kami mengobrol panjang lebar, saat kami mengobrol budhe dan mabak reni pun ikut keluar dan ikut larut dalam obrolan, waktu kulihat suda jam 21:30 aku mengambil inisiatif untuk pamit kembali ke rumah ibu angkatku yang letaknya hanya 5 langkah dari rumah pakdhe jiman
“ya sudah saya pamit, mau tidur pakdhe”
“masih jam segini kok tidur, kan masi sore” canda pakdhe
“maklum kecapekan ya dek” tambah budhe
“hahaha,,,iya ini” kataku
Aku pun berdiri dan menjabat tangan pakdhe dan budhe, Mbak Reni mengantarku ke luar rumah pintu ku buka dan aku menncari sendalku karena Mbak Reni beralasan untuk mengambil sandal dia ikut keluar rumah berbarengan dengan pintu rumah yang menutup dengan sendirinya. Dia memelukku dari belakang dilanjutkan memegang kontolku.
“iihh masi ngaceng”
“iya lah, mbak ren sih gak mau ku sodok”
“lain kali ya, trus itu gimana” katanya
“ya tak buat tidur saja biar gak ngaceng”
Aku membalikan badan dan segera aku mengecup keningnya seperti aku mencium istriku sendiri. Mbak Reni memeluk erat sekali tubuhku kemudian melepasnya aku pun melangkahkan kaki untuk kembali masuk rumah orang tuaku di sebelah, aku pun langsung menuju kamarku dan langsung merebahkan tubuh dan membayangkan kejadian tadi hingga akhirnya tertidur,,, (masih bersambung)
Mungkin ini lah cerita pengalaman ku ngentot sodara sepeupu, semoga cerita ini membuat paara pembaca senang, tapi kisah- kisah ku bukan hanya ini loh masi banyak lagi yang lain yang jelas tunggu postingan saya karena kisah TERGODA ISTRI SEPUPU masih ada bagian kedua nya
Terima kasih dan salam CROOTTT untuk semuanya